Mendapatkan panggilan interview atau wawancara kerja adalah sebuah pencapaian yang patut diapresiasi, terutama bagi para fresh graduate yang baru saja terjun ke dunia profesional. Tahap ini merupakan kesempatan emas untuk membuktikan bahwa kualifikasi di dalam CV selaras dengan karakter dan kompetensi asli kandidat.
Namun, antusiasme yang tinggi sering kali diiringi oleh rasa gugup yang berujung pada kesalahan fatal. Banyak kandidat muda yang memiliki potensi akademik cemerlang justru gagal di tahap ini karena kurangnya persiapan mental maupun strategi. Agar peluang diterima semakin besar, pastikan kamu menghindari lima kesalahan umum yang sering dilakukan fresh graduate saat wawancara kerja berikut ini.
Baca Juga:
- 8 Tips Percaya Diri Saat Interview Kerja Biar Nggak Grogi
- 10 Tips Sukses Walk in Interview Biar Langsung Diterima
5 Kesalahan Saat Interview yang Harus Dihindari
1. Kurang Melakukan Riset tentang Perusahaan
Datang ke sesi wawancara tanpa memahami profil perusahaan adalah sebuah kesalahan besar. Perekrut dapat dengan mudah menilai apakah seorang kandidat benar-benar tertarik dengan posisi yang dilamar atau sekadar menebar lamaran secara acak. Luangkan waktu untuk mempelajari industri, visi, misi, serta produk atau layanan utama dari perusahaan tersebut.
2. Tidak Mempersiapkan Jawaban untuk Pertanyaan Fundamental
Meskipun setiap wawancara memiliki alur yang berbeda, selalu ada pertanyaan fundamental yang hampir pasti ditanyakan, seperti “Ceritakan tentang diri kamu,” atau “Apa kelebihan dan kekuranganmu?”. Banyak fresh graduate meremehkan pertanyaan ini dan menjawabnya secara spontan. Akibatnya, jawaban menjadi berbelit-belit dan tidak fokus. Latihlah cara merangkum latar belakang pendidikan, pengalaman organisasi, serta keahlian utama kamu secara terstruktur dan meyakinkan.
3. Bersikap Terlalu Pasif dan Tidak Mengajukan Pertanyaan
Di akhir sesi, perekrut biasanya akan bertanya, “Apakah ada pertanyaan?”. Kesalahan yang sering terjadi adalah kandidat menjawab, “Tidak ada.” Bersikap terlalu pasif dapat memberikan kesan bahwa kamu kurang kritis atau kurang antusias terhadap peran tersebut. Siapkan satu atau dua pertanyaan berbobot, misalnya mengenai budaya kerja di tim yang akan kamu masuki atau target perusahaan di masa depan. Hal ini menunjukkan inisiatif dan ketertarikan yang tulus.
4. Bahasa Tubuh yang Kurang Profesional
Komunikasi non-verbal memiliki dampak yang sama kuatnya dengan kata-kata yang diucapkan. Menghindari kontak mata, atau menyilangkan tangan di dada dapat memancarkan kesan kurang percaya diri atau defensif. Pastikan kamu duduk dengan tegak, mempertahankan kontak mata yang wajar, dan memberikan senyum yang natural. Bahasa tubuh yang baik akan memancarkan aura profesionalisme.
5. Terlalu Fokus pada Kekurangan Pengalaman
Sebagai fresh graduate, wajar jika kamu belum memiliki pengalaman kerja formal yang panjang. Namun, jangan jadikan hal ini sebagai kelemahan yang terus disorot selama wawancara. Hindari kalimat pesimis seperti, “Saya memang belum punya pengalaman, tapi…”. Sebaliknya, fokuslah pada pengalaman relevan yang kamu miliki, seperti manajemen proyek saat menyusun tugas akhir, keaktifan dalam komunitas, atau publikasi karya ilmiah yang pernah kamu buat. Hal-hal tersebut merupakan bukti nyata dari etos kerja dan kemampuan pemecahan masalah.
Wawancara kerja bukanlah sebuah ujian untuk mencari-cari kesalahan, melainkan proses diskusi untuk menemukan kecocokan antara perusahaan dan kandidat. Dengan menghindari kelima kesalahan di atas dan mempersiapkan diri secara matang, kamu dapat tampil lebih tenang, profesional, dan meyakinkan di hadapan perekrut.