Banyak kerjaan yang sebenarnya bisa cepat kelar, tapi malah ketahan karena satu hal: perfeksionis. Kamu pengen hasilnya rapi, detailnya pas, dan rasanya “oke banget” sebelum dikumpulin. Sayangnya, standar itu sering bikin kamu muter di tempat yang sama tanpa progres jelas. Padahal, kerjaan selesai itu jauh lebih penting daripada kerjaan sempurna tapi gak pernah jadi. Biar kamu gak kejebak terus, ini tujuh cara biar kerjaan bisa settle tanpa harus perfeksionis.
Baca juga:
- 10 Tips Manajemen Waktu Kuliah di UT untuk Karyawan
- 8 Cara Mengatur Keuangan Harian Biar Lebih Terkontrol
Cara Kerjaan Settle Tanpa Harus Perfeksionis
1. Tentuin Standar Cukup Beres Sejak Awal
Perfeksionis sering muncul karena kamu gak pernah nentuin batas akhir yang jelas. Semua terasa bisa diperbaiki terus, sampai akhirnya waktu habis. Daripada mikir harus sempurna, lebih baik dari awal kamu tentuin standar “cukup beres”. Selama kerjaan itu fungsinya jalan, tujuannya tercapai, dan sesuai kebutuhan, berarti sudah layak diselesaikan. Standar ini ngebantu kamu buat berhenti tepat waktu tanpa rasa bersalah.
2. Fokus Nyelesain Versi Pertama Dulu
Salah satu jebakan terbesar perfeksionis adalah nunggu versi terbaik sebelum mulai. Akhirnya kamu kebanyakan mikir dan kebanyakan nunda. Padahal, versi pertama gak harus bagus. Versi pertama tugasnya cuma satu: jadi ada. Dari situ kamu bisa lihat apa yang kurang dan apa yang bisa diperbaiki. Kalau kamu nunggu sempurna dari awal, besar kemungkinan kerjaannya gak akan jalan sama sekali.
3. Pakai Batas Waktu yang Jelas
Kalau kamu cuma ngandelin perasaan “belum puas”, kerjaan bisa berlarut-larut tanpa ujung. Batas waktu jauh lebih objektif daripada perasaan. Dengan nentuin waktu pengerjaan yang jelas, kamu dipaksa buat fokus ke penyelesaian, bukan ke detail yang terlalu kecil. Deadline bikin kamu lebih realistis dan sadar kalau gak semua hal perlu dipoles sampai titik maksimal.
4. Prioritaskan Dampak, Bukan Detail Kecil
Perfeksionis sering kehabisan energi di hal-hal yang sebenarnya gak terlalu kelihatan. Padahal, gak semua detail punya dampak besar ke hasil akhir. Coba biasain buat nanya ke diri sendiri, apakah perubahan kecil yang kamu lakukan benar-benar ngaruh atau cuma buat nenangin rasa gak puas. Kalau gak berdampak signifikan, berarti itu bukan prioritas dan bisa kamu lepas tanpa rasa bersalah.
5. Pisahin Waktu Ngerjain dan Mengevaluasi
Banyak kerjaan mandek karena kamu ngerjain sambil terus nge-judge diri sendiri. Setiap ngetik atau ngerjain sedikit, langsung dikritik dan dibenerin lagi. Cara ini bikin capek dan kehilangan flow. Lebih efektif kalau kamu pisahin waktu produksi dan waktu evaluasi. Saat ngerjain, fokus aja buat maju. Nanti setelahnya, baru kamu cek dan rapihin seperlunya.
6. Ingat Kalau Kerjaan Selesai Masih Bisa Diperbaiki
Kerjaan yang sudah selesai punya satu kelebihan besar: bisa dievaluasi dan diperbaiki. Revisi selalu mungkin dilakukan, tapi cuma kalau ada hasilnya. Sementara kerjaan yang gak pernah diselesain gak punya kesempatan apa pun buat berkembang. Daripada nyimpen hasil 100% di kepala, lebih baik keluarin versi 80% yang nyata dan bisa ditindaklanjuti.
7. Ukur Progres dari Pergerakan, Bukan Kesempurnaan
Perfeksionis sering ngerasa gak berkembang karena patokannya terlalu tinggi. Padahal, progres itu soal bergerak, bukan soal sempurna. Selama hari ini kamu lebih maju dibanding kemarin, meskipun sedikit, itu sudah termasuk kemajuan. Dengan cara pandang ini, kamu jadi lebih ringan ngejalanin kerjaan dan lebih konsisten buat nyelesain apa yang sudah kamu mulai.
Perfeksionis kelihatan seperti standar tinggi, tapi sering kali justru jadi penghambat terbesar. Kerjaan kamu gak butuh sempurna, yang dibutuhin adalah selesai dan bisa dipakai. Mulai dulu, beresin semampunya, lalu perbaiki kalau memang diperlukan. Konsistensi menyelesaikan kerjaan jauh lebih berharga daripada nunggu hasil sempurna tapi gak pernah jadi.