Tahun pertama adalah masa paling kritis bagi bisnis apa pun. Ini adalah fase survival di mana kamu belum tentu untung, tapi pengeluaran pasti jalan terus. Kesalahan fatal pengusaha pemula biasanya satu, menganggap uang di laci kasir adalah uang milik sendiri. Padahal, itu adalah darah bagi kelangsungan hidup bisnismu.
Agar usahamu tidak layu sebelum berkembang, terapkan 8 disiplin keuangan berikut ini.
Baca Juga:
- 7 Alasan Kenapa Banyak Orang Pintar Justru Gagal Bangun Bisnis Sendiri
- 5 Kisah Penyandang Disabilitas yang Sukses Membangun Bisnis dan Komunitas
8 Tips Jitu Atur Keuangan Bisnis Kecil agar Tidak Bangkrut di Tahun Pertama
1. Jangan Mencampur Rekening Pribadi dan Bisnis
Ini adalah hukum nomor satu yang tidak boleh ditawar. Segera buat rekening terpisah, meski usahamu masih rumahan. Jika uang jajan anak dan uang beli bahan baku tercampur di satu dompet, kamu tidak akan pernah tahu apakah bisnismu sebenarnya untung atau rugi. Rekening terpisah membuatmu bisa melacak setiap rupiah yang masuk dan keluar murni untuk keperluan usaha, sehingga evaluasi bisnis menjadi akurat.
2. Gaji Diri Sendiri
Banyak pemilik bisnis merasa berhak mengambil uang kas kapan saja untuk keperluan pribadi. Ini resep kehancuran. Tetapkan gaji bulanan yang wajar untuk dirimu sendiri sebagai CEO atau Manager, misalnya sesuai UMR atau kemampuan kas bisnis. Masukkan gajimu ke dalam pos Beban Operasional. Jika di akhir bulan ada sisa uang lebih, itu adalah laba ditahan untuk modal ekspansi, bukan untuk foya-foya membeli gadget baru.
3. Catat Sekecil Apapun Pengeluaran
Jangan pernah mengandalkan ingatan. Uang parkir seribu perak, beli air galon, hingga beli lakban, semua harus dicatat.Pengeluaran kecil yang tidak terdata (invisible cost) seringkali menjadi “rayap” yang menggerogoti keuntungan tanpa disadari. Gunakan aplikasi pembukuan sederhana di HP atau buku kas manual. Disiplin mencatat adalah kunci mengetahui ke mana uangmu bocor.
4. Prioritaskan Arus Kas daripada Profit di Kertas
Di tahun pertama, Cash is King. Kamu bisa saja punya catatan profit 100 juta di kertas, tapi jika uangnya masih berupa piutang (bon) di pelanggan, bisnismu bisa macet karena tidak ada uang tunai untuk bayar listrik atau gaji karyawan. Pastikan termin pembayaran klien tidak terlalu lama. Jika perlu, minta uang muka (Down Payment) di awal untuk mengamankan biaya produksi. Jangan sampai kamu menalangi biaya terlalu besar demi mengejar omzet semu.
5. Siapkan Dana Darurat Bisnis
Bukan cuma manusia, bisnis juga butuh dana darurat. Mesin produksi bisa rusak tiba-tiba, pesanan bisa sepi mendadak, atau ada pandemi lagi. Sisihkan minimal 10-20% dari laba bersih setiap bulan ke rekening dana darurat. Targetkan untuk memiliki cadangan kas minimal 3 bulan biaya operasional, agar bisnismu tetap bisa bernafas meski tidak ada pemasukan sama sekali.
6. Tekan Biaya Tetap (Fixed Cost) Sebisa Mungkin
Jangan tergoda menyewa ruko mahal atau merekrut banyak staf di awal hanya demi gengsi. Manfaatkan garasi rumah, gunakan sistem pre-order untuk mengurangi stok mati, dan kerjakan apa yang bisa kamu kerjakan sendiri dulu. Tahun pertama adalah masa validasi pasar, jadi fokuslah pada penjualan, bukan pada kemewahan fasilitas. Semakin ramping biaya operasionalmu, semakin panjang nafas bisnismu.
7. Pahami HPP (Harga Pokok Penjualan) dengan Benar
Banyak pemula menetapkan harga jual hanya dengan mengintip harga tetangga. Ini berbahaya. Hitung HPP-mu dengan detail: bahan baku + tenaga kerja + overhead (listrik/gas/penyusutan alat). Pastikan harga jualmu sudah menutup semua biaya itu plus margin keuntungan. Jangan sampai kamu merasa laris manis, padahal sebenarnya kamu sedang “kerja bakti” atau bahkan subsidi pembeli karena salah hitung modal.
8. Lakukan Audit Rutin Tiap Bulan
Jangan menunggu akhir tahun untuk mengecek kesehatan bisnis. Luangkan waktu satu hari setiap akhir bulan untuk melakukan cek. Bandingkan pemasukan bulan ini dengan bulan lalu. Apakah biaya promosi sebanding dengan kenaikan penjualan? Apakah ada pos pengeluaran yang membengkak tidak wajar? Dengan evaluasi rutin, kamu bisa segera putar setir strategi jika ada tanda-tanda kerugian, sebelum kapalmu benar-benar karam.
Bisnis yang sukses bukan hanya soal siapa yang paling jago jualan, tapi siapa yang paling disiplin mengelola uang. Sakit memang rasanya harus berhemat dan mencatat recehan di awal, tapi itulah harga yang harus dibayar untuk membangun kerajaan bisnis yang kokoh di masa depan.