Bulan Ramadan sering kali bertepatan dengan momen krusial di kampus, entah itu jadwal Ujian Tengah Semester (UTS) atau masa tenggat (deadline) pengumpulan tugas akhir. Di saat tubuh sedang beradaptasi menahan lapar dan dahaga, otak malah dituntut untuk bekerja dua kali lipat lebih keras.
Bagi sebagian mahasiswa, mengerjakan tugas biasa saja rasanya sudah menguras tenaga, apalagi kalau harus menghadapi “tugas monster”. Mempersiapkan hafalan untuk ujian lisan, turun ke lapangan untuk field study, hingga menyusun laporan tebal, semuanya butuh fokus dan stamina fisik yang prima. Kalau pakai sistem kebut semalam (SKS), yang ada kamu malah tumbang sebelum hari H.
Biar puasamu tetap full dan nilai ujianmu nggak terjun bebas, terapkan 4 strategi taktis ini untuk menaklukkan tugas besar di bulan Ramadan!
- 8 Level Kesulitan JLPT Kalau Dibanding Sama Ujian Bahasa Lain
- 10 Jurusan dengan Banyak Tugas vs Banyak Ujian, Kamu Tim Mana?
4 Strategi Menghadapi Ujian atau Tugas Besar di Bulan Puasa
1. Lakukan Hal Sulit dipagi Hari
Ada pepatah produktivitas yang berbunyi “Eat that frog first thing in the morning“, yang artinya selesaikan tugas paling berat dan menyebalkan di awal hari. Konsep ini sangat vital di bulan puasa. Gunakan 2 jam pertama setelah salat Subuh untuk mengeksekusi beban kognitif terberat. Gula darah dari makan sahur masih tinggi, sehingga otakmu siap dipakai untuk berpikir analitis.
2. Ubah Pola Belajar Menjadi Active Recall
Membaca ulang buku teks atau modul perkuliahan berulang kali di siang hari bolong hanya akan membuat matamu berair dan mengantuk. Ganti metode pasif tersebut dengan Active Recall (pemanggilan informasi secara aktif). Buatlah flashcard atau daftar pertanyaan dari materi ujianmu. Cobalah menjawabnya tanpa melihat buku. Proses mengingat secara paksa ini jauh lebih efektif menanamkan memori ke otak dan sangat ampuh mengusir rasa kantuk karena otakmu diajak “berolahraga”.
3. Manfaatkan Body Doubling Setelah Tarawih
Malam hari setelah berbuka dan salat Tarawih sering kali dipenuhi rasa malas (food coma). Padahal, kamu harus segera menyelesaikan draf artikel jurnal ilmiah yang harus di-submit minggu ini. Atasi rasa malas ini dengan teknik body doubling, yaitu mengerjakan tugas ditemani orang lain. Kamu bisa mengajak teman kampusmu untuk video call (Zoom/Gmeet) tanpa harus saling mengobrol, sekadar menyalakan kamera agar ada rasa “diawasi”. Rasa tanggung jawab sosial ini akan memaksamu untuk tetap duduk manis dan mengetik di depan laptop.
4. Jangan Korupsi Jam Tidur Demi Cramming
Cramming atau menjejalkan semua materi ke otak dalam satu malam sebelum ujian adalah strategi terburuk di bulan puasa. Kurang tidur akan menghancurkan konsentrasimu esok harinya dan membuat emosimu sangat tidak stabil. Pecahlah porsi belajarmu jauh-jauh hari. Pastikan kamu tetap menabung jam tidur dengan tidur lebih awal (sekitar jam 10 malam) dan sempatkan power nap maksimal 45 menit di siang hari. Otak butuh waktu tidur yang cukup untuk memproses informasi dari short-term memory ke long-term memory.
Menghadapi ujian dan tugas besar di bulan puasa pada dasarnya adalah ujian manajemen diri. Semakin cepat kamu mencicil persiapan, semakin tenang juga pikiranmu. Jangan biarkan rasa lapar mengalahkan ambisimu untuk mendapatkan nilai A di semester ini!