Pernah ga kamu sedang mengobrol dengan teman di sebuah kafe yang baru pertama kali kamu kunjungi. Tiba-tiba, kamu terdiam. “Tunggu sebentar… Aku pernah mengalami ini. Persis seperti ini. Posisi dudukmu, lagu yang diputar, sampai kucing yang lewat di jendela.” Perasaan itu begitu kuat, seolah kamu bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, sedetik kemudian, perasaan itu hilang. Inilah Déjà Vu. Berasal dari bahasa Prancis yang berarti “Sudah Pernah Dilihat”.
Sekitar 60-70% manusia pernah mengalaminya, terutama di usia 15-25 tahun. Banyak yang mengaitkannya dengan kehidupan masa lalu atau kemampuan meramal. Namun, sains punya penjelasan yang lebih logis, otakmu sedang mengalami “korsleting” atau glitch sesaat. Berikut adalah 3 teori ilmiah terkuat yang menjelaskan kenapa Déjà Vu bisa terjadi.
1. Teori Split Perception (Otak yang Ngelag)
Ini adalah penjelasan paling sederhana. Bayangkan otakmu seperti komputer yang menerima data dari dua kabel (misalnya, mata kiri dan mata kanan). Idealnya, kedua kabel mengirim data secara bersamaan. Namun, karena kelelahan atau gangguan fokus, salah satu sinyal sampai sedikit lebih lambat (dalam hitungan mikrodeli).
- Sinyal 1 masuk: Otak memprosesnya sebagai kejadian sekarang.
- Sinyal 2 masuk (telat sedikit): Karena isinya sama persis dengan Sinyal 1 yang baru saja masuk, otak salah mengira Sinyal 2 ini sebagai memori lama.
Akibatnya, kamu merasa sedang mengingat kejadian tersebut, padahal kamu baru saja melihatnya sepersekian detik yang lalu. Ini murni masalah timing pemrosesan sensorik.
2. Teori Memory Mismatch
Otak memiliki dua jenis penyimpanan memori utama:
- Memori Jangka Pendek (RAM): Untuk kejadian yang sedang berlangsung.
- Memori Jangka Panjang (Hard Disk): Untuk arsip masa lalu.
Normalnya, informasi masuk ke Jangka Pendek dulu, baru disimpan ke Jangka Panjang. Saat Déjà Vu terjadi, diduga ada kebocoran sirkuit di Hippocampus (pusat memori). Informasi kejadian sekarang melompat langsung masuk ke Memori Jangka Panjang tanpa melewati proses sadar. Jadi, saat kamu sadar akan momen itu, otakmu mengecek database dan berkata “Lho, data ini kok sudah ada di folder Arsip Lama?” Padahal, data itu baru saja masuk sedetik yang lalu lewat jalur belakang. Kamu merasa itu kenangan masa lalu, padahal itu rekaman baru yang salah tempat.
3. Teori Familiarity (Kemiripan Pola)
Teori ini berkaitan dengan Gestalt Psychology. Otak kita sangat suka mencari pola. Mungkin kamu belum pernah ke kafe tersebut. Tapi, susunan kursinya, bau kopinya, atau pencahayaannya sangat mirip dengan kafe lain yang pernah kamu kunjungi saat kecil. Otakmu mengenali pola atau tata letak tersebut (familiarity), tapi gagal memanggil detail spesifik memori aslinya. Akibatnya, timbul perasaan akrab yang samar. Kamu merasa kenal situasinya, tapi tidak bisa menunjuk kapan dan di mana kejadian aslinya. Otakmu menambal kebingungan ini dengan sensasi Déjà Vu.
Apakah Déjà Vu Berbahaya?
Bagi mayoritas orang, Déjà Vu adalah tanda bahwa otakmu sehat dan sedang bekerja keras mencocokkan ingatan. Ini sering terjadi saat kamu:
- Kurang tidur (sleep deprived).
- Sedang stres tinggi.
- Banyak mengonsumsi kafein.
Namun, jika Déjà Vu terjadi sangat sering (misalnya beberapa kali sehari) dan disertai pusing, mual, atau halusinasi, itu bisa menjadi indikator gangguan neurologis seperti epilepsi lobus temporal. Tapi kasus ini sangat jarang.
Déjà Vu bukanlah fenomena supranatural. Itu hanyalah pengingat lucu bahwa otak manusia, secanggih apa pun, kadang bisa terpleset saat memproses realitas. Jadi, nikmati saja sensasi aneh itu sebagai tanda bahwa sistem memori di kepalamu sedang melakukan refresh atau update software.