Young On Top

7 Metode Penetapan Harga Jual yang Tepat agar Untung dan Tetap Kompetitif

7 Metode Penetapan Harga Jual yang Tepat agar Untung dan Tetap Kompetitif

Menentukan harga jual produk atau jasa itu ibarat mencari pasangan, nggak boleh terlalu gampang ditebak, tapi juga nggak boleh terlalu jual mahal sampai bikin orang kabur. Banyak pengusaha pemula yang asal tebak harga hanya berdasarkan feeling atau ikut-ikutan toko sebelah. Padahal, kalau salah strategi, ujung-ujungnya malah bisa rugi bandar karena biaya operasional tidak tertutup, atau sebaliknya, barang menumpuk di gudang karena konsumen merasa kemahalan.

Biar bisnismu tetap cuan maksimal tapi nggak kehilangan pelanggan, yuk pahami 7 metode penetapan harga jual yang paling sering dipakai di dunia bisnis ini!

Baca Juga:

7 Metode Penetapan Harga Jual yang Tepat

1. Cost-Plus Pricing (Penetapan Harga Biaya Plus)

Ini adalah metode paling klasik dan paling gampang. Caranya, kamu hitung dulu semua biaya produksi atau modal awal (mulai dari bahan baku, ongkos kirim, sampai biaya packing), lalu tambahkan persentase margin keuntungan yang kamu inginkan. Contoh: Total modal bikin satu porsi rice bowl adalah Rp15.000. Kamu ingin untung 50%. Maka harga jualnya adalah Rp15.000 + (50% x Rp15.000) = Rp22.500.

2. Competitor-Based Pricing (Berbasis Pesaing)

Sesuai namanya, kamu mematok harga dengan cara memata-matai kompetitor. Kamu bisa memilih untuk pasang harga sedikit lebih murah, sama persis (jika bermain di pasar yang ketat), atau sedikit lebih mahal, asalkan kamu bisa membuktikan produkmu punya kualitas atau pelayanan yang lebih baik. Metode ini sangat cocok untuk produk yang banyak dijual di marketplace.

3. Value-Based Pricing (Berbasis Nilai Pelanggan)

Kalau metode ini, kamu nggak terlalu peduli dengan harga modal, tapi fokus pada “seberapa besar pelanggan menghargai produkmu”. Biasanya ini dipakai untuk produk branded, karya seni, atau jasa profesional. Contoh: Segelas kopi di warkop mungkin harganya Rp8.000. Tapi di coffee shop estetik dengan fasilitas WiFi kencang dan spot foto bagus, pelanggan rela membayar Rp35.000 untuk segelas kopi yang sama karena mereka “membeli” vibes dan kenyamanan.

4. Penetration Pricing (Harga Penetrasi Pasar)

Strategi ini sering dipakai oleh bisnis baru yang ingin mendobrak dominasi pemain lama. Caranya adalah dengan mematok harga super murah di awal, bahkan kadang rela rugi sedikit alias “bakar uang” lewat diskon gede-gedean demi mengumpulkan pelanggan sebanyak mungkin. Setelah pelanggan kecanduan dan setia, barulah harganya dinaikkan pelan-pelan ke angka normal.

5. Skimming Pricing (Harga Skimming)

Kebalikan dari harga penetrasi, skimming dilakukan dengan memasang harga setinggi-tingginya di awal peluncuran saat belum ada kompetitor, lalu menurunkannya seiring berjalannya waktu. Strategi ini sangat umum di industri teknologi (seperti smartphone atau konsol game baru). Mereka menyasar kelompok “Sultan” atau early adopters yang rela bayar mahal demi gengsi menjadi orang pertama yang punya produk tersebut.

6. Psychological Pricing (Harga Psikologis)

Sadarkah kamu kenapa banyak toko memasang harga Rp99.000 atau Rp199.000? Ini bukan kebetulan, melainkan trik psikologis! Otak manusia memproses angka dari kiri ke kanan. Jadi, harga Rp99.000 akan terasa jauh lebih murah (“Ah, masih sembilan puluh ribuan”) dibandingkan Rp100.000 (“Wah, udah seratus ribu”), padahal selisihnya cuma seribu perak.

7. Bundle Pricing (Harga Paket/Bundling)

Daripada menjual barang satuan yang lama lakunya, gabungkan beberapa produk sekaligus dan berikan sedikit potongan harga. Contoh: Jual kaos satuan Rp100.000, tapi kalau beli paket “Isi 3 Kaos”, harganya jadi Rp250.000. Pelanggan merasa diuntungkan karena dapat harga lebih murah per pcs, dan penjual diuntungkan karena stok barang lebih cepat habis dan omzet langsung membesar.

Tidak ada satu metode pun yang sempurna untuk semua kondisi. Kamu bisa menggabungkan beberapa metode di atas (misalnya pakai cost-plus sebagai dasar, lalu dibalut dengan psychological pricing). Yang paling penting, terus pantau respons pasar dan jangan ragu untuk merevisi harga jika penjualan mulai melambat!

Most Reading