Sering kali kita menganggap depresi atau gangguan kecemasan selalu berwajah murung, menangis di pojok kamar, atau tidak bisa bangun dari tempat tidur. Padahal, dalam psikologi klinis, ada spektrum yang disebut High-Functioning Anxiety/Depression.
Individu dalam kategori ini tetap mampu bekerja, bersosialisasi, bahkan berprestasi, namun mengalami penderitaan internal yang signifikan. Kondisi ini sering kali lebih sulit dideteksi karena tertutup oleh kesuksesan atau keceriaan. Berikut adalah 6 penjelasan valid mengenai dinamika psikologis di balik kondisi tersebut.
Baca Juga:
- 7 Fakta Psikologis Tentang Perfeksionis yang Jarang Diketahui
- 9 Penyebab Psikologis Kenapa Kamu Butuh Pengakuan dari Orang Lain
6 Tanda High-Functioning Anxiety dan Depression yang Sering Tak Terdeteksi
1. Depresi Fungsional (High-Functioning Depression)
Berbeda dengan depresi mayor yang melumpuhkan aktivitas, orang dengan depresi fungsional (sering dikaitkan dengan Dysthymia atau Persistent Depressive Disorder) tetap memiliki energi untuk menjalani rutinitas harian. Mereka bangun pagi, pergi bekerja, dan menyelesaikan tugas dengan baik. Namun, dorongan tersebut bukan berasal dari gairah hidup, melainkan dari kecemasan akan kegagalan atau tuntutan perfeksionisme. Secara internal, mereka merasa kosong dan menjalani hidup seperti robot, meskipun secara eksternal terlihat sangat kompeten.
2. Kelelahan Emosional (Emotional Exhaustion)
Kelelahan ini berbeda dengan kelelahan fisik akibat olahraga. Ini adalah kondisi di mana kapasitas emosional seseorang terkuras habis (biasanya karena stres kronis atau terlalu banyak memendam perasaan). Tanda validnya adalah ketika tidur yang cukup tidak lagi mengembalikan energi. Anda bisa tidur 8-10 jam, namun tetap bangun dengan perasaan berat dan tidak termotivasi. Ini adalah sinyal bahwa yang butuh istirahat bukanlah otot tubuh, melainkan sistem saraf dan batin yang terlalu lama berada dalam mode siaga.
3. Mekanisme Masking (Penyamaran)
Masking adalah upaya sadar atau tidak sadar untuk menyembunyikan gejala gangguan mental agar terlihat normal di hadapan orang lain. Individu ini menghabiskan energi mental yang sangat besar untuk berakting bahagia, menahan tangis, atau memaksakan senyum saat berinteraksi sosial. Akibatnya, setelah interaksi sosial selesai, mereka mengalami crash atau kejatuhan energi yang drastis saat sendirian.
4. Anhedonia (Ketidakmampuan Merasakan Kebahagiaan)
Salah satu gejala inti dari masalah kesehatan mental yang sering diabaikan adalah Anhedonia. Ini adalah kondisi di mana seseorang kehilangan minat atau rasa nikmat pada aktivitas yang dulunya mereka sukai. Hobi, makanan favorit, atau kumpul dengan teman tidak lagi memicu rasa senang, melainkan hanya terasa datar. Hidup terlihat baik-baik saja karena rutinitas tetap berjalan, namun rasa-nya sudah hilang. Seseorang mungkin tertawa saat teman melucu, namun tawa itu hanya respons sosial, bukan ekspresi emosi yang tulus.
5. Perfeksionisme Maladaptif (Standar Diri Toksik)
Orang yang mengalami ini sering kali memiliki standar kritik diri yang sangat kejam. Mereka merasa harga diri (self-worth) mereka 100% bergantung pada pencapaian atau produktivitas. Akibatnya, mereka tidak mengizinkan diri sendiri untuk merasa sedih, lelah, atau gagal. Suara internal mereka selalu mengatakan “Kamu kurang berusaha” atau “Orang lain masalahnya lebih berat, kamu tidak berhak mengeluh”. Validasi perasaan sendiri yang terus-menerus ditolak inilah yang memicu kelelahan batin yang kronis.
6. Somatisasi (Biarkan Tubuh yang Berbicara)
Ketika pikiran menyangkali rasa sakit, tubuh sering kali mengambil alih untuk menyuarakannya. Fenomena ini disebut psikosomatis. Karena emosi negatif terus ditekandemi terlihat kuat, beban stres tersebut bermanifestasi menjadi keluhan fisik yang tidak memiliki penyebab medis jelas. Gejalanya bisa berupa sakit kepala tegang kronis, gangguan pencernaan (GERD/IBS), nyeri bahu, leher, atau dada berdebar. Tubuh Anda secara harfiah sedang memberi signal bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.
Jika Anda mengenali pola-pola di atas pada diri Anda, pahamilah bahwa penderitaan Anda itu nyata, meskipun tidak terlihat dari luar. Berfungsi tidak sama dengan Sehat. Langkah awal pemulihan bukan dengan memaksa diri lebih keras, melainkan dengan mengakui kerentanan tersebut (acknowledging vulnerability) dan mencari ruang aman, baik itu teman terpercaya atau profesional (psikolog/psikiater) untuk melepaskan topeng sejenak.