Kasus child grooming makin sering terungkap, apalagi sejak buku Broken Strings karya Aurelie lagi viral. Buku ini ngebuka mata banyak orang tentang kisah hidup Aurelie yang jadi korban child grooming sejak umur 15 tahun. Lewat ceritanya, kita jadi sadar kalau korban grooming itu nggak selalu langsung merasa dirinya korban. Justru, banyak yang terjebak secara emosional dan butuh waktu panjang buat sadar.
Nah, kalau kamu peduli dan pengen bantu, ini beberapa cara menyadarkan korban child grooming tanpa bikin mereka makin tertekan.
Baca juga:
- Cara Menolong Korban Child Grooming dengan Empati dan Tindakan Nyata
- Kenapa Child Grooming Masih Dinormalisasikan di Indonesia? Ini Fakta yang Harus Kamu Tahu
Cara Menyadarkan Korban Child Grooming dengan Empati dan Aman
1. Jangan Langsung Menyalahkan Korban
Hal paling penting: jangan menghakimi. Kalimat kayak “kok kamu mau sih?” atau “harusnya kamu nolak” justru bikin korban nutup diri. Grooming itu manipulasi halus, bukan kesalahan korban. Di Broken Strings, Aurelie juga cerita gimana dirinya merasa bersalah padahal dia yang dimanipulasi.
2. Bangun Rasa Aman dan Percaya
Korban grooming biasanya takut kehilangan “figur” yang mereka anggap penting. Kamu perlu hadir sebagai orang yang aman dan konsisten. Dengerin cerita mereka tanpa nyela, tanpa maksa, tanpa sok paling tahu.
3. Pelan-Pelan Jelasin Apa Itu Child Grooming
Jangan langsung bilang, “kamu korban grooming.” Lebih baik jelasin ciri-cirinya secara umum:
-
Pelaku jauh lebih dewasa
-
Sering minta rahasia
-
Ngasih perhatian berlebihan
-
Bikin korban tergantung secara emosional
Biar mereka menyadari sendiri, bukan merasa dituduh.
4. Validasi Perasaan Mereka
Korban grooming sering ngerasa sayang, bingung, atau takut kehilangan. Itu normal. Kamu bisa bilang, “perasaan kamu valid,” tapi tetap tegas kalau perilaku pelaku itu salah. Aurelie juga menggambarkan konflik batin ini dengan jujur di bukunya.
5. Tunjukin Contoh Nyata yang Relevan
Kadang korban baru sadar setelah baca atau denger pengalaman orang lain. Buku Broken Strings bisa jadi contoh nyata kalau grooming itu bisa terjadi ke siapa aja, bahkan ke orang yang ngerasa “baik-baik aja” di awal.
6. Jangan Paksa Mereka Memutus Kontak Seketika
Memaksa korban langsung blokir pelaku bisa bikin mereka panik atau malah membela pelaku. Dampingi mereka pelan-pelan sampai mereka siap. Kesadaran itu proses, bukan tombol on-off.
7. Arahkan ke Bantuan Profesional
Kalau korban mulai sadar, bantu mereka cari psikolog, konselor, atau lembaga pendamping korban kekerasan. Dukungan profesional penting banget buat proses pemulihan mental dan emosional.
8. Ingatkan Kalau Mereka Nggak Sendirian
Banyak korban grooming ngerasa sendirian dan malu. Yakinkan kalau ada banyak orang yang peduli dan siap bantu. Kisah Aurelie jadi bukti kalau korban bisa bangkit, bersuara, dan pulih.
9. Sabar, Jangan Kejar Hasil Cepat
Menyadarkan korban child grooming butuh waktu. Bisa berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Yang penting, kamu tetap ada dan nggak menyerah.
10. Edukasi Diri Kamu Sendiri
Semakin kamu paham soal grooming, semakin tepat juga cara kamu bantu. Jangan asal ngomong. Empati + pengetahuan itu kunci.
Child grooming itu kejahatan yang licik dan merusak mental. Lewat buku Broken Strings, Aurelie nunjukin kalau korban grooming butuh ruang aman buat sadar dan sembuh. Kalau kamu ada di posisi orang terdekat korban, ingat: tugas kamu bukan menghakimi, tapi menemani.