Young On Top

7 Daerah dengan Kasus Stunting Tertinggi di Indonesia

7 Daerah dengan Kasus Stunting Tertinggi di Indonesia

Stunting masih menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi bangsa kita. Masalah ini bukan sekadar soal anak yang kurang makan bergizi, melainkan isu kompleks yang berakar pada minimnya literasi kesehatan dan sanitasi. Menekan angka stunting tidak bisa hanya mengandalkan bantuan sembako atau asupan gizi instan. Hal ini membutuhkan pendekatan yang mengakar, seperti community organizing dan pemberdayaan masyarakat, agar kesadaran akan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) bisa terbangun secara mandiri dari level rumah tangga.

Berdasarkan survei kesehatan Indonesia pada 2023 dan data pemerintah, tantangan stunting masih sangat timpang dan terkonsentrasi di beberapa wilayah. Berikut adalah 7 daerah dengan prevalensi kasus stunting tertinggi di Indonesia yang butuh perhatian ekstra.

Baca Juga:

7 Daerah dengan Kasus Stunting Tertinggi di Indonesia

1. Papua Tengah

Sebagai provinsi yang tergolong baru dimekarkan, Papua Tengah menduduki urutan pertama dengan angka prevalensi stunting tertinggi di Indonesia, yakni menyentuh angka 39,4 persen. Tantangan geografis yang ekstrem serta akses terhadap fasilitas pelayanan kesehatan dasar yang masih sangat terbatas menjadi faktor utama terhambatnya pemenuhan gizi anak di wilayah ini.

2. Nusa Tenggara Timur (NTT)

NTT saat ini menempati posisi kedua sebagai provinsi dengan kasus stunting tertinggi setelah Papua Tengah. Prevalensinya tercatat masih berada di angka 37,9 persen. Paradoksnya, sebagai provinsi kepulauan, NTT sangat kaya akan sumber daya laut yang berprotein tinggi seperti ikan. Tantangan ketahanan pangan rumah tangga, kemiskinan, sanitasi, serta literasi gizi menjadi faktor yang saling berkaitan dalam tingginya angka stunting di wilayah ini menjadi salah satu penyebab utamanya.

3. Papua Pegunungan 

Papua Pegunungan (Papua Highlands) masuk ke dalam jajaran atas provinsi dengan angka stunting yang mengkhawatirkan di angka 37,3%. Pernikahan dini dan rendahnya tingkat edukasi gizi bagi calon ibu di daerah perdesaan membuat siklus gizi buruk terus berputar dari satu generasi ke generasi berikutnya.

4. Papua Barat Daya

Sebagai provinsi baru, Papua Barat Daya juga menghadapi tantangan serius dengan prevalensi stunting sekitar 31 persen. Pemerataan fasilitas kesehatan dasar dan intervensi gizi spesifik masih menjadi pekerjaan rumah utama di wilayah ini.

5. Sulawesi Barat

Sulawesi Barat secara konsisten berada dalam kelompok provinsi dengan prevalensi stunting di atas 30%. Faktor sosial-ekonomi, sanitasi lingkungan, serta akses pelayanan kesehatan ibu dan anak menjadi determinan utama yang perlu diperkuat melalui pendekatan lintas sektor.

6. Sulawesi Tenggara

Sulawesi Tenggara termasuk daerah prioritas penanganan stunting nasional dengan angka sekitar 30%. Partisipasi masyarakat dalam pemantauan tumbuh kembang balita melalui posyandu serta edukasi gizi keluarga masih perlu ditingkatkan agar deteksi dan intervensi bisa dilakukan lebih dini.

7. Aceh

Aceh juga masuk dalam kategori provinsi dengan prevalensi stunting tinggi di angka 29,4 %. Selain faktor ekonomi dan sanitasi, aspek pola asuh, praktik pemberian makan anak, serta edukasi kesehatan ibu hamil menjadi fokus penting dalam percepatan penurunan angka stunting di wilayah ini.

Mengentaskan stunting tidak akan pernah berhasil jika hanya mengandalkan program seremonial dari pemerintah. Mengubah perilaku masyarakat butuh riset mini yang berkelanjutan dan pendekatan akar rumput yang tepat sasaran. Di sinilah peran generasi muda dan mahasiswa sangat dibutuhkan untuk turun langsung, menjadi fasilitator, dan memberdayakan keluarga di daerah-daerah tersebut agar lebih sadar akan pentingnya gizi dan sanitasi lingkungan.

Most Reading