Young On Top

5 Alasan Kenapa Anak Muda Gampang Burnout di Era Serba Cepat

Pernah nggak sih kamu merasa capek banget secara mental, padahal seharian cuma scroll HP sambil rebahan? Atau merasa tertinggal jauh sama teman-teman seumuran yang kelihatannya hidupnya sukses banget di Instagram? Di era digital yang menuntut kita buat sat-set ini, isu kesehatan mental di kalangan Gen Z dan Milenial makin urgent.

Bukan karena kita “lembek” atau “generasi stroberi”, tapi tantangan yang dihadapi emang beda level. Mulai dari tekanan ekonomi sampai ilusi media sosial, semuanya berkontribusi bikin kita gampang cemas.

Biar kamu lebih aware, berikut 5 faktor utama yang bikin anak muda jaman now gampang burnout.

Baca Juga:

5 Alasan Kenapa Anak Muda Gampang Burnout 

1. Jebakan FOMO (Fear of Missing Out)

Penyebab utama kecemasan anak muda saat ini adalah FOMO, alias takut ketinggalan momen atau tren. Media sosial bikin kita bisa melihat hidup orang lain 24 jam nonstop. Ketika melihat teman update lagi liburan ke luar negeri atau dapat kerjaan gaji dua digit, otak kita otomatis membandingkan diri sendiri dengan mereka. Akibatnya, muncul perasaan rendah diri, tidak puas dengan hidup, dan merasa “kalah start” yang berujung pada depresi.

2. Budaya Gila Kerja (Hustle Culture)

Sleep is for the weak” atau “Kerja keras bagai kuda” adalah mantra beracun yang sering kita dengar. Hustle culture memaksa kita percaya bahwa satu-satunya cara untuk sukses adalah dengan bekerja terus-menerus tanpa istirahat. Padahal, riset menunjukkan budaya ini justru pemicu utama burnout (kelelahan fisik dan mental ekstrem), gangguan tidur, hingga risiko penyakit jantung di usia muda. Ingat, produktif itu bukan berarti sibuk 24 jam!

3. Krisis Seperempat Abad (Quarter Life Crisis)

Masuk usia 20-an, tiba-tiba bingung: “Gue sebenernya mau jadi apa sih?”. Ini wajar banget terjadi. Di era ini, pilihan karir dan hidup itu terlalu banyak (paradox of choice), ditambah tekanan ekonomi dan ekspektasi sosial yang tinggi. Fase transisi dari remaja ke dewasa ini seringkali memicu kecemasan akan masa depan, keraguan diri, hingga perasaan terisolasi karena merasa teman-teman lain sudah “mapan”.

4. Banjir Informasi (Information Overload)

Otak kita sebenarnya nggak didesain buat menampung ribuan informasi setiap hari. Dari berita politik, gosip artis, sampai konten edukasi, semuanya masuk sekaligus lewat notifikasi HP. Kebanyakan informasi ini bikin otak kelelahan (cognitive overload), sulit fokus, dan gampang emosi. Istilahnya doomscrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus membaca berita buruk yang bikin cemas tapi susah berhenti.

5. Kesepian di Tengah Keramaian Digital

Punya ribuan followers di Instagram atau TikTok nggak menjamin kita punya teman beneran. Interaksi digital seringkali dangkal dan tidak bisa menggantikan koneksi emosional tatap muka. Banyak anak muda yang merasa kesepian (loneliness) meski HP-nya ramai notifikasi, karena mereka kehilangan momen “ngobrol deep” yang nyata. Rasa kesepian kronis ini dampaknya setara dengan merokok 15 batang sehari bagi kesehatan fisik dan mental.

Most Reading