Kalau ngomongin X (dulu Twitter), yang kebayang di kepala sebagian besar anak muda mungkin cuma trending topic yang isinya drama, fanwar K-Pop, atau tempat sambat anonymous soal revisian skripsi. Padahal, kalau dimanfaatkan dengan strategi yang tepat, X adalah salah satu platform terbaik untuk membangun personal branding dan networking profesional secara organik!
Berbeda dengan LinkedIn yang kadang terasa terlalu kaku atau Instagram yang menuntut visual estetis, X adalah tempat di mana kekuatan teks, gagasan, dan copywriting menjadi raja. Banyak freelancer, penulis, dan profesional muda yang berhasil mendapatkan tawaran project bergengsi atau dilirik recruiter hanya modal rutin membuat cuitan (tweet) yang berbobot.
Biar akun X kamu nggak cuma berisi retweet meme lucu, yuk ubah profilmu jadi magnet peluang karier dengan 8 cara jitu ini!
- 10 Kesalahan dalam Membuat CV yang Bikin Langsung Ditolak Sistem ATS
- Personal Branding: Senjata Diam-Diam Biar Bisnismu Lebih Dipercaya
8 Strategi Networking dan Branding di X
1. Rombak Biodata dan Profilmu
Kesan pertama terjadi dalam 3 detik. Pastikan bio X kamu menjelaskan dengan padat siapa kamu dan apa keahlianmu. Hindari bio cryptic atau kutipan galau. Gunakan formula: [Profesi/Minat] + [Apa yang kamu bahas]. Misalnya: “Tertarik pada edukasi promosi kesehatan & kebijakan publik | Membagikan tips copywriting dan proses kreatif menulis.” Jangan lupa pasang foto profil yang jelas dan header yang merepresentasikan bidangmu.
2. Tentukan Pilar Konten yang Spesifik
Jangan membahas semuanya karena audiens akan bingung kamu pakar di bidang apa. Pilih 2 sampai 3 topik utama yang paling kamu kuasai. Misal, mengombinasikan isu kesehatan masyarakat, seperti bedah kasus epidemiologi yang sedang hangat dengan bahasan seputar dunia kepenulisan kreatif akan membuat karakter brand-mu sangat unik dan mudah diingat.
3. Ubah Link Menjadi Thread (Utas) Edukatif
Algoritma X sangat menyukai pengguna yang menahan audiens tetap berada di platform. Alih-alih hanya menempelkan link artikel yang baru tayang di Kompasiana atau membagikan tautan publikasi jurnal ilmiahmu begitu saja, bedah isi tulisan tersebut menjadi sebuah utas (thread). Rangkum metodologi atau poin utamanya ke dalam 5-7 cuitan berurutan yang mudah dicerna audiens awam.
4. Terapkan Konsep Build in Public
Orang sangat suka melihat proses di balik layar. Jangan hanya memamerkan hasil akhir. Bagikan ceritamu saat sedang melakukan mini riset di lapangan, tantangan saat berkolaborasi menulis draf bab untuk sebuah buku, atau bahkan caramu membagi waktu antara kuliah dan menangani klien. Transparansi ini akan membangun kepercayaan dan kedekatan emosional dengan followers-mu.
5. Jadilah Reply Guy yang Cerdas dan Relevan
Membangun branding bukan berarti cuma broadcast informasi satu arah. Cari akun-akun pemikir, pakar industri, atau brand besar yang relevan dengan bidangmu, lalu aktiflah membalas (reply) cuitan mereka. Jangan cuma membalas “Wah keren infonya, Kak”. Berikan opini tambahan, tanyakan hal yang memancing diskusi kritis, atau bagikan pengalaman pribadimu terkait topik tersebut.
6. Kurasi Timeline dengan Fitur Lists dan Mute
Kamu adalah apa yang kamu konsumsi. Kalau timeline-mu penuh dengan keributan yang nggak penting, energi mentalmu akan habis. Gunakan fitur Mute untuk membisukan kata kunci yang memicu distraksi. Buat X Lists khusus berisi akun-akun inspiratif di bidang digital marketing, atau investasi agar kamu tidak ketinggalan tren dan ide konten terbaru.
7. Gunakan Visual untuk Menghentikan Jempol
Meskipun X berbasis teks, menyisipkan elemen visual pada cuitan pertamamu sangat efektif untuk menarik perhatian. Gunakan infografis sederhana, tangkapan layar (screenshot) data pendukung, atau cuplikan paragraf terbaik dari draf tulisanmu. Visual yang kuat akan membuat utasmu menonjol di tengah lautan teks.
8. Jaga Jejak Digital
Ini adalah aturan emas. Ingatlah bahwa HRD dan calon klien sering melakukan pengecekan latar belakang lewat media sosial. Boleh saja sesekali membagikan cerita lucu sehari-hari agar tidak terlihat seperti robot, tapi hindari oversharing masalah pribadi, marah-marah dengan kata kasar, atau ikut campur dalam perdebatan toxic.
Membangun personal branding di X tidak butuh cuitan yang viral setiap hari, melainkan konsistensi untuk terus hadir memberikan nilai tambah (value). Mulailah menulis satu cuitan edukatif hari ini, dan lihat bagaimana jaringan profesionalmu perlahan-lahan terbangun.