Young On Top

Baru Masuk Udah Pengen Resign? 7 Alasan Klasik Kenapa First Job Sering Bikin Mental Syok

Baru Masuk Udah Pengen Resign? 7 Alasan Klasik Kenapa First Job Sering Bikin Mental Syok

Euforia mendapatkan pekerjaan pertama biasanya hanya bertahan hitungan minggu. Setelah masa itu selesai dan realita operasional harian dimulai, banyak fresh graduate yang langsung merasa tidak betah.

Anak muda sering dituduh lembek atau kurang bersyukur. Padahal, ada alasan fundamental yang membuat transisi dari mahasiswa menjadi karyawan itu sangat berat. Berikut adalah

yang cepat.

Baca Juga:

7 Alasan Kenapa Pekerjaan Pertama Sering Berakhir dengan Surat Resign

1. Culture Shock Kehidupan Kampus dan Kantor

Di kampus, jadwal fleksibel. Kalau malas masuk kelas, bisa titip absen atau bolos. Kalau tugas telat, paling nilai dikurangi. Di kantor, kamu masuk jam 8 pulang jam 5 (atau lebih). Telat sedikit dipotong gaji, salah sedikit dimarahi atasan di depan umum. Hilangnya kebebasan dan tuntutan profesionalitas yang kaku ini sering membuat mental anak baru kaget setengah mati.

2. Job Desk Ganda

Saat wawancara, posisinya terdengar spesifik, misalnya Admin Media Sosial. Realitanya? Kamu disuruh mendesain konten, membalas DM pelanggan, membuat laporan bulanan, sampai disuruh fotokopi dokumen bos. Banyak perusahaan memanfaatkan kepolosan fresh graduate untuk membebankan tugas ganda dengan gaji tunggal. Ketidaksesuaian antara kontrak kerja dan beban nyata inilah pemicu utama kekecewaan.

3. Ekspektasi Gaji dan Realita Biaya Hidup

Ekspektasi gaji pertama seringkali tinggi karena terpengaruh standar media sosial. Ketika slip gaji pertama keluar dan melihat angkanya hanya cukup untuk kost, makan, dan transport, motivasi langsung anjlok. Rasa lelah bekerja sebulan penuh terasa tidak sebanding dengan nominal yang masuk ke rekening.

4. Lingkungan Toksik dan Senioritas

Dunia kerja tidak sehangat dunia pertemanan kuliah. Kamu akan bertemu rekan kerja yang bermuka dua, atasan yang pasif-agresif, atau budaya senioritas yang kental. Anak baru sering dijadikan tumbal kesalahan atau sasaran empuk pelimpahan tugas senior yang malas. Menghadapi politik kantor tanpa pengalaman diplomasi adalah resep stres yang ampuh.

5. Minim Mentoring

Banyak perusahaan berharap fresh graduate bisa langsung kerja tanpa diajari. Kamu dilempar ke dalam proyek tanpa arahan yang jelas, tidak ada SOP, dan tidak ada mentor. Saat kamu bertanya, dianggap tidak mandiri. Saat kamu berinisiatif tapi salah, dianggap sok tahu. Kebingungan ini membuat rasa percaya diri hancur.

6. Rutinitas yang Membosankan

Generasi muda menyukai tantangan dan variasi. Sayangnya, pekerjaan level pemula biasanya didominasi oleh tugas administratif yang repetitif dan membosankan. Melakukan hal yang sama (input data, rekap file) setiap hari selama berbulan-bulan bisa mematikan kreativitas dan menimbulkan rasa jenuh yang parah.

7. Perbandingan Sosial

Melihat Instagram Story teman seangkatan yang kelihatannya kerjanya lebih enak, kantornya lebih bagus, atau gajinya lebih besar. Rasa tertinggal ini memicu ketidakpuasan terhadap pekerjaan sendiri. Kamu mulai berpikir, “Kayaknya gue salah pilih tempat kerja deh,” dan akhirnya mulai menyebar CV lagi diam-diam.

Tidak betah di pekerjaan pertama itu fase yang wajar. Itu adalah bagian dari proses seleksi alam dan pencarian jati diri karir. Jika kamu merasakannya, evaluasi dulu, apakah ini hanya kaget sementara, atau memang tempatnya toksik? Jangan buru-buru resign sebelum punya rencana cadangan, karena menganggur ulang seringkali lebih menyiksa daripada salah kerja.

Most Reading