Young On Top

Kenapa Kita Lebih Mudah Marah saat Lapar? Ini 6 Penjelasan Ilmiahnya

Kenapa Kita Lebih Mudah Marah saat Lapar? Ini 6 Penjelasan Ilmiahnya

Istilah hangry yang merupakan gabungan dari kata hungry dan angry ternyata bukan sekadar perasaan subjektif, melainkan fenomena biologis yang nyata. Saat perut kosong dalam waktu lama, terjadi perubahan sistematis pada kimia otak dan hormon yang memengaruhi kontrol emosi. Berikut adalah penjelasan fungsional mengapa rasa lapar bisa membuat seseorang menjadi lebih mudah tersinggung dan marah.

Baca Juga:

Kenapa Kita Lebih Mudah Marah saat Lapar? Ini 6 Penjelasan Ilmiahnya

1. Penurunan Kadar Glukosa di Otak

Glukosa adalah bahan bakar utama bagi otak untuk menjalankan fungsinya, termasuk pengendalian diri. Bagian otak yang bernama korteks prefrontal bertanggung jawab untuk mengatur impuls dan emosi. Ketika kadar gula darah turun karena lapar, otak kekurangan energi untuk menahan dorongan emosional. Akibatnya, kamu menjadi sulit mengontrol kemarahan terhadap hal-hal kecil yang biasanya bisa kamu toleransi.

2. Pelepasan Hormon Stres (Adrenalin dan Kortisol)

Saat kadar glukosa darah mencapai ambang batas bawah, otak mengirimkan sinyal ke organ tubuh untuk melepaskan hormon guna meningkatkan kembali gula darah. Hormon yang dilepaskan adalah adrenalin dan kortisol. Kedua hormon ini secara fungsional berkaitan dengan respons lawan atau lari. Keberadaan hormon stres ini dalam aliran darah membuat tubuh berada dalam kondisi waspada dan lebih sensitif terhadap gangguan dari luar.

3. Kaitan Genetik antara Lapar dan Agresi

Rasa lapar dan kemarahan diatur oleh gen yang serupa. Salah satu contohnya adalah neuropeptida Y, yaitu zat kimia di otak yang dilepaskan saat tubuh merasa lapar. Zat ini bekerja pada berbagai reseptor di otak, termasuk yang mengatur perilaku agresif. Tingginya kadar neuropeptida Y saat lapar secara sistematis meningkatkan kecenderungan seseorang untuk bertindak lebih impulsif dan cepat marah.

4. Penurunan Kemampuan Kognitif

Lapar mengganggu kemampuan konsentrasi dan pemrosesan informasi. Saat fokus terganggu, tugas-tugas sederhana terasa menjadi lebih berat dan membingungkan. Frustrasi akibat menurunnya produktivitas ini kemudian beralih menjadi emosi negatif. Otak yang sedang lelah karena kurang nutrisi tidak memiliki kapasitas mental yang cukup untuk melakukan penalaran logis sebelum bereaksi secara emosional.

5. Mekanisme Bertahan Hidup Primitif

Secara evolusi, rasa lapar yang memicu kemarahan adalah mekanisme pertahanan hidup. Di masa lalu, makhluk hidup yang agresif saat lapar memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan makanan dan bertahan hidup dibandingkan mereka yang pasif. Meskipun saat ini kita hidup di lingkungan yang modern, respons primitif ini tetap tersimpan dalam sistem saraf kita sebagai bentuk perlindungan diri saat energi tubuh menipis.

6. Kesalahan Atribusi Emosi

Sering kali saat lapar, kita salah mengartikan ketidaknyamanan fisik sebagai kekesalan terhadap orang di sekitar kita. Ketegangan di perut dan rasa lemas membuat suasana hati menjadi buruk secara keseluruhan. Karena sulit untuk marah pada rasa lapar itu sendiri, otak secara otomatis mencari sasaran eksternal, seperti rekan kerja atau anggota keluarga, untuk melepaskan ketidaknyamanan yang sedang dirasakan.

Mengalami hangry adalah hal yang wajar karena berkaitan dengan kebutuhan dasar biologis manusia. Cara paling fungsional untuk mengatasinya adalah dengan segera mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat kompleks atau protein untuk menstabilkan gula darah secara bertahap. Dengan menjaga pola makan yang teratur, kamu tidak hanya menjaga kesehatan fisik tetapi juga stabilitas emosional dalam berinteraksi dengan orang lain.

 

Share the Post:

Most Reading