Investasi reksadana sekarang makin populer karena modalnya bisa mulai kecil, gampang diakses lewat aplikasi, dan dikelola langsung sama manajer investasi. Tapi meski keliatan simpel, masih banyak pemula yang salah langkah saat jual beli reksadana. Kalau nggak hati-hati, alih-alih cuan malah bisa bikin rugi.
Nah, biar kamu nggak ikut-ikutan salah, yuk simak 10 kesalahan pemula saat jual beli reksadana berikut ini.
Baca juga:
- 7 Jenis Saham yang Cocok Buat Investor Pemula
- 10 Strategi Dollar Cost Averaging (DCA) dalam Investasi Saham
Kesalahan Pemula Saat Jual Beli Reksadana yang Bikin Rugi
1. Nggak Paham Jenis Reksadana
Banyak pemula langsung beli reksadana tanpa ngerti bedanya reksadana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham. Padahal tiap jenis punya risiko dan potensi return yang beda. Kalau asal beli, bisa-bisa nggak sesuai sama tujuan keuangan kamu.
2. Hanya Ikut-ikutan Tren
Lihat temen cuan dari reksadana tertentu, langsung ikut beli. Padahal kondisi keuangan, tujuan investasi, dan profil risiko tiap orang beda. Ikut-ikutan tren tanpa analisis sering bikin hasilnya nggak maksimal.
3. Salah Kaprah soal Likuiditas
Banyak yang mikir reksadana bisa dicairin kapan aja kayak tabungan. Faktanya, pencairan butuh waktu 1–7 hari kerja tergantung jenis reksadana. Kalau kamu butuh dana darurat, jangan taro semua uang di reksadana yang likuiditasnya lama.
4. Nggak Punya Tujuan Investasi
Beli reksadana cuma karena “biar duit kerja sendiri” tanpa tahu mau dipakai buat apa. Akhirnya bingung kapan harus jual. Kalau dari awal jelas tujuan (misal buat DP rumah, pendidikan anak, atau pensiun), kamu bakal lebih gampang milih produk yang pas.
5. Panik Saat Pasar Turun
Pemula sering buru-buru jual reksadana saham saat harga turun karena takut rugi. Padahal pasar emang fluktuatif, dan reksadana itu investasi jangka panjang. Kalau gampang panik, kamu malah bisa jual rugi.
6. Terlalu Sering Jual-Beli
Ada yang ngerasa makin sering jual beli reksadana bakal makin untung. Faktanya, strategi kayak gini malah bikin biaya transaksi dan pajak jadi lebih tinggi. Reksadana bukan buat trading cepat, tapi buat investasi menengah-panjang.
7. Nggak Cek Biaya-Biaya
Banyak yang lupa kalau ada biaya beli, biaya jual, sampai biaya pengelolaan (management fee). Kalau nggak diperhatiin, hasil investasi kamu bisa tergerus biaya. Jadi, selalu cek ketentuan biaya sebelum beli.
8. Semua Uang Ditaro di Satu Produk
Kesalahan umum lainnya: all in ke satu reksadana. Kalau produknya jelek, rugi semua. Diversifikasi itu wajib, misalnya kombinasi reksadana pasar uang + pendapatan tetap + saham sesuai profil risiko kamu.
9. Nggak Ngecek Rekam Jejak Manajer Investasi
Reksadana dikelola manajer investasi. Kalau kamu asal pilih tanpa lihat track record, bisa aja dapet manajer investasi yang performanya biasa-biasa aja. Cek dulu reputasi dan kinerjanya biar lebih aman.
10. Investasi Pakai Uang Panas
Banyak pemula maksa investasi reksadana pakai uang buat bayar cicilan atau kebutuhan bulanan. Akhirnya pas butuh, terpaksa jual rugi karena belum saatnya dicairkan. Ingat, reksadana cuma buat uang dingin, bukan uang harian.
Jual beli reksadana emang gampang, tapi kalau nggak ngerti cara mainnya, kamu bisa jatuh ke kesalahan yang sama kayak kebanyakan pemula. Ingat selalu: pahami produk, punya tujuan jelas, jangan panik, dan diversifikasi. Dengan begitu, peluang kamu buat cuan lebih besar, dan risiko bisa lebih terkontrol.