Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau Sindrom Ovarium Polikistik merupakan gangguan endokrin yang paling umum dialami oleh perempuan usia reproduksi. Sayangnya, diagnosis PCOS pada remaja dan perempuan muda sering kali terlambat atau underdiagnosed. Hal ini disebabkan karena gejala klinis PCOS sering tumpang tindih dengan perubahan fisiologis normal saat masa pubertas, seperti jerawat dan siklus haid yang belum stabil.
Padahal, deteksi dini sangat krusial untuk mencegah komplikasi metabolik jangka panjang seperti Diabetes Melitus Tipe 2, hipertensi, hingga infertilitas di masa depan. Berdasarkan konsensus medis (seperti kriteria Rotterdam dan pedoman ACOG), berikut adalah 5 gejala awal yang patut diwaspadai jika menetap melewati masa awal pubertas.
Baca Juga:
- 10 Pertanyaan Umum Seputar PCOS yang Perlu Dijawab
- 10 Rekomendasi Buku Seputar PCOS dan Kesehatan Reproduksi
5 Gejala Awal Penderita PCOS
1. Oligomenore (Siklus Menstruasi yang Jarang)
Ketidakteraturan menstruasi pada 1-2 tahun pertama setelah menarche (haid pertama) memang dianggap wajar karena axis HPO (Hypothalamus-Pituitary-Ovarian) belum matang sempurna.
Namun, kondisi ini menjadi indikasi medis jika:
- Jarak antar siklus menstruasi lebih dari 35 hari atau kurang dari 21 hari.
- Mengalami menstruasi kurang dari 8-9 kali dalam satu tahun.
- Mengalami amenore sekunder (tidak haid selama 3 bulan berturut-turut setelah sebelumnya lancar).
Jika remaja putri mengalami pola ini lebih dari 2 tahun pasca-menarche, konsultasi ke dokter kandungan sangat disarankan untuk evaluasi ovulasi.
2. Jerawat Kistik yang Resisten (Persistent Cystic Acne)
Jerawat pada masa remaja adalah hal umum. Namun, jerawat pada penderita PCOS memiliki karakteristik spesifik yang berkaitan dengan hiperandrogenisme (kelebihan hormon androgen). Waspadai jika jerawat:
- Bersifat kistik, batu/bernanah, meradang, dan menyakitkan.
- Terkonsentrasi di area rahang (jawline), dagu, dan leher bagian atas.
- Resisten atau tidak membaik meskipun sudah menggunakan pengobatan topikal konvensional (obat oles) dalam jangka waktu lama.
3. Hirsutisme (Pertumbuhan Rambut Pola Pria)
Salah satu tanda klinis hiperandrogenisme yang paling sering diabaikan adalah hirsutisme. Ini bukan sekadar bulu halus biasa. Hirsutisme ditandai dengan pertumbuhan rambut terminal (kasar, tebal, dan gelap) pada area yang biasanya tumbuh pada pria, seperti:
- Atas bibir (kumis) dan dagu.
- Sekitar areola payudara.
- Garis tengah perut (linea alba) hingga pusar.
- Punggung bagian bawah.
Jika skor Ferriman-Gallwey atau metode penilaian pertumbuhan rambut menunjukkan angka di atas normal, ini adalah tanda klinis yang valid dari ketidakseimbangan hormonal.
4. Acanthosis Nigricans (Hiperpigmentasi Kulit)
Gejala ini sering kali disalah artikan sebagai daki atau kurangnya kebersihan diri, padahal ini adalah penanda kulit dari resistensi insulin yang kuat. Acanthosis Nigricans bermanifestasi sebagai bercak kulit yang menggelap, menebal, dan bertekstur seperti beludru. Area predileksinya meliputi:
- Lipatan leher belakang.
- Ketiak (aksila).
- Lipatan paha atau area di bawah payudara.
Resistensi insulin adalah salah satu patofisiologi utama PCOS, yang jika dibiarkan dapat berkembang menjadi sindrom metabolik.
5. Kesulitan Mengontrol Berat Badan
Meskipun ada tipe “Lean PCOS” (PCOS pada wanita kurus), sebagian besar penderita mengalami kesulitan signifikan dalam menurunkan berat badan meskipun telah menjaga pola makan. Penumpukan lemak biasanya terjadi secara sentral (di area perut/viseral). Hal ini berkaitan erat dengan gangguan metabolisme glukosa dan insulin. Kenaikan berat badan yang cepat dan drastis tanpa perubahan gaya hidup yang signifikan harus menjadi sinyal untuk pemeriksaan profil metabolik.
Diagnosis PCOS tidak bisa ditegakkan hanya dengan satu gejala, melainkan membutuhkan kombinasi dari riwayat keluhan, pemeriksaan fisik, dan penunjang (USG transabdominal/transvaginal serta cek laboratorium hormon).
Jika Anda atau kerabat mengalami kombinasi dari gejala-gejala di atas, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Sp.OG) atau Spesialis Endokrinologi. Penanganan dini melalui modifikasi gaya hidup dan terapi medis dapat meningkatkan kualitas hidup secara signifikan.