Jika kakimu patah, kamu pasti segera ke rumah sakit, dipasang gips, dan orang-orang akan menandatangani gipsmu dengan ucapan “Cepat Sembuh”. Tidak ada yang bilang, “Ah, itu cuma di kakimu aja, coba dibawa jalan positif pasti sembuh.”
Tapi jika mentalmu yang sakit (depresi, kecemasan, atau trauma), reaksinya berbeda. Kamu sering disuruh “kurang bersyukur” atau “lemah iman”. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan “Sehat” sebagai paket lengkap, meliputi fisik, mental, dan sosial. Hilang satu, berarti kamu Sakit. Berikut adalah 5 alasan ilmiah kenapa kesehatan mental harus diperlakukan setara dengan kesehatan fisik.
Baca Juga:
- 10 Hambatan Mental yang Bikin Ide Kamu Tidak Terwujud
- 10 Cara Menjaga Mental Saat Karier atau Hidup Lagi Serba Nggak Jelas
5 Bukti Medis Kesehatan Mental Setara dengan Kesehatan Fisik
1. Otak Adalah Organ Fisik
Kita sering lupa bahwa mental itu berpusat di otak, dan otak adalah organ sama seperti ginjal atau lambung. Gangguan mental bukanlah roh jahat atau sekadar suasana hati. Itu adalah ketidakseimbangan kimiawi (neurotransmiter) di otak. depresi seringkali terkait kekurangan serotonin. Kecemasan terkait aktivitas amigdala yang berlebihan. Sama seperti diabetes adalah masalah insulin di pankreas, gangguan mental adalah masalah kimia di otak. Keduanya butuh pengobatan atau terapi, bukan sekadar “semangat”.
2. Hubungan Pikiran dan Tubuh
Ini bukti paling nyata, pikiran yang sakit bisa membuat badan sakit. Pernahkah kamu sakit perut saat mau ujian? Atau jantung berdebar saat takut? Itu adalah bukti koneksi saraf langsung antara otak dan tubuh. Dalam jangka panjang, stres kronis (mental) memicu peradangan di seluruh tubuh yang menyebabkan penyakit fisik serius seperti hipertensi, penyakit jantung, dan gangguan pencernaan (GERD). Mental yang buruk mengirim sinyal bahaya terus-menerus ke organ tubuh, memaksa organ bekerja lembur hingga rusak. Jadi, menjaga mental sama dengan menjaga jantung dan lambungmu tetap awet.
3. Dampak pada Fungsionalitas Harian
Parameter kesehatan fisik adalah “bisa beraktivitas”. Kalau flu berat, kamu tidak bisa kerja. Gangguan mental memiliki dampak yang sama, bahkan lebih parah. Depresi berat bisa membuat seseorang tidak mampu bangun dari tempat tidur, tidak mau mandi, dan tidak bisa makan. Secara fungsional, dampaknya sama melumpuhkannya dengan cedera punggung atau demam tinggi. Keduanya sama-sama merenggut produktivitas manusia.
4. Risiko Kematian
Penyakit fisik seperti kanker atau serangan jantung bisa mematikan. Penyakit mental juga demikian. Gangguan mental yang tidak diobati adalah penyebab utama bunuh diri. Selain itu, orang dengan gangguan mental berat rata-rata memiliki harapan hidup 10-20 tahun lebih pendek dibanding populasi umum, seringkali karena penyakit fisik penyerta yang terabaikan akibat kondisi mentalnya.
5. Proses Penyembuhan yang Saling Terkait
Kamu tidak bisa sembuh total dari penyakit fisik jika mentalmu down. Studi menunjukkan pasien operasi jantung atau pasien kanker yang memiliki mental positif dan tidak depresi, memiliki tingkat kesembuhan yang jauh lebih cepat. Sebaliknya, stres memperlambat penyembuhan luka fisik. Sistem imun tubuh “mogok kerja” saat otak sedang stres berat. Jadi, merawat mental adalah bagian dari resep penyembuhan fisik.
Berhenti memisahkan kesehatan fisik dan kesehatan mental. Keduanya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Mulai hari ini, perlakukan keduanya dengan adil. Peduli tentang kesehatan mental itu bukan tanda kelemahan, itu tanda kamu paham cara merawat aset terpentingmu, yaitu dirimu Sendiri.