Young On Top

5 Cara Menetapkan Batasan yang Sehat di Media Sosial

5 Cara Menetapkan Batasan yang Sehat di Media Sosial

Pernah nggak sih kamu niatnya cuma mau balas satu chat atau ngecek notifikasi sebentar, tapi berujung scrolling TikTok dan Instagram sampai berjam-jam? Begitu sadar, waktu udah habis, mata capek, dan tiba-tiba muncul perasaan insecure atau cemas karena melihat pencapaian orang lain yang lewat di timeline.

Media sosial memang dirancang sedemikian rupa untuk menahan perhatian kita selama mungkin. Kalau kita nggak punya kendali yang kuat, platform ini bisa berubah dari sekadar hiburan menjadi “vampir energi” yang mengisap produktivitas dan kedamaian mental.

Biar kamu tetap bisa up-to-date tanpa harus mengorbankan kewarasan, sudah saatnya kamu mengambil alih kendali. Yuk, terapkan 5 cara menetapkan batasan (boundary) yang sehat di media sosial berikut ini!

Baca Juga:

5 Cara Membangun Boundaries yang Sehat di Media Sosial

1. Terapkan Jadwal dan Batasi Screen Time

Algoritma tidak akan pernah kehabisan konten untuk disajikan, jadi kamulah yang harus tahu kapan harus berhenti. Manfaatkan fitur Digital Wellbeing atau Screen Time bawaan di smartphone kamu untuk mengatur batas waktu harian penggunaan aplikasi tertentu (misalnya, maksimal 1 jam sehari untuk Instagram). Selain itu, tentukan jam spesifik untuk membuka media sosial, misalnya hanya saat jam istirahat siang dan setelah jam kerja selesai.

2. Berani Unfollow atau Mute Akun yang Memicu Insecure

Timeline media sosialmu adalah ruang pribadimu. Kamu punya hak penuh untuk memilih siapa yang boleh memasukinya. Kalau ada akun teman, influencer, atau bahkan artis yang kontennya selalu membuatmu merasa insecure, rendah diri, atau memicu overthinking, jangan ragu untuk menekan tombol mute atau unfollow. Menyaring apa yang kamu konsumsi setiap hari adalah bentuk self-care yang paling mendasar.

3. Matikan Notifikasi yang Tidak Esensial

Ponsel yang terus-menerus berbunyi karena notifikasi likes, komentar baru, atau live streaming seseorang akan membuat otakmu selalu dalam mode siaga tinggi (alert). Matikan semua notifikasi aplikasi yang tidak bersifat darurat. Sisakan hanya notifikasi untuk aplikasi komunikasi penting seperti WhatsApp atau email pekerjaan. Dengan begitu, kamu membuka media sosial karena memang sedang ingin, bukan karena dipanggil oleh notifikasi.

4. Ciptakan Zona Bebas Gadget

Tetapkan beberapa area atau momen di dalam hidupmu yang benar-benar bersih dari distraksi media sosial. Misalnya, aturan “tidak ada HP di meja makan” saat sedang berkumpul bersama keluarga atau teman, dan “tidak ada HP di kasur” setidaknya satu jam sebelum tidur. Paparan blue light dari layar dan informasi yang berlebihan sebelum tidur adalah penyebab utama insomnia dan kualitas tidur yang buruk pada anak muda.

5. Jangan Merasa Wajib Membalas Semuanya Detik Itu Juga

Hanya karena seseorang bisa mengirimimu Direct Message (DM) atau membalas Story kamu kapan saja, bukan berarti kamu punya kewajiban untuk langsung membalasnya detik itu juga. Hilangkan ekspektasi bahwa kamu harus selalu available 24/7. Kalau pesan tersebut bukan hal yang mendesak, sah-sah saja untuk mengabaikannya sementara waktu dan membalasnya nanti saat kamu memang sedang memiliki kapasitas energi dan waktu luang.

Media sosial seharusnya menjadi alat yang memudahkanmu untuk mencari inspirasi, hiburan, dan memperluas relasi, bukan sebaliknya. Menetapkan batasan mungkin terasa sulit dan aneh di awal, apalagi kalau kamu sudah terbiasa FOMO (Fear of Missing Out). Tapi percayalah, kedamaian pikiran dan waktu produktif yang kamu dapatkan kembali jauh lebih berharga daripada trend viral yang kamu lewatkan.

Most Reading