Young On Top

ViSi Smart Glass Mark 3: Kacamata AR Canggih Buatan Indonesia yang Menerjemahkan Suara Menjadi Bahasa Isyarat

ViSi Smart Glass Mark 3: Kacamata AR Canggih Buatan Indonesia yang Menerjemahkan Suara Menjadi Bahasa Isyarat

Selama puluhan tahun, fiksi ilmiah menyuguhkan kita mimpi tentang kacamata pintar ala Iron Man yang bisa menampilkan data digital langsung di depan mata. Namun, di tangan inovator muda Indonesia, teknologi ini bukan sekadar alat untuk terlihat keren, melainkan jembatan harapan bagi jutaan teman Tuli.

Voice in Silence (ViSi), sebuah startup teknologi sosial yang didirikan oleh Achmad Ichsan (akrab disapa Uncle Isan) dan timnya, baru saja memperkenalkan pembaruan signifikan pada perangkat mereka, ViSi Smart Glass Prototype Mark 3.

Jika sebelumnya dunia teknologi asistif hanya berfokus pada alat bantu dengar konvensional (amplifikasi suara), ViSi mengambil pendekatan visual radikal “Jika telinga tidak bisa mendengar, biarkan mata yang mengambil alih.”

Baca Juga:

Masalah Klasik: Tembok Komunikasi yang Tak Terlihat

Bagi teman Tuli, hidup di dunia yang didominasi oleh suara adalah tantangan konstan. Kesalahpahaman sering terjadi karena keterbatasan metode komunikasi konvensional. Mengandalkan lip reading (membaca gerak bibir) memiliki tingkat akurasi yang rendah, apalagi jika lawan bicara berbicara cepat, memakai masker, atau membelakangi.

Solusi digital seperti aplikasi Speech-to-Text di ponsel memang membantu, namun kurang manusiawi. Teman Tuli harus terus-menerus menunduk melihat layar HP, memutus kontak mata dengan lawan bicara, sehingga esensi “mengobrol” menjadi hilang.

Solusi Mark 3: Menerjemahkan Suara ke dalam Hologram Isyarat

Di sinilah letak kejeniusan ViSi Smart Glass Mark 3. Kacamata ini dirancang sebagai wearable device berbasis Augmented Reality (AR) yang transparan. Fitur kunci yang menjadi sorotan pada prototipe Mark 3 ini adalah kemampuan Voice-to-Sign Language. Berbeda dengan versi pendahulunya yang mungkin hanya menampilkan teks berjalan (live captioning), versi terbaru ini selangkah lebih maju dengan menghadirkan visualisasi bahasa isyarat.

Cara kerjanya menggabungkan beberapa lapisan teknologi canggih:
  • Input Audio: Mikrofon sensitif pada bingkai kacamata menangkap suara lawan bicara (Teman Dengar) secara real-time.
  • AI Processing: Algoritma kecerdasan buatan memproses audio tersebut, memecahnya menjadi struktur bahasa, dan mencocokkannya dengan database gerakan isyarat.
  • Output AR: Di lensa kacamata, pengguna akan melihat proyeksi digital berupa Avatar Tangan 3D atau teks yang menerjemahkan ucapan tersebut.

Hasilnya? Teman Tuli bisa mendengar percakapan melalui matanya. Avatar tangan tersebut muncul melayang di udara (hologram) tanpa menghalangi pandangan ke dunia nyata, memungkinkan pengguna tetap menjaga kontak mata dengan lawan bicaranya.

Ekosistem Komunikasi Dua Arah yang Utuh

Inovasi Mark 3 ini bukanlah produk yang berdiri sendiri, melainkan kepingan puzzle yang melengkapi ekosistem teknologi inklusif Voice in Silence. Sebelumnya, startup ini telah dikenal luas berkat ViSi Smart Gloves (Sarung Tangan Pintar).

Kedua perangkat ini bekerja bak pasangan yang serasi untuk menciptakan komunikasi dua arah (Two-Way Communication) yang sempurna:

  • Smart Gloves: Digunakan oleh teman Tuli untuk berbicara. Sarung tangan ini menerjemahkan gerakan tangan pengguna menjadi suara (audio) agar orang dengar bisa mengerti.
  • Smart Glass Mark 3: Digunakan oleh teman Tuli untuk mendengar. Kacamata ini menerjemahkan suara orang dengar menjadi visual isyarat atau teks agar teman Tuli bisa mengerti.

Dengan ekosistem ini, hambatan bahasa benar-benar diruntuhkan. Tidak ada lagi ketergantungan pada juru bahasa isyarat manusia untuk percakapan sehari-hari yang kasual.

Masa Depan Inklusivitas Teknologi Indonesia

Kehadiran ViSi Smart Glass Mark 3 membuktikan bahwa insinyur dan inovator Indonesia mampu bersaing di ranah Deep Tech dan Wearable AI. Meski saat ini masih dalam tahap pengembangan prototipe, potensi aplikasinya sangat luas. Bayangkan jika kacamata ini tersedia di loket pelayanan rumah sakit, kantor polisi, atau ruang kelas sekolah umum. Seorang dokter bisa menjelaskan diagnosa kepada pasien Tuli tanpa hambatan, dan seorang guru bisa mengajar murid Tuli tanpa perlu penerjemah khusus di sampingnya.

Teknologi sejatinya bukan hanya tentang kecepatan prosesor atau kecanggihan layar, melainkan tentang seberapa besar dampak yang diberikannya pada kemanusiaan. Voice in Silence telah membuktikan bahwa teknologi canggih bisa menjadi alat yang memanusiakan manusia, memberikan hak dasar untuk berkomunikasi bagi semua orang tanpa terkecuali.

Most Reading