Young On Top

5 Alasan Kenapa Kita Sering Bandingin Diri Sendiri Sama Orang Lain

5 Alasan Kenapa Kita Sering Bandingin Diri Sendiri Sama Orang Lain

Lagi santai rebahan, buka Instagram, niatnya cari hiburan. Eh, yang muncul malah foto teman SMA baru beli mobil, teman kuliah lagi liburan ke Eropa, atau sepupu yang baru naik jabatan. Tiba-tiba, mood langsung buruk. Dada sesak, muncul suara di kepala “Kok hidup orang lain mulus banget ya? Kok gue gini-gini aja?” Padahal 5 menit lalu kamu merasa baik-baik saja. Kenapa sih otak kita jahat banget suka menyiksa diri dengan membandingkan nasib?

Ternyata, kebiasaan ini ada penjelasan ilmiahnya, lho. Dalam psikologi disebut Teori Perbandingan Sosial (Social Comparison Theory). Dan faktanya, ini bukan tanda kamu orang jahat atau pendengki, tapi karena “warisan” dari nenek moyang. Yuk, cek 5 alasan kenapa kita susah berhenti membandingkan diri!

Baca Juga:

5 Alasan Kenapa Kita Sering Bandingin Diri Sendiri Sama Orang Lain

1. Insting Bertahan Hidup

Zaman purba dulu, manusia hidup berkelompok. Kalau kamu nggak bisa berburu sebaik temanmu, atau nggak sekuat anggota suku lain, nyawamu terancam. Kamu bisa dibuang dari kelompok atau mati kelaparan. Jadi, otak kita berevolusi untuk selalu melihat ke sebelah buat memastikan posisi kita. Di zaman modern, insting ini masih nempel. Bedanya, yang kita bandingkan bukan hasil buruan, tapi gaji, jabatan, dan likes di sosmed.

2. Butuh Patokan untuk Menilai Diri

Manusia itu makhluk yang bingung kalau nggak ada ukurannya. Gimana kamu tahu kalau kamu “pintar”? Kalau nilaimu lebih tinggi dari rata-rata kelas. Gimana kamu tahu kalau kamu “kaya”? Kalau hartamu lebih banyak dari tetangga. Kita membandingkan diri untuk mengurangi ketidakpastian. Kita butuh validasi eksternal untuk mendefinisikan siapa diri kita. Sayangnya, patokan yang kita pakai terkadang tidak masuk akal dan menyulitkan diri sendiri.

3. Jebakan Ilusi Panggung

Ini alasan paling toxic di era digital. Di media sosial, orang cuma memposting momen terbaik mereka, misal pas lagi cantik, pas lagi sukses, pas lagi bahagia. Jarang ada yang posting pas lagi nangis bombay karena putus cinta atau pas lagi makan mie instan akhir bulan. Kita membandingkan dapur kita yang berantakan dengan panggung mereka yang megah. Jelas kalah telak! Itu perbandingan yang nggak adil sejak awal.

4. Dorongan untuk Upgrade Diri yang Berlebihan

Sebenarnya, ada jenis perbandingan yang positif, namanya Upward Comparison (membandingkan ke atas). Tujuannya buat inspirasi: “Wah dia bisa kurus, gue juga harus rajin olahraga ah!” Tapi kalau mental lagi nggak kuat, inspirasi ini berubah jadi intimidasi. Bukannya termotivasi, kita malah merasa kecil dan nggak mampu mengejar ketertinggalan itu.

5. Rasa Takut Tertinggal

Kita hidup di budaya yang mengagungkan pencapaian. Kalau usia 25 belum punya X, atau usia 30 belum jadi Y, kita dianggap telat. Kecemasan akan status ini bikin kita obsesif memantau pencapaian orang lain. Kita takut jadi satu-satunya orang yang gagal di angkatan kita.

Membandingkan diri itu manusiawi, tapi kalau dibiarkan liar, dia bakal jadi mencuri kebahagiaan kita. Mulai sekarang, kalau insting itu muncul, coba ubah arahnya. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain yang garis start-nya beda. Bandingkanlah dirimu hari ini dengan dirimu yang kemarin.Itu satu-satunya perbandingan yang adil dan bikin kamu bertumbuh.

Most Reading