Di CV atau wawancara kerja, seringkali kita dengan bangga menyebut “Perfeksionis” sebagai kelebihan. Terdengarnya keren sih, seolah-olah kita adalah pekerja yang detail dan berdedikasi tinggi.
Tapi, hati-hati! Di dunia nyata yang serba cepat, perfeksionisme seringkali justru menjadi bumerang. Alih-alih menghasilkan karya masterpiece, kamu malah jadi karyawan yang lambat, stres, dan sulit diajak kerjasama. Ada pepatah bijak di dunia kerja: “Done is better than perfect.”
Kenapa sih sifat yang satu ini bisa mematikan karirmu pelan-pelan? Berikut adalah 9 alasannya!
Baca Juga:
1. Produktivitas Rendah
Perfeksionis sering terjebak memoles detail kecil yang sebenarnya nggak signifikan. Kamu bisa menghabiskan waktu 3 jam cuma buat milih font presentasi atau mikirin satu kalimat email. Akibatnya? Waktu habis, tugas utama keteteran, dan produktivitasmu secara keseluruhan jadi rendah dibandingkan rekan kerja yang kerjanya “sat-set”.
2. Hobi Menunda
Ini paradoksnya, karena ingin hasil yang sempurna, kamu jadi takut untuk memulai. Kamu menunggu waktu yang tepat, mood yang tepat, dan data yang super lengkap. Kondisi ini disebut Analysis Paralysis. Kamu kebanyakan mikir dan simulasi di kepala sampai akhirnya deadline mepet, dan hasilnya malah jadi berantakan karena dikerjakan buru-buru.
3. Rentan Mengalami Burnout
Mengejar kesempurnaan itu melelahkan, Bestie. Standar yang kamu set buat diri sendiri seringkali nggak realistis. Karena merasa harus selalu 100% di setiap hal kecil, otak dan fisikmu dipaksa bekerja ekstra keras tanpa istirahat. Lama-lama, kamu bakal kena burnout (kelelahan mental akut) dan kehilangan motivasi kerja sama sekali.
4. Sulit Mendelegasikan Tugas
Perfeksionis punya moto: “Kalau mau benar, kerjain sendiri.” Kamu nggak percaya sama hasil kerja orang lain. Akibatnya, kamu jadi micromanager yang menyebalkan buat bawahan atau rekan tim. Kamu capek sendiri karena ngerjain tugas orang lain, sementara timmu merasa nggak berkembang karena nggak dikasih kepercayaan.
5. Takut Mengambil Risiko (Minim Inovasi)
Inovasi lahir dari eksperimen, dan eksperimen itu pasti ada gagalnya. Bagi perfeksionis, kegagalan adalah aib. Karena takut salah dan takut nggak sempurna, kamu jadi main aman terus. Kamu menghindari proyek-proyek menantang yang berisiko, padahal di situlah peluang promosi biasanya berada.
6. Tidak Menerima Kritik
Kritik membangun adalah sarapan para juara. Tapi buat perfeksionis, kritik terasa seperti serangan personal yang menyakitkan. Karena kamu sudah mencurahkan segenap jiwa raga biar hasilnya sempurna, satu koreksi kecil dari bos bisa bikin kamu down berhari-hari atau malah jadi defensif. Sikap anti-kritik ini bikin kamu susah maju.
7. Kehilangan Gambaran Besar (Big Picture)
Kamu sibuk banget ngurusin satu pohon, sampai lupa kalau kamu lagi ada di hutan. Perfeksionis sering terobsesi pada detail teknis remeh, tapi lupa pada tujuan strategis bisnis (seperti: apakah laporan ini berguna buat klien?). Fokus yang salah ini bikin kinerjamu dianggap nggak efektif.
8. Tidak Pernah Merasa Puas
Meskipun bos bilang kerjamu bagus, kamu tetap merasa kurang. “Ah, itu cuma hoki,” atau “Harusnya bisa lebih bagus lagi.” Kamu nggak pernah merayakan keberhasilan kecil. Perasaan insecure ini lama-kelamaan menggerogoti kepercayaan dirimu, bikin kamu merasa nggak pantas dapat promosi atau kenaikan gaji.
9. Merusak Hubungan dengan Rekan Kerja
Jujur saja, kerja bareng orang perfeksionis itu capek. Standar tinggi yang kamu terapkan ke diri sendiri, seringkali tanpa sadar kamu tuntut juga ke orang lain. Rekan kerjamu bakal merasa tertekan, selalu disalah-salahkan, dan nggak nyaman di dekatmu. Padahal, networking dan hubungan baik adalah kunci sukses meniti karir.
Menjadi teliti itu wajib, tapi menjadi perfeksionis yang kaku itu pilihan yang salah. Mulai sekarang, belajarlah untuk menetapkan standar Cukup Baik (Good Enough) untuk hal-hal yang bukan prioritas utama. Ingat, karir itu lari maraton, bukan lari sprint. Jangan habiskan energimu di kilometer pertama hanya karena tali sepatumu kurang simetris!