Pernah nggak sih kamu merasa seharian lari sana-sini, meeting berturut-turut, ngerjain tugas organisasi sampai begadang, tapi pas mau tidur ngerasa “Hari ini aku ngapain aja ya? Kok kayaknya nggak ada yang beres?” Kalau jawabannya “iya”, tenang, kamu nggak sendirian. Di era serba cepat ini, banyak dari kita yang terjebak dalam ilusi kesibukan. Kita merasa kalau nggak sibuk, berarti kita nggak produktif. Padahal, realitanya sibuk itu beda banget sama produktif.
Fenomena ini sering disebut sebagai Pseudo-Productivity atau produktivitas semu. Biar kamu nggak terjebak terus-terusan, yuk kita bedah alasannya berdasarkan fakta ilmiah dan sosial!
Baca Juga:
- 10 Rahasia Orang Produktif yang “Kayak Selalu Dapet Jalan”
- 10 Kebiasaan Produktif yang Relevan di Tahun 2026
1. Jebakan “Pseudo-Productivity” Terlihat Sibuk, Padahal Kosong
Banyak orang bangga banget kalau jadwalnya padat. Di kampus atau kantor, orang yang pulang paling malam sering dianggap paling berdedikasi. Padahal, sibuk itu belum tentu menghasilkan output yang berkualitas. Ini yang disebut paradoks kerja di era modern. Kita sering melakukan hal-hal yang terlihat seperti “kerja” (balas email secepat kilat, ikut rapat yang sebenernya bisa lewat chat, atau multitasking), tapi sebenarnya kita cuma membuang energi mental tanpa hasil yang signifikan.
2. Tekanan Sosial
Sadar nggak sadar, budaya kita mengagungkan kesibukan sebagai simbol kesuksesan. Terutama di kalangan mahasiswa modern, jadwal kuliah yang dipadati organisasi dan kerja paruh waktu sering dijadikan tolak ukur keberhasilan. Ada tekanan sosial (social pressure) dari teman, keluarga, atau media sosial yang menuntut kita untuk selalu terlihat aktif. Akibatnya, istirahat malah dianggap sebagai tanda malas. Padahal, mentalitas ini justru berbahaya karena bikin kita bekerja tanpa arah yang jelas.
3. Multitasking Justru Membunuh Fokusmu
Kamu mungkin merasa keren bisa ngerjain tugas sambil bales chat grup dan dengerin podcast. Tapi secara ilmiah, studi ergonomi dan psikologi kerja menunjukkan bahwa multitasking justru menurunkan efisiensi kognitif otak kita. Alih-alih produktif, otak kamu malah kelelahan karena harus berpindah-pindah fokus terus menerus. Hasilnya? Kerjaan jadi lama kelarnya dan kualitasnya standar banget.
4. Lupa Kalau “Baterai” Manusia Ada Batasnya
Penelitian menunjukkan bahwa produktivitas marginal tenaga kerja akan menurun drastis ketika seseorang kelelahan. Artinya, memaksakan diri kerja lembur itu seringkali cuma buang-buang waktu karena otakmu sudah nggak mampu mikir jernih. Mahasiswa atau pekerja yang aktivitasnya terlalu tinggi tanpa jeda istirahat cenderung mengalami gangguan tidur, penurunan fokus, hingga risiko stres kronis. Jadi, begadang tiap hari itu bukan prestasi, tapi tanda manajemen waktu yang buruk.
Solusi yang Dapat dilakukan Meliputi
Terus gimana biar beneran produktif?
- Sadari prioritas: Prestasi sejati itu bukan diukur dari seberapa banyak hal yang kamu kerjakan, tapi seberapa bermakna hal yang kamu pilih untuk dilakukan.
- Normalisasi istirahat: Keseimbangan adalah kunci. Mahasiswa atau pekerja yang tahu kapan harus berhenti istirahat justru terbukti punya performa yang lebih stabil dan bahagia.
- Fokus pada kualitas: Geser fokusmu dari sekadar menghabiskan jam kerja panjang menjadi manajemen energi dan fokus.
Menjadi produktif itu bukan tentang siapa yang paling sibuk, tapi siapa yang paling sadar akan apa yang dikerjakannya. Jangan sampai hidupmu habis cuma buat kelihatan “sibuk” di mata orang lain, tapi hampa di dalam.
Yuk, mulai kurangi multitasking kalau itu jadi tekanan yang memberatkan mu, atur prioritas, dan jangan lupa napas.