Young On Top

6 Teknik Membaca Cepat (Speed Reading) untuk Memproses Informasi Lebih Banyak

6 Teknik Membaca Cepat (Speed Reading) untuk Memproses Informasi Lebih Banyak

Pernah merasa kewalahan melihat tumpukan jurnal tebal yang harus di-review untuk tugas akhir, atau puluhan artikel referensi yang harus dibaca sebelum mulai menulis? Di era banjir informasi ini, waktu kita sangat terbatas, tapi bahan bacaan seolah nggak ada habisnya.

Kalau kamu masih membaca kata demi kata dari halaman pertama sampai terakhir, wajar saja kalau matamu cepat lelah dan otak gampang burnout. Membaca cepat (speed reading) bukanlah sekadar melihat teks secara kilat lalu melupakannya, melainkan sebuah skill untuk mengekstrak inti informasi secara efisien tanpa kehilangan pemahaman.

Biar waktu risetmu makin sat-set dan sisa waktunya bisa dipakai buat ngerjain hal lain, yuk kuasai 6 teknik speed reading ini!

Baca Juga:

6 Teknik Membaca Cepat (Speed Reading) untuk Memproses Informasi Lebih Banyak

1. Hentikan Subvokalisasi (Membaca dalam Hati)

Subvokalisasi adalah kebiasaan melafalkan kata-kata di dalam kepala saat kita sedang membaca. Kecepatan baca kita akhirnya terbatas pada kecepatan kita berbicara. Kecuali kamu memang sedang dalam proses menghafal teks spesifik secara verbatim (seperti hafalan ayat suci atau skrip presentasi), cobalah untuk mematikan “suara” di dalam kepalamu saat membaca teks informatif. Biarkan matamu yang langsung menangkap makna visual dari kata tersebut ke otak.

2. Gunakan Visual Pacer (Penunjuk Visual)

Mata manusia secara natural cenderung melompat-lompat saat melihat sekumpulan teks. Biar matamu tetap fokus dan ritme bacanya stabil, gunakan jari telunjuk atau ujung pulpen untuk menunjuk kata yang sedang dibaca, dan gerakkan terus ke kanan. Trik sederhana ini akan memaksa matamu untuk terus maju dan meningkatkan kecepatan baca secara instan.

3. Teknik Previewing Sebelum Terjun ke Isi

Jangan langsung membaca dari kata pertama. Lakukan pemanasan dengan melihat “peta” teksnya. Baca judul, subjudul, poin-poin tebal, kalimat pertama di setiap paragraf pembuka, dan langsung lompat ke kesimpulan. Misalnya, saat membedah jurnal akademik tentang kesehatan lingkungan atau epidemiologi, kamu cukup membaca Abstrak, Metodologi, dan Kesimpulan terlebih dahulu untuk menilai apakah jurnal tersebut relevan dengan risetmu sebelum membacanya secara utuh.

4. Skimming dan Scanning Sesuai Kebutuhan

Dua teknik ini adalah senjata utama untuk mencari jarum di tumpukan jerami. Gunakan Skimming (membaca sekilas) untuk mendapatkan gagasan utama atau benang merah dari sebuah bab. Gunakan Scanning (memindai) jika kamu hanya mencari kata kunci, angka, atau data spesifik, seperti mencari persentase kasus penyakit tertentu dalam sebuah laporan panjang tanpa memedulikan kalimat pelengkap di sekitarnya.

5. Biasakan Chunking (Membaca Per Blok Kata)

Berhentilah membaca kata per kata. Latih mata pinggirmu (peripheral vision) untuk menangkap 3 sampai 4 kata sekaligus dalam sekali tatap. Daripada membaca: [Di] – [dunia] – [kepenulisan] – [lepas], bacalah langsung sebagai satu kesatuan visual: [Di dunia kepenulisan lepas]. Semakin luas jangkauan kata yang bisa ditangkap matamu dalam satu blok (chunk), semakin cepat kamu menyelesaikan satu halaman.

6. Hindari Regresi (Mengulang Kalimat yang Sama)

Sering tanpa sadar membaca ulang kalimat yang barusan dibaca karena merasa kurang paham? Itulah regresi, dan ini adalah musuh terbesar speed reading. Percayalah pada kapasitas otakmu untuk menyerap konteks. Teruslah bergerak maju. Sering kali, kebingungan di satu kalimat akan terjawab secara otomatis oleh konteks kalimat-kalimat berikutnya.

Membaca cepat itu butuh pembiasaan. Di awal mencoba, kamu mungkin merasa pemahamanmu sedikit menurun, tapi itu sangat wajar. Teruslah berlatih dengan bahan bacaan yang ringan terlebih dahulu. Perlu diingat, terapkan speed reading untuk memproses informasi dan riset, bukan untuk membaca karya sastra atau novel yang memang tujuannya untuk dinikmati pelan-pelan.

Most Reading