Pernah merasa produkmu sudah paling oke, promosi sudah gencar, tapi penjualannya “gitu-gitu aja”? Hati-hati, ini bisa jadi tanda lampu kuning buat bisnismu. Seringkali, masalah utamanya bukan pada kualitas produk, melainkan pada siapa produk itu ditawarkan. Ibarat jualan sisir ke orang botak, sekeras apapun kamu berusaha, hasilnya bakal nihil. Riset menunjukkan bahwa salah membaca permintaan pasar adalah alasan nomor satu kenapa startup gagal.
Biar nggak boncos terus-terusan, yuk pastikan apakah strategimu sudah benar dengan mengecek 7 poin berikut ini!
Baca Juga:
7 Tanda Target Pasarmu Perlu Dirombak Ulang
1. Masih Menargetkan Semua Orang
Kesalahan paling klasik pengusaha pemula adalah berpikir bahwa “semua orang” adalah pembeli mereka. Padahal, jika kamu mencoba menjual ke semua orang, kamu justru lebih susah menjual-nya.Target pasar yang terlalu luas (amorphous) membuat pesan promosimu jadi tidak spesifik dan anggaran iklanmu habis sia-sia tanpa hasil yang maksimal.
2. Riset Pasar Cuma Pakai Asumsi
“Kayaknya orang bakal suka deh.” Kalimat ini berbahaya! Banyak bisnis gagal karena hanya mengandalkan asumsi tanpa melakukan validasi data. Tanpa riset yang valid (seperti survei atau wawancara), kamu berisiko menciptakan produk yang sebenarnya tidak diinginkan oleh pasar. Ingat, apa yang kamu suka belum tentu disukai pelangganmu.
3. Produkmu Tidak Memberi Solusi Konkret
Konsumen membeli produk karena mereka punya masalah yang ingin diselesaikan. Jika target pasarmu tidak merasa “terbantu” dengan produkmu, artinya ada yang salah dengan value proposition-nya. Pastikan manfaat produkmu cocok dengan kebutuhan spesifik target pasar yang kamu bidik. Kalau cuma jual fitur tanpa manfaat yang jelas, pelanggan bakal kabur.
4. Mengabaikan Pergerakan Kompetitor
Jangan main aman sendirian. Kamu wajib tahu siapa pesaingmu dan siapa yang mereka targetkan. Jika kamu buta terhadap strategi kompetitor, kamu bisa kehilangan peluang untuk mengisi celah pasar yang belum mereka layani (niche market). Menganalisis kompetitor juga membantumu memahami standar harga dan ekspektasi pelanggan di pasar tersebut.
5. Segmentasi Terlalu Luas atau Terlalu Sempit
Ini soal keseimbangan. Kalau targetmu terlalu luas, kamu bakal kalah saing sama brand besar. Tapi kalau terlalu sempit, potensi keuntunganmu jadi sangat kecil. Hindari kesalahan segmentasi demografis yang terlalu umum. Misalnya, target “Wanita usia 20-35 tahun” itu masih terlalu luas. Pertajam dengan psikografis: “Wanita usia 20-35 tahun, pekerja kantoran, yang peduli lingkungan”.
6. Tidak Mau Menerima Feedback Pelanggan
Bisnis yang bebal sama masukan pelanggan biasanya umurnya pendek. Salah satu tanda kamu salah target pasar adalah banyaknya komplain atau kurangnya respon positif dari pembeli pertama. Evaluasi opini konsumen secara rutin adalah kunci untuk mengetahui apakah produkmu sudah tepat sasaran atau perlu perbaikan. Layanan yang buruk dan tidak responsif juga bisa bikin pelanggan lari.
7. Tidak Adaptif
Pasar itu dinamis, tren berubah setiap hari. Target pasarmu hari ini bisa jadi berbeda dengan tahun depan. Bisnis yang kaku dan tidak mau beradaptasi dengan perubahan tren atau teknologi akan tertinggal. Kamu wajib memperbarui riset pelanggan secara berkala agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar masa kini.
Menentukan target pasar bukanlah tugas sekali jadi, tapi proses eksperimen yang terus-menerus. Kalau bisnismu terasa jalan di tempat, jangan ragu untuk “putar setir” dan bidik target baru yang lebih potensial.Siap bedah ulang strategi bisnismu?