Young On Top

Kerja Sesuai Passion vs Kerja Realistis: Mana Pilihanmu?

“Pilihlah pekerjaan yang kamu cintai, maka kamu tidak akan merasa bekerja seumur hidup.” Kutipan klasik itu sering banget kita dengar di seminar motivasi. Terdengar indah, ya? Tapi pas lihat tagihan kost, cicilan motor, dan harga kopi kekinian yang makin mahal, rasanya kutipan itu jadi kurang relevan.

Di era sekarang, kita sering dihadapkan pada dua kubu besar, Tim Idealis (Kerja Sesuai Passion) dan Tim Realistis (Kerja Demi Cuan). Perdebatan ini nggak ada habisnya dan sering bikin overthinking.

Sebenarnya, mana sih yang lebih baik buat masa depanmu? Yuk, kita bedah satu per satu secara jujur!

Baca Juga:

Tim Passion

Bagi kubu ini, kepuasan batin adalah segalanya. Kerja itu bukan cuma soal uang, tapi soal aktualisasi diri.

  • Plus-nya: Kamu bangun pagi dengan semangat. Tingkat stres biasanya lebih rendah karena kamu menikmati prosesnya. Potensi karir melesat cepat karena kamu rela go the extra mile tanpa disuruh.
  • Minus-nya: “Passion tax” itu nyata. Seringkali bidang kreatif atau sosial yang penuh passion bayarannya di awal sangat kecil. Risiko terbesarnya adalah Burnout. Ketika hobi dijadikan pekerjaan utama dan dituntut target, rasanya bisa berubah dari “menyenangkan” jadi “beban”.

Tim Realistis

Kubu ini berprinsip: “Kerja itu buat cari duit, hobi itu urusan nanti.” Mereka memilih stabilitas dan jenjang karir yang jelas.

  • Plus-nya: Keuangan stabil, bisa menabung, investasi, dan merencanakan masa depan dengan tenang. Kamu bisa beli apa yang kamu mau dan membiayai hobimu di akhir pekan.
  • Minus-nya: Ancaman rasa bosan dan stuck. Kalau lingkungan kerjanya toxic atau pekerjaannya monoton, kamu bakal sering kena Monday Blues (benci hari Senin). Hidup terasa seperti robot: Kerja -> Pulang -> Tidur -> Ulangi.

Jalan Tengah: The Hybrid Strategy

Sebenarnya, kamu nggak harus memilih hitam atau putih. Ada opsi ketiga yang sering diambil oleh orang-orang sukses, yaitu Kompromi Strategis.

  • Jadikan Pekerjaan Realistis sebagai “Investor”: Ambil pekerjaan yang gajinya oke (meski tidak terlalu sesuai passion), lalu gunakan gajinya untuk memodalimu mengejar passion di luar jam kerja. Misalnya: Siang jadi staf admin, malam jadi konten kreator atau musisi.
  • Pivot Pelan-Pelan: Mulailah dengan kerja realistis untuk membangun safety net (tabungan). Setelah tabungan cukup buat hidup 6-12 bulan, baru deh banting setir ke pekerjaan impianmu. Ini jauh lebih aman daripada modal nekat.

Kapan Harus Pilih Passion?

  • Jika kamu masih muda, tanggungan finansial minim (belum menikah/punya anak).
  • Jika kamu punya skill di atas rata-rata di bidang tersebut.
  • Jika kamu siap hidup hemat di awal karir demi portofolio.

Kapan Harus Pilih Realistis?

  • Jika kamu adalah generasi sandwich atau tulang punggung keluarga.
  • Jika kamu butuh modal besar untuk tujuan tertentu (nikah, beli rumah).
  • Jika passion-mu belum bisa menghasilkan uang yang cukup untuk kebutuhan dasar.

Tidak ada yang salah dengan menjadi realistis, dan nggak ada yang salah dengan mengejar mimpi. Yang salah adalah memaksakan diri mengejar passion tapi mengeluh soal uang, atau memilih kerja realistis tapi mengeluh soal kebahagiaan.

Pilihlah “medan perang” yang sanggup kamu hadapi risikonya. Kalau hari ini kamu memilih realistis, bukan berarti kamu mengubur mimpimu selamanya. Kamu cuma menundanya sebentar untuk fondasi yang lebih kuat. It’s okay!

Most Reading