Young On Top

8 Skill Penting yang Sering Diremehkan Anak Muda

8 Skill Penting yang Sering Diremehkan Anak Muda

Di era digital ini, kita sering terjebak dalam perlombaan menguasai hard skill yang terlihat keren. Belajar coding, desain grafis, data analisis, sampai AI prompting. Memang sih, skill itu bikin CV kamu mentereng. Tapi, pernah nggak lihat orang yang skill teknisnya jago banget tapi karirnya mandek? Atau orang yang gajinya gede tapi uangnya selalu habis entah kemana?

Itu tandanya mereka melupakan Life Skills dan Soft Skills dasar. Skill ini sering dianggap sepele atau “bisa dipelajari sambil jalan”, padahal inilah fondasi yang bikin hidupmu kokoh. Tanpa skill ini, hard skill kamu cuma hiasan. Biar kamu nggak jadi “pintar tapi boncos”, yuk kuasai 8 skill penting yang sering diremehkan ini!

Baca Juga:

8 Skill Penting yang Sering Diremehkan Anak Muda

1. Active Listening (Mendengarkan untuk Memahami)

Banyak orang mendengarkan cuma buat menunggu giliran ngomong. Pas lawan bicara lagi cerita, di otak kita udah sibuk nyusun jawaban debat. Skill mendengarkan yang sesungguhnya (active listening) itu langka. Orang yang bisa menyimak dengan empati bakal lebih disukai bos, klien, dan pasangan. Kamu bakal paham inti masalah lebih cepat dan minim drama salah paham.

2. Literasi Finansial Dasar

Anak muda sering lompat belajar saham atau kripto, padahal mengatur cashflow bulanan aja masih berantakan. Skill mencatat pengeluaran, membedakan “butuh vs ingin”, dan menahan diri dari lifestyle inflation (gaji naik, gaya hidup ikut naik) jauh lebih penting daripada jago baca grafik saham. Percuma gaji 20 juta kalau pengeluaranmu 21 juta.

3. Writing yang Baik

“Ah, kan bukan mau jadi penulis novel.” Salah besar! Di dunia kerja, kemampuan menulis email, laporan, atau pesan WhatsApp yang jelas dan sopan itu krusial. Banyak anak muda yang chat ke atasan kayak chat ke teman tongkrongan (singkat, padat, nggak jelas). Skill menulis yang baik menunjukkan pola pikirmu yang terstruktur.

4. Mampu Menerima Kritik

Generasi sekarang sering dibilang “generasi stroberi” (kreatif tapi lembek) karena susah terima kritik. Begitu dikoreksi bos atau dosen, langsung merasa diserang personal, mental breakdown, terus resign. Padahal, kritik adalah data gratis buat upgrade diri. Skill memisahkan ego dari hasil kerja adalah kunci sukses para CEO.

5. Memasak Makanan Sederhana

Serius, ini survival skill. Mengandalkan food delivery setiap hari itu boros dan belum tentu sehat. Kamu nggak perlu jadi MasterChef. Cukup bisa masak nasi, tumis sayur, dan olah telur. Skill ini bakal menyelamatkan dompetmu saat tanggal tua dan menjaga kesehatanmu jangka panjang.

6. Deep Work (Fokus Tanpa Distraksi)

Di zaman notifikasi TikTok dan Instagram yang bunyi tiap 5 menit, kemampuan untuk duduk diam dan fokus mengerjakan satu hal selama 2 jam penuh adalah kekuatan super. Orang yang punya skill Deep Work bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dengan kualitas lebih bagus daripada mereka yang kerja sambil multitasking (baca disambi scroll sosmed).

7. Small Talk (Basa-basi Berbobot)

Banyak yang anti basa-basi karena dianggap nggak penting. Padahal, deal bisnis besar atau promosi jabatan sering dimulai dari obrolan ringan di pantry atau lift. Skill memecah keheningan dan bikin orang lain nyaman ngobrol sama kamu adalah pintu gerbang networking. Jangan jadi silent reader di dunia nyata!

8. Resilience (Tahan Banting)

Hidup nggak selalu mulus. Pasti ada fase gagal, ditolak, atau rugi. Skill untuk bangkit lagi setelah jatuh, menata mental, dan nggak berlarut-larut dalam kesedihan adalah skill paling mahal. Dunia kerja butuh orang yang solutif, bukan yang hobi mengeluh di Close Friend.

Coba cek lagi, dari 8 skill di atas, mana yang masih “merah” di rapormu? Kabar baiknya, semua skill ini bisa dilatih. Mulai dari hal kecil hari ini, mulai dari dengerin teman curhat tanpa motong, catat pengeluaran harian, atau belajar masak nasi goreng sendiri.

Jadilah paket lengkap: Hard skill jago, Soft skill oke!

Most Reading