Mendengar kata startup di tahun 2026, yang terlintas di pikiran mungkin adalah deretan berita layoff (PHK) atau “Tech Winter” yang belum usai. Faktanya, total pendanaan dari Venture Capital (VC) memang mengalami penyesuaian drastis dibanding era pandemi yang serba jorjoran. Investor kini jauh lebih selektif. Mereka tidak lagi tergoda dengan strategi “bakar uang” demi mengejar jumlah pengguna.
Tapi, jangan pesimis dulu! Di tengah ketatnya seleksi alam ini, justru startup yang punya fundamental bisnis kuat, efisien, dan fokus pada isu nyata (seperti agritech, energi bersih, dan kesehatan) sukses mendapatkan kucuran dana segar. Penasaran siapa saja mereka? Yuk, simak 10 startup Indonesia yang berhasil menarik perhatian pemodal di periode 2025 hingga awal 2026 ini!
- 7 Jenis Startup yang Sering Rekrut Anak Sastra Korea
- 7 Benefit Kerja Unik yang Cuma Ada di Perusahaan Startup
Sektor Pangan, Fintech, dan Artificial Intelligence
1. Chickin (Agri-tech)
Startup budidaya unggas ini sukses membuktikan bahwa sektor ketahanan pangan sangat menjanjikan. Mereka berhasil mengamankan modal yang dilaporkan sekitar Rp250 miliar lewat skema pembiayaan utang (debt funding) dari Bank DBS. Inovasi mereka dalam menggunakan teknologi IoT (Internet of Things) untuk mengontrol iklim kandang ayam sukses memikat investor tingkat kakap.
2. GajiGesa (Fintech & HR)
Menyediakan layanan Earned Wage Access (akses penarikan gaji lebih awal) bagi karyawan, GajiGesa berhasil mencatatkan nilai pendanaan/akuisisi yang fantastis mencapai sekitaran US$12 juta (sekitar Rp188 miliar). Solusi mereka sangat relevan untuk membantu pekerja mengelola cash flow tanpa harus terjerat pinjaman online ilegal.
3. Skorlife (Fintech)
Edukasi soal kredit itu penting banget! Skorlife, aplikasi yang membantu masyarakat mengecek dan membangun skor kredit (seperti BI Checking) secara transparan, sukses mengantongi pendanaan kurang lebih US$6,2 juta (Rp95,3 miliar) dalam putaran pra-Seri A. Pemodalan ini dipimpin oleh Argor Capital.
4. Bythen (AI & Web3)
Sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) masih menjadi primadona global. Bythen, startup yang bergerak di ranah pengembangan ekosistem AI dan aset digital, berhasil mengamankan pendanaan sekitar US$5 juta. Ini membuktikan bahwa talenta teknologi tingkat lanjut buatan anak bangsa punya daya saing tinggi.
5. Elevarm (Agri-tech)
Lagi-lagi dari sektor pertanian! Elevarm, startup yang fokus pada pemberdayaan petani lokal dan efisiensi rantai pasok komoditas agrikultur, sukses meraih pendanaan sebesar kurang lebih US$4,25 juta. Di era krisis iklim, isu stabilitas pangan memang selalu menjadi magnet bagi para investor yang mencari dampak jangka panjang.
6. Banyu (Clean-tech)
Sektor teknologi bersih (clean-tech) perlahan mulai merajai panggung pendanaan. Startup Banyu berhasil mendapatkan kucuran dana dengan kurang lebih US$1,25 juta. Menggarap sektor pengelolaan dan efisiensi lingkungan menunjukkan bahwa model bisnis yang berkelanjutan (sustainable) kini jauh lebih dilirik dibanding sekadar aplikasi gaya hidup.
Era Emas Startup Climate Tech dan Transisi Energi
Selain pendanaan jutaan dolar di atas, periode ini juga ditandai dengan kemenangan startup-startup lokal di ajang pendanaan energi bersih global (seperti New Energy Nexus dan KINETIK NEX yang didukung pemerintah Australia). Mereka mendapatkan modal percontohan untuk proyek transisi hijau di Indonesia, di antaranya:
7. Difabike (Mobility & Social Impact)
Startup asal Yogyakarta ini menghadirkan layanan transportasi taksi motor listrik roda tiga yang khusus dirancang dan dikemudikan oleh penyandang disabilitas. Sebuah inovasi kendaraan listrik (EV) yang inklusif dan memberikan dampak sosial luar biasa!
8. Nusacube (Renewable Energy)
Punya misi mendistribusikan ketahanan logistik, Nusacube menggunakan energi terbarukan untuk memproduksi balok es dan air bersih bagi komunitas nelayan di wilayah Indonesia Timur. Hal ini memastikan hasil tangkapan laut warga tetap segar hingga tiba di pasar.
9. Sumba Solusi Alam (Clean-tech)
Fokus pada elektrifikasi daerah terluar, startup ini mendapatkan kucuran dana karena inovasinya dalam mendistribusikan sumur bertenaga surya. Solusi ini digunakan untuk menyalakan lampu darurat dan mengisi daya ponsel di desa-desa Sumba yang belum sepenuhnya terjangkau jaringan listrik utama.
10. Energi Timur Nusa Power (Climate-tech)
Berfokus langsung pada proyek transisi energi bersih dan infrastruktur hijau untuk masyarakat lokal. Kehadiran startup energi seperti mereka menjadi bukti nyata bahwa ekosistem climate-tech adalah “kuda hitam” baru di lanskap investasi Indonesia tahun ini.
Era bakar uang sudah resmi tamat. Di tahun 2026, startup tidak dinilai dari seberapa sering mereka masuk berita, tapi seberapa sehat unit economics mereka. Kalau produknya benar-benar menyelesaikan masalah dan bisa mencetak profit, pendanaan pasti akan datang dengan sendirinya.