Young On Top

Telinga Berdengung Terus? Bisa Jadi 7 Hal Ini Penyebabnya

Telinga Berdengung Terus? Bisa Jadi 7 Hal Ini Penyebabnya

Suara berdengung di telinga atau dalam istilah medis disebut tinnitus merupakan kondisi fungsional di mana seseorang mendengar suara seperti desis, siulan, atau dengungan padahal tidak ada sumber suara eksternal di sekitarnya. Tinnitus sebenarnya bukan sebuah penyakit, melainkan sinyal atau gejala bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi pada sistem pendengaran atau saraf yang menghubungkan telinga ke otak.

Baca Juga:

Telinga Berdengung Terus? Bisa Jadi 7 Hal Ini Penyebabnya

1. Paparan Suara Keras dalam Jangka Panjang

Penyebab paling umum dari telinga berdengung adalah kerusakan pada sel rambut halus di dalam telinga bagian dalam (koklea). Paparan suara bising dari mesin pabrik, konser musik, atau penggunaan earphone dengan volume tinggi secara terus-menerus dapat memicu kerusakan permanen pada sel-sel ini. Akibatnya, saraf pendengaran mengirimkan sinyal listrik yang salah ke otak, yang kemudian diterjemahkan sebagai suara berdengung.

2. Akumulasi Kotoran Telinga (Serumen)

Kotoran telinga yang menumpuk dan mengeras dapat menyumbat saluran telinga. Sumbatan ini tidak hanya menurunkan kemampuan pendengaran, tetapi juga dapat menekan gendang telinga atau mengiritasi lapisan saluran telinga. Tekanan fisik ini sering kali memicu munculnya suara dengungan secara konstan sampai kotoran tersebut dibersihkan secara medis.

3. Faktor Usia (Presbikusis)

Seiring bertambahnya usia, biasanya dimulai pada umur 60 tahun ke atas, fungsi pendengaran akan mengalami penurunan secara alami. Penurunan sensitivitas saraf pendengaran ini sering disertai dengan tinnitus. Kondisi ini bersifat sistematis dan biasanya terjadi pada kedua telinga secara bersamaan seiring dengan berkurangnya kemampuan menangkap frekuensi suara tinggi.

4. Efek Samping Penggunaan Obat-obatan Tertentu

Beberapa jenis obat memiliki sifat ototoksik, yang berarti dapat merusak struktur sel di dalam telinga. Obat-obatan seperti antibiotik dosis tinggi, obat antimalaria, hingga penggunaan aspirin dalam jumlah besar secara rutin dapat memicu atau memperparah tinnitus. Biasanya, dengungan akan berkurang atau hilang jika penggunaan obat tersebut dihentikan atau dosisnya disesuaikan oleh dokter.

5. Ketegangan Otot di Area Rahang dan Leher

Telinga memiliki letak yang sangat dekat dengan sendi rahang (TMJ) dan otot-otot leher. Jika kamu sering mengalami ketegangan otot leher atau memiliki kebiasaan menggeretakkan gigi (bruxism), saraf di sekitar area tersebut bisa teriritasi. Gangguan pada sendi rahang dapat memengaruhi ligamen dan tulang kecil di dalam telinga, yang berujung pada munculnya sensasi berdengung.

6. Perubahan Tekanan Darah dan Masalah Vaskular

Tinnitus pulsatile adalah jenis dengungan yang seirama dengan detak jantung. Hal ini biasanya berkaitan dengan aliran darah di pembuluh darah dekat telinga. Tekanan darah tinggi, penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis), atau tumor pembuluh darah yang jinak dapat membuat aliran darah menjadi lebih turbulen. Suara aliran darah yang tidak lancar inilah yang kemudian terdengar sebagai dengungan oleh telinga.

7. Penyakit Meniere

Jika dengungan di telinga disertai dengan pusing berputar (vertigo) dan rasa penuh di dalam telinga, bisa jadi itu adalah tanda penyakit Meniere. Penyakit ini disebabkan oleh ketidakseimbangan tekanan cairan di dalam telinga bagian dalam. Gejala ini biasanya muncul dalam bentuk serangan mendadak dan membutuhkan penanganan medis khusus untuk menjaga keseimbangan tubuh dan fungsi pendengaran.

Meskipun telinga berdengung sering kali bersifat ringan dan bisa hilang dengan sendirinya, kamu perlu waspada jika dengungan terjadi secara terus-menerus hanya pada satu sisi telinga atau disertai rasa sakit yang hebat. Menghindari kebisingan ekstrem dan melakukan pembersihan telinga secara benar adalah langkah awal yang fungsional untuk menjaga kesehatan sistem pendengaranmu dalam jangka panjang.

 

Share the Post:

Most Reading