Baru juga kita bisa napas lega pasca pandemi, eh tiba-tiba muncul lagi berita soal virus baru yang bikin ketar-ketir. Namanya Virus Nipah (NiV). Virus ini sebenarnya bukan “pemain baru”. Dia sudah terdeteksi sejak tahun 1998 di Malaysia, tapi belakangan ini kembali jadi sorotan dunia karena potensi bahayanya yang besar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memasukkan virus ini ke dalam daftar prioritas karena risiko wabahnya yang serius.
Biar kamu nggak termakan hoax dan tetap waspada dengan cara yang benar, yuk simak 8 fakta kunci tentang Virus Nipah berdasarkan data ilmiah terkini!
Baca juga:
8 Fakta Kunci Tentang Virus Nipah
1. Tersangka Utamanya Adalah Kelelawar Buah
Kalau COVID-19 sempat dikaitkan dengan kelelawar, Virus Nipah ini sudah terkonfirmasi inang alaminya adalah kelelawar buah dari keluarga Pteropodidae (sering kita sebut kalong/codot). Uniknya, kelelawar ini bisa membawa virus tanpa terlihat sakit. Virusnya bisa menyebar lewat air liur atau urin mereka yang jatuh ke buah-buahan atau sumber makanan manusia.
2. Hati-Hati Minum Air Nira (Lahang) Mentah
Ini poin penting banget buat kita di Indonesia. Di Bangladesh dan India, wabah sering terjadi karena konsumsi getah kurma atau air nira yang mentah. Kelelawar buah suka banget menjilat tetesan air nira yang ditampung di pohon pada malam hari. Kalau air nira itu diminum langsung tanpa dimasak, virusnya bisa pindah ke manusia. Makanya, Kementerian Kesehatan menyarankan untuk selalu memasak air nira sampai matang sebelum dikonsumsi.
3. Babi Bisa Jadi ‘Perantara’ yang Mematikan
Di Malaysia dan Singapura, wabah besar terjadi bukan langsung dari kelelawar, tapi lewat babi. Babi yang memakan buah bekas gigitan kelelawar akan terinfeksi, lalu virusnya menyebar cepat ke babi lain lewat batuk (barking cough). Manusia (terutama peternak) kemudian tertular karena kontak erat dengan babi yang sakit tersebut.
4. Gejala Awal Mirip Flu, Tapi Bisa Fatal
Jangan remehkan demam biasa. Gejala awal infeksi Nipah ini mirip banget sama flu, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot (myalgia), muntah, dan sakit tenggorokan. Gejala ini biasanya muncul 4-14 hari setelah terpapar. Kalau dibiarkan, virus bisa menyerang otak dan menyebabkan radang otak (ensefalitis) yang bikin pusing parah, disorientasi, sampai koma dalam waktu 24-48 jam.
5. Tingkat Kematiannya Tinggi
Ini fakta yang bikin para ilmuwan khawatir. Tingkat kematian (case fatality rate) akibat Virus Nipah diperkirakan antara 40% sampai 75%. Tingginya angka ini disebabkan karena sampai sekarang belum ada vaksin atau obat khusus yang disetujui secara global. Pengobatan yang ada saat ini sifatnya hanya meredakan gejala dan isolasi ketat.
6. Penularan Antar Manusia Bisa Terjadi
Awalnya virus ini menular dari hewan ke manusia (zoonosis). Tapi, laporan dari wabah di Bangladesh dan India menunjukkan bahwa virus ini juga bisa menular dari manusia ke manusia. Penularan ini biasanya terjadi pada keluarga atau tenaga medis yang merawat pasien tanpa alat pelindung diri, lewat kontak dengan cairan tubuh pasien (seperti air liur, darah, atau urin).
7. Survivor Bisa Mengalami Efek Jangka Panjang
Sembuh dari Nipah bukan berarti masalah selesai. Fakta ilmiah menunjukkan bahwa orang yang berhasil selamat dari infeksi akut bisa mengalami efek samping jangka panjang. Beberapa survivor dilaporkan mengalami kejang-kejang yang berkepanjangan dan bahkan perubahan kepribadian akibat kerusakan saraf di otak. Seram, kan?
Gimana Statusnya di Indonesia?
Nah, ini yang paling sering ditanyakan. Sampai saat ini, belum ada laporan kasus konfirmasi pada manusia di Indonesia. Tapi, kita harus tetap super waspada. Kenapa? Karena peneliti menemukan bahwa kelelawar buah (genus Pteropus) yang membawa virus ini habitatnya juga ada di Indonesia. Jadi, risikonya tetap ada meskipun belum ada kasus.
Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Karena vaksinnya belum ada, pastikan kamu selalu mencuci buah dengan bersih, hindari makan buah yang ada bekas gigitan hewan, dan masak air nira/lahang sampai matang. Tetap tenang, jangan panik, tapi jangan abai ya!