Masuk ke dalam daftar bergengsi Forbes 30 Under 30 adalah pencapaian impian bagi banyak founder dan kreator. Daftar ini merupakan bukti sahih bahwa usia muda bukanlah halangan untuk menciptakan inovasi yang berdampak masif bagi masyarakat. Tapi, di balik gelar mentereng dan jas rapi yang mereka kenakan di cover majalah, ada proses berdarah-darah yang jarang kita lihat. Mereka juga pernah merasakan pusingnya melakukan riset data yang nggak kelar-kelar, mencari celah pasar, hingga ditolak banyak investor.
Buat kamu yang lagi merintis side hustle, ngerjain proyek freelance, atau sekadar butuh suntikan motivasi biar nggak malas nugas, yuk pelajari mindset dari 4 pengusaha muda Indonesia yang sukses menembus Forbes 30 Under 30 ini!
- 5 Pelajaran Hidup dari Rio Haryanto: Pembalap F1 Pertama Indonesia yang Bikin Semangat Mengejar Mimpi
- 10 Orang Sukses yang Memulai dari Titik Terendah, Kamu Juga Bisa!
4 Kisah Sukses Pengusaha Muda Indonesia di Forbes 30 Under 30
1. Felicya Angelista (Scarlett Whitening)
Industri kecantikan lokal saat ini memang luar biasa masif. Felicya menyadari bahwa banyak perempuan Indonesia yang selalu dipusingkan dengan urusan mencari rekomendasi skincare yang tepat, entah itu untuk mencerahkan kulit kusam atau merawat tekstur wajah akibat acne scars (bekas jerawat). Lewat Scarlett, ia tidak hanya menjual produk, tetapi juga gencar melakukan strategi digital marketing dan endorsement massal yang membuat brand-nya mendominasi pasar kecantikan nasional.
2. Jerome Polin & Jehian Sijabat (Mantappu Corp)
Berawal dari rajin membuat konten edukasi matematika dan vlog kehidupan mahasiswa di YouTube, duo kakak beradik ini sukses membangun talent management raksasa dan bisnis F&B. Kisah mereka adalah contoh nyata betapa mahalnya skill komunikasi digital saat ini. Mampu membuat copywriting yang menarik audiens, menyusun naskah konten yang engaging, hingga berkolaborasi menerbitkan buku bersama banyak kreator lain adalah fondasi kuat untuk membangun personal brand bernilai tinggi.
3. Amanda Susanti (Sayurbox)
Kisah Amanda adalah representasi nyata dari ilmu pengorganisasian dan pemberdayaan masyarakat. Melihat panjangnya rantai distribusi yang membuat petani lokal hidup merugi dan konsumen harus membayar mahal untuk sayur segar, ia membangun Sayurbox. Platform ini memotong rantai tengkulak, memastikan petani mendapat harga yang adil, dan konsumen di kota mendapat bahan pangan berkualitas. Bisnis yang menyelesaikan masalah sosial nyata (social enterprise) selalu punya tempat spesial di mata investor global.
4. James Prananto (Kopi Kenangan)
Kopi Kenangan lahir dari keresahan sederhana, sulitnya mencari kopi susu yang rasanya enak dengan harga yang pas di kantong mahasiswa dan pekerja kantoran (tidak semahal brand global, tapi lebih premium dari kopi saset). James dan timnya berhasil mengisi kekosongan pasar tersebut. Prinsipnya mirip seperti saat kita mencari ide side hustle. Temukan satu masalah spesifik di sekitarmu, lalu jadikan itu sebagai bisnis!
Kelima tokoh di atas tidak membangun kerajaannya dalam waktu semalam. Dibutuhkan konsistensi untuk terus merevisi strategi, keberanian untuk mengeksekusi project baru, dan ketahanan mental untuk menghadapi kegagalan. Apapun bidang yang sedang kamu tekuni sekarang, lakukanlah dengan passionate dan profesional!