Young On Top

7 Mitos soal Donor Darah yang Masih Banyak Dipercaya Padahal Salah

7 Mitos soal Donor Darah yang Masih Banyak Dipercaya Padahal Salah

Donor darah adalah tindakan kemanusiaan yang sangat mulia, namun sayangnya masih banyak orang yang ragu untuk melakukannya karena terhambat oleh berbagai informasi yang tidak akurat. Ketakutan yang muncul biasanya berakar dari mitos yang sudah beredar lama di masyarakat. Berikut adalah 7 mitos soal donor darah yang masih banyak dipercaya padahal salah.

Baca Juga:

7 Mitos soal Donor Darah yang Masih Banyak Dipercaya Padahal Salah

1. Mitos: Donor Darah Bikin Badan Jadi Gemuk

Ini adalah salah satu mitos yang paling sering terdengar. Faktanya, donor darah tidak secara langsung memengaruhi berat badan. Rasa lapar yang muncul setelah donor adalah respons tubuh untuk mengganti energi yang hilang. Faktanya: Jika kamu tetap menjaga pola makan yang seimbang setelah donor, berat badanmu tidak akan naik. Justru, donor darah membantu membakar kalori.

2. Mitos: Tubuh Akan Kehabisan Darah

Banyak yang takut lemas karena merasa darahnya dikuras habis. Padahal, volume darah yang diambil (sekitar 350–450 ml) hanya sebagian kecil dari total darah dalam tubuh. Faktanya: Tubuh manusia memiliki sistem regenerasi yang sangat cepat. Cairan darah yang hilang akan diganti dalam waktu 24 jam, dan sel darah merah akan kembali normal dalam hitungan minggu.

3. Mitos: Proses Donor Darah Itu Sangat Menyakitkan

Rasa sakit sering kali menjadi penghalang utama bagi calon pendonor. Namun, rasa sakit yang dirasakan sebenarnya sangat minimal dan hanya bersifat sementara. Faktanya: Sensasi yang dirasakan saat jarum masuk biasanya hanya seperti gigitan semut. Setelah jarum terpasang, kamu tidak akan merasakan sakit selama proses pengambilan darah berlangsung.

4. Mitos: Lansia atau Anak Muda Tidak Boleh Donor

Ada anggapan bahwa donor darah hanya untuk rentang usia tertentu yang sangat terbatas. Padahal, kriteria utamanya bukan sekadar angka usia, melainkan kondisi kesehatan secara umum. Faktanya: Siapa pun yang berusia 17 hingga 60 tahun (bahkan hingga 65 tahun untuk pendonor rutin) bisa mendonorkan darah asalkan berat badan mencukupi dan kondisi fisiknya sehat berdasarkan pemeriksaan medis.

5. Mitos: Orang yang Bertato Tidak Bisa Donor Selamanya

Banyak yang mengira sekali memiliki tato, maka kesempatan untuk mendonor tertutup permanen. Ini adalah kekeliruan yang sering menghambat calon pendonor potensial. Faktanya: Kamu tetap bisa mendonorkan darah setelah jangka waktu tertentu (biasanya 6 hingga 12 bulan) setelah pembuatan tato atau piercing, asalkan dilakukan di tempat yang steril dan hasil tes kesehatanmu dinyatakan aman.

6. Mitos: Donor Darah Bisa Tertular Penyakit Berbahaya

Ketakutan akan tertular penyakit seperti HIV atau Hepatitis saat proses donor masih menghantui beberapa orang. Hal ini didasari pada kekhawatiran penggunaan alat yang tidak bersih. Faktanya: Prosedur donor darah sangat ketat dan higienis. Setiap pendonor menggunakan satu set jarum baru yang steril dan hanya digunakan sekali (disposabel), sehingga risiko penularan penyakit antar-pendonor adalah nol.

7. Mitos: Wanita yang Sedang Menstruasi Tidak Boleh Donor

Anggapan ini sering kali membuat wanita menunda jadwal donor mereka tanpa alasan yang mendasar secara medis. Faktanya: Wanita yang sedang menstruasi tetap boleh mendonorkan darah selama mereka merasa nyaman dan kadar hemoglobin (Hb) mereka memenuhi standar minimal (biasanya 12,5 g/dL). Jika Hb rendah atau sedang merasa nyeri hebat, barulah disarankan untuk menunda.

Saran Tambahan

Sebelum mendonorkan darah, pastikan kamu sudah tidur yang cukup (minimal 5 jam) dan sudah makan setidaknya 3 jam sebelumnya. Hindari aktivitas fisik yang berat segera setelah mendonor agar tubuh bisa beradaptasi dengan volume darah yang baru.

Most Reading