Young On Top

Kenapa Child Grooming Masih Dinormalisasikan di Indonesia? Ini Fakta yang Harus Kamu Tahu

Kenapa Child Grooming Masih Dinormalisasikan di Indonesia? Ini Fakta yang Harus Kamu Tahu

Child grooming masih jadi isu serius di Indonesia, tapi sayangnya belum semua orang menganggap ini sebagai masalah besar. Bahkan, sebagian masyarakat justru menormalisasikan perilaku ini. Padahal, dampaknya bisa sangat merusak, terutama buat anak dan remaja. Kisah nyata seperti yang diceritakan Aurelie dalam buku Broken Strings yang lagi viral jadi bukti kalau child grooming itu nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Baca juga:

Kenapa Child Grooming Masih Dinormalisasikan di Indonesia? Ini Fakta yang Harus Kamu Tahu

Apa Itu Child Grooming?

Child grooming adalah proses ketika orang dewasa membangun kedekatan emosional dengan anak di bawah umur untuk memanipulasi, mengontrol, dan akhirnya mengeksploitasi korban. Proses ini biasanya berlangsung pelan-pelan, halus, dan sering nggak disadari oleh korban maupun orang di sekitarnya.

Kurangnya Edukasi Jadi Alasan Utama

Masih banyak orang yang belum paham apa itu child grooming dan bahayanya. Karena minim edukasi, grooming sering disalahartikan sebagai perhatian, kasih sayang, atau hubungan biasa. Akibatnya, tanda-tanda awal justru dianggap hal wajar.

Budaya Taat pada Orang Dewasa yang Disalahgunakan

Sejak kecil, anak-anak diajarin buat patuh sama orang yang lebih tua. Sayangnya, nilai ini sering dimanfaatkan pelaku grooming. Anak jadi takut nolak, takut dibilang kurang sopan, dan akhirnya terjebak dalam relasi yang nggak sehat.

Victim Blaming Masih Dianggap Normal

Saat korban berani bicara, nggak sedikit yang malah menyalahkan mereka. Mulai dari cara berpakaian sampai sikap sehari-hari jadi bahan pertanyaan. Dalam buku Broken Strings, Aurelie juga menceritakan betapa beratnya beban mental yang dia rasakan karena lingkungan justru membuatnya merasa bersalah atas apa yang terjadi.

Perbedaan Usia Jauh Masih Dianggap Biasa

Sebagian masyarakat masih menganggap hubungan beda usia itu sah-sah aja selama “sama-sama mau”. Padahal, kalau melibatkan anak di bawah umur, relasi ini jelas timpang secara emosional dan psikologis. Anak belum punya kemampuan penuh buat memahami manipulasi yang terjadi.

Grooming Sering Dibungkus sebagai Bentuk Perhatian

Pelaku grooming jarang terlihat mencurigakan di awal. Mereka sering tampil sebagai sosok yang pengertian, peduli, dan selalu ada. Hal ini bikin banyak orang lengah dan menganggap perilaku tersebut normal.

Grooming Nggak Selalu Soal Fisik

Masih banyak yang mengira grooming cuma soal sentuhan fisik. Padahal, manipulasi emosional, kontrol, dan ketergantungan psikologis juga bentuk kekerasan. Broken Strings membuka mata banyak pembaca bahwa luka mental bisa bertahan sangat lama.

Korban Takut Bersuara karena Stigma

Banyak korban memilih diam karena takut dianggap membawa aib keluarga atau takut nggak dipercaya. Akhirnya, kasus grooming terus berulang dan dinormalisasikan karena pelaku merasa aman.

Buku Broken Strings Jadi Alarm Penting

Lewat kisah hidupnya, Aurelie menunjukkan bahwa child grooming bisa terjadi ke siapa aja, bahkan di usia 15 tahun. Buku Broken Strings yang kini viral jadi pengingat keras bahwa normalisasi grooming harus segera dihentikan.

Saatnya Berhenti Menormalisasikan Child Grooming

Child grooming bukan hal sepele dan nggak bisa dianggap wajar. Semakin lama dinormalisasi, semakin banyak anak yang jadi korban. Sekarang saatnya kamu lebih peka, berani bersuara, dan ikut menciptakan lingkungan yang aman buat anak-anak.

Most Reading