Young On Top

Mahasiswa Aktif Organisasi Atau Fokus Akademik: Apakah Harus Pilih Salah Satu?

Mahasiswa Aktif Organisasi Atau Fokus Akademik Apakah Harus Pilih Salah Satu?

Pertanyaan ini pasti pernah mampir di kepalamu, terutama pas lagi capek-capeknya ngerjain laporan praktikum tapi grup WhatsApp organisasi bunyi terus minta rapat. Di satu sisi, orang tua berpesan: “Belajar yang rajin, cepat lulus, IPK harus Cumlaude!” Di sisi lain, senior dan influencer karir bilang: “Percuma IPK tinggi kalau miskin pengalaman dan nggak punya soft skill!”

Rasanya kayak disuruh milih: Mau jadi Mahasiswa Kupu-Kupu (Kuliah Pulang yang Fokus Akademik) atau Mahasiswa Kura-Kura (Kuliah Rapat yang Fokus Organisasi)? Padahal, kamu nggak harus memilih salah satu. Dua hal ini bukan musuh bebuyutan yang nggak bisa akur. Justru, mahasiswa yang paling “laku” di dunia kerja adalah mereka yang bisa menyeimbangkan keduanya. Gimana caranya biar nggak keteteran? Yuk, kita bedah realitanya!

Baca Juga:

Jebakan Mahasiswa yang Terlalu Akademis

Fokus kuliah itu wajib, itu amanah orang tua. Tapi kalau kamu cuma fokus di kelas doang selama 4 tahun. Maka IPK aman, tidur cukup, lulus tepat waktu (bahkan 3,5 tahun). Tapi minusnya pas lulus, CV kamu isinya cuma data diri dan daftar nilai. Pas wawancara kerja ditanya “Pernah memimpin tim?” atau “Pernah handle konflik?”, kamu bingung jawabnya. Dunia kerja butuh bukti nyata, bukan cuma teori di atas kertas.

Jebakan Mahasiswa yang Terlalu Aktif

Aktif itu bagus, tapi kalau sampai lupa tujuan utama ke kampus. Plusnya kamu punya Teman banyak, networking luas, public speaking jago, dan terlihat keren di tongkrongan. Minusnya skripsi mangkrak, sering titip absen, IPK nasib-nasiban, dan risiko terburuk bisa DO (Drop Out) atau lulus jadi “Mahasiswa Abadi”. Ingat, HRD juga bakal mikir dua kali kalau lihat transkrip nilaimu berantakan meskipun pengalaman organisasimu segudang.

Jalan Tengah yang Bisa Diambil

Ini tipe ideal. Mahasiswa yang IPK-nya decent (di atas 3.25 atau 3.50) tapi punya pengalaman organisasi yang relevan. Rahasianya bukan punya waktu lebih dari 24 jam, tapi Strategi Prioritas,

  • Akademik adalah “Makanan Pokok”, Organisasi adalah “Suplemen”. Jangan balik posisinya. Kamu bayar UKT buat belajar. Kalau kuliahmu berantakan, organisasimu nggak akan bisa menyelamatkan ijazahmu. Pastikan tugas kelar dulu baru ikut rapat.
  • Pilih Organisasi yang Berkualitas, Bukan Kuantitas. Tidak perlu ikut 5 UKM sekaligus biar kelihatan sibuk. Cukup ikut 1 atau 2 organisasi tapi kamu aktif dan berkontribusi. Misal: Kamu jurusan Kesehatan Masyarakat. Ikutlah organisasi yang berhubungan dengan pengabdian masyarakat atau riset. Jadi, ilmu di kelas langsung kepakai di organisasi. Win-win solution!
  • Manfaatkan Privilege Anak Organisasi. Biasanya anak organisasi itu dekat sama senior dan dosen. Manfaatkan koneksi itu buat tanya-tanya soal tugas kuliah, pinjam buku, atau minta bimbingan skripsi. Jangan cuma rapat proker doang, tapi rapatkan juga barisan akademikmu!
  • Berani Bilang “Tidak”. Ini soft skill mahal. Kalau besok ada ujian berat, beranilah izin tidak ikut rapat atau delegasikan tugasmu. Teman organisasi yang baik pasti mengerti kalau akademik itu prioritas. Jangan jadi People Pleaser yang mau disuruh apa aja sampai lupa belajar.

Jadi, harus pilih salah satu? Jawabannya: TIDAK. Kamu bisa jadi mahasiswa yang IPK-nya bagus DAN punya pengalaman organisasi. Kuncinya ada di Manajemen Waktu dan Tahu Batas Diri.

Dunia kampus itu tempat simulasi dunia nyata. Belajarlah menyeimbangkan tanggung jawab (kuliah) dengan minat (organisasi). Kalau kamu bisa survive menyeimbangkan keduanya sekarang, dunia kerja nanti bakal terasa lebih mudah buatmu. Semangat menjadi mahasiswa paket lengkap!

Most Reading