Young On Top

Asal Mula Tradisi Pelemparan Topi saat Wisuda dan Asal-usulnya

Asal Mula Tradisi Pelemparan Topi saat Wisuda dan Asal-usulnya

Tradisi melemparkan topi wisuda atau mortarboard ke udara merupakan salah satu momen paling ikonik dalam setiap upacara kelulusan. Sebagai mahasiswa yang sedang berjuang menuntaskan studi, memahami makna di balik selebrasi ini dapat memberikan dukungan emosional tambahan agar progres skripsimu tetap berjalan lurus hingga hari wisuda tiba.

Menariknya, tradisi yang terlihat sangat terorganisir ini sebenarnya berawal dari sebuah tindakan spontan yang tidak terencana. Berikut adalah asal-usul dan sejarah di balik pelemparan topi wisuda.

Baca juga:

Asal-usul Tradisi Pelemparan Topi Wisuda

1. Bermula di Akademi Angkatan Laut Amerika Serikat

Tradisi ini pertama kali tercatat di United States Naval Academy (USNA), Annapolis. Sebelum tahun tersebut, para lulusan diwajibkan menjalani masa dinas dua tahun sebagai perwira muda sebelum resmi mendapatkan pangkat perwira dan topi baru mereka. Namun, pada tahun 1912, regulasi berubah secara fungsional sehingga para lulusan langsung diangkat menjadi perwira tepat pada hari wisuda.

2. Simbol Melepaskan Masa Lalu

Karena para lulusan baru tersebut langsung mendapatkan topi perwira yang lebih gagah, mereka tidak lagi membutuhkan topi kadet lama mereka. Secara spontan dan tidak terencana, para wisudawan melemparkan topi kadet lama mereka ke udara sebagai simbol bahwa mereka telah menyelesaikan masa pendidikan dan siap memulai progres baru dalam karier militer yang lebih tinggi.

3. Transformasi Menjadi Tradisi Sipil

Tindakan spontan para pelaut tersebut ternyata memberikan kesan yang sangat kuat. Seiring berjalannya waktu, universitas-universitas sipil mulai mengadopsi gerakan ini sebagai simbol kemenangan. Secara terorganisir, pelemparan topi menjadi bagian wajib dalam upacara wisuda untuk menandakan bahwa para mahasiswa telah bebas dari beban akademik yang berat.

4. Evolusi Bentuk Topi

Topi wisuda yang dilemparkan disebut mortarboard karena bentuknya mirip dengan papan yang digunakan tukang bangunan untuk menaruh adukan semen. Secara sejarah, bentuk kotak ini berasal dari topi biretta yang digunakan oleh kaum klerus dan akademisi pada abad ke-14 dan 15 untuk melambangkan kecerdasan dan status sosial yang teratur.

5. Filosofi Pemindahan Tali Toga

Sebelum topi dilempar, biasanya ada prosesi pemindahan tali toga dari kanan ke kiri. Ini adalah progres simbolis yang menunjukkan perubahan status dari calon sarjana menjadi seorang lulusan. Setelah tali dipindah, pelemparan topi menjadi puncak ekspresi kegembiraan yang secara fungsional menandai berakhirnya kewajiban sebagai mahasiswa.

6. Makna Kebebasan dan Optimisme

Secara psikologis, melihat ratusan topi melayang di udara memberikan kesan kebebasan yang tak ternilai. Ini melambangkan bahwa ilmu yang telah didapat akan “terbang” dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Bagi mahasiswa, ini lurus dengan visi untuk menyebarkan dampak positif bagi publik setelah melakukan evaluasi panjang di bangku kuliah.

7. Risiko dan Regulasi Keamanan Modern

Meskipun seru, beberapa universitas modern mulai melakukan evaluasi terhadap tradisi ini karena risiko cedera akibat sudut topi yang tajam. Namun, tradisi ini tetap bertahan karena nilai historisnya yang kuat dan kemampuannya memberikan kepuasan emosional yang fungsional bagi para lulusan setelah bertahun-tahun berjuang.

Mengenali sejarah di balik pelemparan topi wisuda membuat momen kelulusan terasa lebih bermakna. Dengan tetap fokus pada progres akademik yang terencana, kamu akan segera merasakan sensasi melempar topi tersebut sebagai tanda keberhasilanmu menjadi seorang Sarjana yang kompeten.

Most Reading