Young On Top

Menulis Itu Skill Mahal! 7 Cara Membangun Portofolio Tulisan dari Nol

Pernah nggak sih kamu merasa insecure pas mau melamar kerja jadi Content Writer atau Copywriter? Masalah utamanya, lowongan minta pengalaman, tapi kamu butuh kerjaan buat dapet pengalaman. Lingkaran yang bikin pusing, kan? Padahal, menulis itu salah satu high-income skill di era digital ini. Modal ngetik doang bisa jadi cuan gede kalau kamu tahu caranya. Kabar baiknya, kamu nggak perlu nunggu dapet klien pertama buat punya portofolio.

Berikut adalah 7 langkah taktis membangun portofolio tulisan dari nol yang dirangkum dari panduan Jobstreet dan standar industri kreatif.

Baca Juga:

7 Langkah Taktis Membangun Portofolio Tulisan dari Nol

1.Mulai dari Karya yang Kamu Punya

Banyak pemula berpikir portofolio itu harus berisi karya yang sudah terbit di media besar. Salah besar! Kamu bisa mulai dengan mengumpulkan tugas-tugas kuliah, esai, atau bahkan caption Instagram yang pernah kamu buat. Kalau kamu mahasiswa, makalah atau proposal kegiatan organisasi itu bisa jadi bukti kemampuan riset dan menulismu. Jangan remehkan tulisan sendiri, yang penting relevan dengan bidang yang kamu lamar.

2. Jangan Asal Tempel, Gunakan Struktur yang Jelas

Portofolio yang berantakan bikin HRD malas baca. Menurut Jobstreet, ada urutan yang bisa dilakukan biar portofoliomu terlihat profesional:

  • Informasi Pribadi & Kontak: Pastikan nama, email, dan link LinkedIn kamu jelas.
  • Ringkasan Diri: Tulis satu paragraf singkat tentang siapa kamu dan apa tujuan kariermu.
  • Karya Terbaik: Ini menu utamanya. Pilih karya yang paling membanggakan, jangan masukkan semuanya.

3. Tunjukkan Prosesnya, Bukan Cuma Hasil Akhir

Ini rahasia biar portofolio kamu beda dari yang lain. Jangan cuma tempel screenshot tulisan atau link artikel. Berikan konteks! Jelaskan peranmu di situ. Apa masalahnya? Apa solusinya? Dan bagaimana proses kamu mengerjakannya. Misalnya, saat membuat headline, jelaskan kenapa kamu memilih kata-kata tersebut. Ini menunjukkan Creative Thinking dan kemampuan Problem Solving kamu kepada perekrut.

4. Pamerkan Skill Teknis yang Spesifik

Menulis itu luas. Biar nilai jualmu naik, cantumkan skill spesifik yang relevan di bagian “Keterampilan dan Kemampuan”. Berdasarkan materi industri kreatif, skill yang mahal itu meliputi:

  • Basic Writing Skills: Pemahaman tata bahasa (grammar) dan kosa kata yang kuat.
  • Proofreading: Kemampuan memastikan tulisan bebas typo dan enak dibaca.
  • Research: Kemampuan meriset topik, kompetitor, dan audiens sebelum menulis.
  • SEO Knowledge: Ini nilai plus banget!

5. Manfaatkan Platform Digital Gratis

Zaman sekarang, portofolio fisik sudah mulai ditinggalkan. Kamu bisa mempublikasikan tulisanmu di platform gratis seperti Medium, LinkedIn, atau blog pribadi. Selain mudah diakses oleh recruiter, ini juga menunjukkan kalau kamu melek teknologi. Pastikan tampilan atau formatnya rapi, ya!

6. Sertakan Sertifikat atau Pelatihan

Pernah ikut kursus online soal SEO atau Copywriting? Masukkan itu ke dalam portofolio! Mencantumkan riwayat pelatihan non-formal menunjukkan bahwa kamu adalah orang yang mau belajar (growth mindset) dan punya dasar teori yang kuat, meskipun belum banyak pengalaman kerja.

7. Kurasi Karya Terbaik (Kualitas > Kuantitas)

Jangan tergiur untuk memasukkan 50 tulisan tapi kualitasnya biasa saja. Lebih baik masukkan 5-10 tulisan tapi benar-benar “daging” dan menunjukkan variasi gaya penulisanmu. Misalnya, satu contoh artikel blog (SEO), satu contoh copy iklan (Copywriting), dan satu contoh caption media sosial. Ini menunjukkan kalau kamu fleksibel dan bisa beradaptasi dengan berbagai format.

Portofolio adalah senjata utamamu untuk menembus dunia kerja. Nggak perlu nunggu sempurna, yang penting mulai dulu. Rapikan arsip tugasmu, tulis ulang dengan angle yang lebih menarik, dan kemas dalam format yang profesional. Ingat, penulis profesional pun dulunya adalah pemula yang berani memulai. Yuk, bangun portofoliomu sekarang!

Most Reading