Young On Top

10 Mitos Seputar Jurusan Kesehatan yang Sering Bikin Salah Paham

Jurusan kesehatan sering banget dibilang “jurusan idaman mertua”. Mulai dari Kedokteran, Keperawatan, Farmasi, sampai Kesehatan Masyarakat, semuanya punya imej keren dan masa depan cerah. Tapi, di balik jas putih dan stetoskop, banyak banget mitos yang beredar di kalangan calon mahasiswa. Ada yang bilang masuknya susah setengah mati, ada juga yang bilang lulusannya auto kaya. Padahal, realitanya nggak selalu seindah atau seseram itu, lho.

Biar kamu nggak salah langkah atau shock culture pas kuliah, yuk kita bedah 10 mitos seputar jurusan kesehatan!

Baca Juga:

10 Mitos Seputar Jurusan Kesehatan

1.Mitos: Anak Kesehatan Itu Kurang Bergaul

Emang sih jadwal kuliahnya padat, praktikumnya banyak, dan laporannya numpuk. Tapi bukan berarti mahasiswa kesehatan itu zombie yang nggak pernah tidur atau nongkrong. Banyak mahasiswa kedokteran atau keperawatan yang masih aktif di organisasi, hobi olahraga, bahkan jadi content creator. Kuncinya ada di manajemen waktu. Faktanya beban kerja mental mahasiswa kesehatan memang tinggi, tapi dengan strategi coping yang tepat, keseimbangan hidup tetap bisa dicapai.

2. Mitos: Perawat Cuma “Asisten” Dokter

Ini salah kaprah paling fatal! Perawat bukan pembantu atau asisten dokter, melainkan mitra kerja. Menurut Undang-Undang Keperawatan, perawat adalah profesi mandiri yang punya tubuh keilmuan sendiri. Dokter fokus pada diagnosis dan pengobatan medis (Cure), sedangkan perawat fokus pada asuhan keperawatan dan pemenuhan kebutuhan dasar pasien (Care) selama 24 jam. Jadi, keduanya setara dan saling membutuhkan.

3. Mitos: Masuk Kesehatan Harus Jenius & Jago Matematika

Faktanya kamu nggak perlu jadi jenius buat masuk jurusan kesehatan. Kecerdasan akademik memang perlu, tapi bukan segalanya. Studi menunjukkan bahwa kesuksesan di fakultas kedokteran atau kesehatan sangat bergantung pada ketekunan, empati, dan kemampuan komunikasi. Banyak materi yang butuh pemahaman logika dan hafalan, bukan hitungan rumit ala matematika murni.

4. Mitos: Jurusan Gizi Cuma Belajar Tentang Makanan

Ini adalah kalimat yang kurang tepat, di jurusan Gizi, kamu bakal belajar biokimia, metabolisme tubuh, patofisiologi penyakit, hingga menghitung kebutuhan nutrisi molekuler. Masak hanyalah bagian kecil dari implementasi ilmu dietetik. Ahli gizi adalah saintis yang menerjemahkan sains menjadi makanan.

5. Mitos: Kesehatan Masyarakat Kerjanya Cuma di Puskesmas

Lulusan Kesehatan Masyarakat (Kesmas) itu luas banget lapangannya. Kesmas nggak cuma ngurusin penyuluhan di Posyandu. Ilmunya mencakup administrasi kebijakan kesehatan (bisa kerja di kementerian/BPJS), kesehatan lingkungan maupun K3 (di perusahaan tambang/migas), hingga epidemiologi (peneliti wabah). Jadi, prospek kerjanya bisa sampai ke level manajerial perusahaan multinasional.

6. Mitos: Kuliah Farmasi Cuma Jadi Penjaga Apotek

Apoteker itu bukan sekadar “tukang ambil obat”. Pendidikan Farmasi itu berat, lho! Kamu belajar meracik, menganalisis efek samping obat, hingga quality control di industri farmasi besar. Lulusannya bisa jadi peneliti, bekerja di industri kosmetik (skincare yang kamu pakai itu hasil kerja anak farmasi!), hingga regulator di BPOM.

7. Mitos: Biaya Kuliah Kesehatan Pasti Mahal Banget

Mahal itu relatif, dan nggak berlaku buat semua orang. Di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), ada sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang menyesuaikan dengan gaji orang tua. Banyak mahasiswa kedokteran atau kesehatan yang bayar UKT di golongan rendah (mulai ratusan sehingga 1-2 jutaan per semester) atau bahkan gratis lewat beasiswa KIP-Kuliah. Jadi, jangan minder duluan soal biaya.

8. Mitos: Lulusan Kesehatan Pasti Langsung Kaya

Kalau tujuan utamanya cuma uang, kamu bakal kecewa. Profesi kesehatan adalah profesi pengabdian. Masa pendidikannya panjang, terutama dokter yang harus koas, internship, lalu spesialis, dan gaji awalnya seringkali tidak se-fantastis yang dibayangkan orang. Kesejahteraan finansial biasanya datang seiring pengalaman dan jam terbang, bukan instan begitu wisuda.

9. Mitos: Kuliahnya Cuma Hafalan Doang

Hafalan memang banyak, tapi pemahaman logika jauh lebih penting. Saat menangani pasien, kamu nggak bisa cuma mengandalkan hafalan buku. Kamu butuh kemampuan analisis klinis (clinical reasoning) untuk menyambungkan gejala A dengan penyakit B. Tanpa logika yang jalan, hafalan seabrek nggak akan ada gunanya.

10. Mitos: Anak Psikologi Bisa Baca Pikiran

Please, berhenti minta “bacain” karakter temanmu ke anak Psikologi! Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku dan proses mental manusia melalui metode ilmiah, bukan klenik atau magic. Mereka menganalisis perilaku berdasarkan teori dan alat tes yang valid.

Kuliah di jurusan kesehatan itu menantang, tapi sangat rewarding kalau niat kamu lurus. Jangan sampai terjebak mitos yang bikin kamu takut atau malah berekspektasi ketinggian. Kalau kamu punya passion buat menolong orang dan keinginan untuk terus belajar, jurusan kesehatan adalah tempat yang tepat buat kamu. Semangat calon tenaga kesehatan masa depan!

Most Reading