Young On Top

Gagal PTN Terus Mau Gap Year? Cek Dulu Plus Minus ‘Cuti’ Setahun Biar Gak Nyesel!

Musim pengumuman penerimaan mahasiswa baru seringkali jadi momen paling deg-degan buat anak kelas 12. Bagi yang lolos, selamat! Tapi bagi yang belum beruntung di jalur SNMPTN (SNBP) atau SBMPTN (SNBT), dunia rasanya mau runtuh. Di titik ini, biasanya muncul opsi “Masuk swasta atau Gap Year ya?”

Gap Year, atau mengambil jeda waktu sebelum lanjut kuliah, sering dianggap menakutkan karena stigma “nganggur”. Padahal, di luar negeri seperti Amerika atau Inggris, ini hal yang lumrah untuk mencari pengalaman. Biar kamu nggak terjebak mitos dan makin galau, yuk bedah Plus Minus Gap Year berdasarkan riset psikologi berikut ini!

Baca juga:

Keuntungan atau Plus Gap Year

1. Waktu Emas untuk Mengenal Diri Sendiri

Selama sekolah, mungkin kamu terlalu sibuk belajar buat ujian sampai lupa nanya ke diri sendiri “Sebenarnya aku sukanya apa sih?” Gap year memberi kamu ruang untuk meningkatkan kesadaran diri. Riset menunjukkan bahwa masa jeda ini bermanfaat untuk mendewasakan diri, menemukan minat asli, hingga melatih hidup mandiri. Sehingga, pas kuliah nanti, kamu nggak bakal salah jurusan lagi.

2. Kesempatan Eksplorasi Pengalaman Baru

Gap year bukan berarti tidur seharian di kamar, ya. Ini adalah momen buat upgrade skill di luar akademik. Kamu bisa mengisi waktu dengan bekerja, magang, menjadi sukarelawan, atau belajar bahasa asing. Pengalaman “turun ke jalan” ini bakal bikin CV kamu lebih stand out dibanding teman-teman yang lurus-lurus aja kuliahnya.

3. Mental Lebih Siap dan Matang

Banyak yang burn-out karena dihajar materi sekolah 12 tahun non-stop. Mengambil jeda bisa bikin otak lebih fresh. Penelitian mencatat bahwa salah satu manfaat utama gap year adalah proses pendewasaan. Saat masuk kuliah nanti, mentalmu sudah lebih baja dan motivasi belajarmu biasanya lebih jelas dibanding maba lainnya.

Kerugian atau Minus Gap Year

1. Serangan Insecure dan Social Comparison

Ini musuh terbesar pejuang gap year. Berdasarkan survei dan wawancara pada alumni SMA yang gap year, masalah terbesar mereka adalah penilaian diri dan masalah bersosialisasi. Kamu bakal sering merasa minder, iri, atau merasa gagal saat melihat InstaStory teman-temanmu pamer almet kampus barunya. Fenomena membanding-bandingkan nasib ini disebut Social Comparison, yang terbukti bikin rasa percaya diri jadi anjlok.

2. Risiko Hilang Ritme Belajar

Otak yang lama nggak dipakai buat ngafal rumus atau baca buku tebal bisa jadi “kaku”. Salah satu kerugian yang sering dibahas adalah ketidaksiapan belajar kembali secara formal. Kalau kamu mengisi gap year cuma dengan rebahan dan main game, pas mau UTBK lagi tahun depan, rasanya bakal berat banget buat mulai belajar dari nol.

3. Stigma Negatif dan Biaya

Di Indonesia, gap year kadang masih dianggap aib atau anak yang gagal. Kamu harus siap telinga tebal menghadapi pertanyaan tetangga atau saudara “Kok nggak kuliah?”. Selain itu, kegiatan gap year tertentu seperti kursus mahal atau traveling juga bisa memakan biaya yang lumayan besar, jadi harus pintar-pintar atur strategi keuangan.

Gap Year itu ibarat pisau bermata dua. Bisa jadi kesempatan emas kalau kamu isi dengan kegiatan produktif dan rencana matang. Tapi, bisa jadi masa kelam kalau kamu terjebak rasa insecure dan nggak punya tujuan jelas. Ingat, setiap orang punya zona waktunya masing-masing. Terlambat satu tahun bukan berarti gagal seumur hidup. Jadi, kalau kamu memutuskan gap year, pastikan itu keputusanmu sendiri, bukan karena terpaksa, ya! Semangat!

Most Reading