Momen wisuda identik dengan pemindahan kuncir topi dan jubah hitam yang lebar. Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa kita harus memakai pakaian yang terasa “panas” dan formal ini di tengah cuaca tropis Indonesia?. Ternyata, setiap jengkal kain toga memiliki sistem sejarah yang sangat terorganisir sejak ratusan tahun lalu.
Bagi pejuang skripsi dan riset seperti kamu, fakta-fakta ini adalah bentuk dukungan emosional bahwa apa yang kamu kerjakan hari ini adalah bagian dari tradisi besar dunia persuratan dan ilmu pengetahuan. Yuk, bedah 7 fakta sejarah di balik toga wisuda!
- 10 Hal yang Harus Dilakuin Fresh Graduate Setelah Wisuda
- 10 Cara Menentukan Jalur Karier yang Tepat Setelah Wisuda
7 Fakta Sejarah di Balik Tradisi Toga Wisuda di Seluruh Dunia
1. Berasal dari Tradisi Romawi Kuno
Kata “toga” berasal dari bahasa Latin tegere yang berarti “penutup”. Di zaman Romawi Kuno, toga adalah pakaian sehari-hari yang menunjukkan status sosial seseorang. Semakin panjang dan lebar kainnya, semakin tinggi kedudukan orang tersebut di masyarakat. Namun toga wisuda modern tidak langsung berasal dari toga Romawi, melainkan dari jubah akademik abad pertengahan yang dipakai oleh sarjana dan rohaniwan.
2. Fungsi Awal untuk Menahan Dingin
Pada abad ke-12 dan 13, universitas-universitas pertama di Eropa seperti Oxford dan Cambridge belum memiliki sistem pemanas ruangan yang fungsional. Jubah panjang yang tebal (toga) digunakan oleh para pengajar dan pelajar untuk menjaga suhu tubuh agar tetap hangat saat berdiskusi di ruangan batu yang dingin.
3. Menunjukkan Status Akademik
Penggunaan toga secara resmi diatur untuk menunjukkan status orang-orang yang mengejar pendidikan tinggi dengan warga biasa. Jubah ini menunjukkan bahwa pemakainya telah melakukan evaluasi diri dan intelektual yang mendalam, sehingga layak diakui sebagai bagian dari kelompok cendekiawan.
4. Topi Wisuda (Mortarboard) Terinspirasi dari Alat Tukang Bangunan
Bentuk topi wisuda yang kotak dan datar disebut mortarboard karena mirip dengan papan yang digunakan tukang bangunan untuk meletakkan semen (mortar). Secara filosofis, ini melambangkan bahwa seorang sarjana bertugas untuk “membangun” masyarakat dengan fondasi ilmu yang kokoh. Namun asal bentuknya kemungkinan juga dipengaruhi oleh topi akademik abad pertengahan seperti biretta yang dipakai oleh para sarjana dan rohaniwan.
5. Makna di Balik Pemindahan Kuncir (Tassel)
Tradisi memindahkan kuncir dari kanan ke kiri melambangkan transisi status sosial. Di Amerika, kuncir di kanan berarti kamu masih berstatus pelajar (progres), sedangkan saat dipindah ke kiri, itu adalah tanda bahwa kamu telah resmi lulus dan siap berkontribusi secara profesional.
6. Alasan Toga Identik dengan Warna Hitam
Meskipun sekarang mulai banyak variasi warna, hitam tetap menjadi standar global karena melambangkan keagungan, keseriusan, dan otoritas ilmu pengetahuan. Selain itu, secara fungsional, warna hitam dianggap paling netral untuk menunjukkan dukungan emosional yang sama bagi semua lulusan tanpa memandang latar belakang ekonomi mereka.
7. Dulu Merupakan Pakaian Sehari-hari Dosen
Sebelum menjadi seragam khusus wisuda, jubah ini wajib dipakai dosen setiap kali mengajar di kelas. Hal ini bertujuan untuk menjaga keteraturan dan rasa hormat dalam lingkungan akademis. Baru pada abad ke-19, penggunaannya mulai dibatasi hanya untuk upacara-upacara formal kenegaraan dan kelulusan.
Memakai toga adalah simbol bahwa kamu telah berhasil menyelesaikan satu babak riset dalam hidupmu secara terorganisir. Jadi, saat hari kelulusanmu tiba nanti, pakailah toga itu dengan bangga karena kamu sedang merayakan sejarah panjang peradaban ilmu manusia.