Young On Top

7 Cara Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

7 Cara Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

Menerima diri sendiri (Self-Acceptance) sering disalahartikan sebagai pasrah pada nasib atau malas berubah. Padahal, menerima diri adalah fondasi utama perubahan. Kamu tidak bisa memperbaiki sesuatu yang kamu benci. Jika kamu terus-menerus memusuhi dirimu sendiri, mengkritik fisik, menyesali masa lalu, atau merasa tidak cukup baik, energimu akan habis untuk berperang di dalam kepala, bukan untuk bertumbuh.

Berdamai dengan diri sendiri bukan proses satu malam, tapi bisa dilatih. Berikut adalah 7 cara belajar untuk memulainya.

Baca Juga:

7 Cara Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

1. Validasi Perasaan

Saat merasa sedih, kecewa, atau marah, jangan dilawan dengan kalimat positif palsu seperti “Ah, gini doang masa nangis, lemah banget.” Itu namanya self-gaslighting. Terimalah perasaan itu apa adanya. Katakan pada dirimu “Oke, aku sedang sedih karena gagal, dan itu wajar.” Memberi ruang bagi emosi negatif justru membuatnya lebih cepat berlalu daripada menekannya.

2. Berhenti Jadi Hakim Masa Lalu

Kita sering menghukum diri sendiri atas kesalahan 5 tahun lalu. “Coba dulu aku ambil jurusan itu,” atau “Coba dulu aku nggak putusin dia.” Ingatlah satu hal, kamu di masa lalu mengambil keputusan terbaik berdasarkan ilmu dan mental yang kamu miliki saat itu. Tidak adil menghakimi versi dirimu yang dulu dengan kebijaksanaanmu yang sekarang. Maafkan versi mudamu, dia sudah berusaha bertahan hidup sebaik mungkin.

3. Puasa Media Sosial

Musuh terbesar penerimaan diri adalah perbandingan. Melihat teman seangkatan sudah nikah, sudah jadi manajer, atau liburan ke Eropa bisa memicu rasa rendah diri (insecurity). Ingat, media sosial adalah panggung sandiwara di mana orang hanya menampilkan highlight terbaik hidupnya. Membandingkan “dapur berantakanmu” dengan “ruang tamu estetik” orang lain adalah resep penderitaan. Unfollow akun yang membuatmu merasa kecil.

4. Ubah Dialog Internal

Coba perhatikan suara di kepalamu saat kamu melakukan kesalahan. Apakah nadanya kasar seperti “Dasar bodoh!”? Bayangkan jika teman baikmu melakukan kesalahan yang sama. Apakah kamu akan memaki-makinya? Tentu tidak. Kamu pasti akan menghiburnya. Mulai sekarang, perlakukan dirimu seperti kamu memperlakukan sahabatmu. Ganti caci maki dengan kalimat suportif “Nggak apa-apa salah, namanya juga belajar.”

5. Fokus pada Kekuatan, Bukan Kelemahan

Otak manusia punya Negativity Bias, yaitu kecenderungan lebih fokus pada hal negatif. Kamu bisa mendapat 10 pujian, tapi 1 kritikan bisa bikin kepikiran seharian. Latih otakmu untuk seimbang. Ambil kertas, tuliskan 10 hal yang kamu sukai atau kuasai dari dirimu. Bisa hal kecil seperti “pendengar yang baik”, “jago bikin sambal”, atau “disiplin waktu”. Sering-seringlah membaca daftar ini saat rasa tidak percaya diri menyerang.

6. Pisahkan Tindakan dari Identitas

Saat kamu gagal ujian, itu artinya kamu gagal dalam satu kejadian, bukan berarti kamu adalah orang gagal. Saat kamu marah, itu artinya kamu sedang merasakan emosi marah, bukan berarti kamu adalah orang jahat. Label permanen (“Aku bodoh”, “Aku pemalas”) merusak konsep diri. Lihatlah kesalahan sebagai peristiwa sesaat, bukan definisi siapa dirimu selamanya.

7. Rayakan Kemenangan Kecil

Jangan menunggu sukses besar baru mengapresiasi diri. Bangun pagi tepat waktu itu prestasi. Menyelesaikan satu bab skripsi itu prestasi. Menahan diri tidak beli barang diskon itu prestasi. Memberikan penghargaan kecil setelah melakukan hal positif akan melatih otak untuk merasa berharga dan kompeten.

Menerima diri sendiri adalah tentang menjadi orang tua yang baik bagi dirimu sendiri. Ada saatnya tegas, ada saatnya lembut, tapi dasarnya adalah kasih sayang. Kamu akan menghabiskan sisa hidupmu bersama dirimu sendiri, jadi pastikan hubungan itu harmonis.

Most Reading