Melihat teman seangkatan satu per satu update foto pakai toga di Instagram, rasanya ada nyeri tak kasat mata di dada. Pertanyaan “Kapan wisuda?” berubah jadi teror mental yang bikin kamu insecure parah. Seringkali, reaksi pertama kita adalah menyalahkan diri sendiri: “Ah, aku emang males,” atau “Aku emang nggak pinter.”
Padahal, skripsi itu bukan cuma soal kecerdasan mahasiswa. Skripsi adalah proyek kompleks yang melibatkan banyak pihak dan faktor keberuntungan. Ada kalanya, kamu sudah berusaha 100%, tapi keadaan memang lagi nggak berpihak.
Sebelum kamu tenggelam dalam self-blame yang berujung depresi, coba cek dulu. Jangan-jangan keterlambatanmu disebabkan oleh 6 faktor eksternal ini!
Baca Juga:
6 Faktor Penyebab Skripsi Lambat Selesai
1. Dosen Pembimbing yang Sulit Dijangkau
Ini faktor klasik tapi paling lethal. Kamu rajin, naskah sudah siap, tapi Dospem (Dosen Pembimbing) kamu super sibuk, sering ke luar kota, atau tipikal yang bales chat seminggu sekali. Revisi yang harusnya selesai seminggu jadi sebulan. Ini bukan salahmu, ini masalah manajemen waktu beliau atau birokrasi kampus yang membebaninya terlalu berat.
2. Ekspektasi Terhadap Topik yang Ketinggian
Kadang masalahnya ada di pemilihan topik awal. Mungkin kamu (atau didorong Dospem) mengambil topik yang terlalu idealis, data sulit didapat, atau respondennya sangat spesifik. Niat hati pengen bikin skripsi sekelas tesis S2, eh malah jadi bumerang. Ingat mantra sakti ini: “Skripsi yang bagus adalah skripsi yang selesai.”
3. Masalah Birokrasi & Administrasi Kampus
Mau ambil data harus ada surat pengantar. Surat pengantar butuh tanda tangan Kajur. Kajur lagi cuti. Setelah Kajur balik, TU-nya yang cuti. Lingkaran birokrasi ini seringkali memakan waktu berminggu-minggu cuma buat urus satu lembar kertas. Kalau kamu telat karena nunggu tanda tangan, itu murni masalah sistem, bukan kemalasanmu.
4. Faktor Ekonomi (Kuliah Sambil Kerja)
Buat mahasiswa yang harus membiayai kuliah sendiri atau jadi tulang punggung keluarga (sandwich generation), skripsi adalah tantangan ganda. Otakmu harus dibagi dua: mikirin Teori Bab 2 dan mikirin besok makan apa. Wajar kalau progresmu lebih lambat dibanding teman yang privilege-nya cuma fokus kuliah tanpa mikirin duit. Don’t be too hard on yourself.
5. Lingkungan yang Tidak Mendukung (Toxic Circle)
Coba lihat sekelilingmu. Apakah teman kosanmu suportif? Atau malah sering ngajak main game sampai pagi. Bisa jadi mungkin kondisi rumah yang berisik dan penuh drama keluarga? Lingkungan yang toxic bisa menyedot energi mental yang harusnya dipakai buat nulis.
6. Minimnya Akses Data atau Referensi
Di era digital pun, kadang ada topik yang referensinya setengah mati dicari. Jurnal berbayar mahal, buku di perpustakaan lawas semua, atau objek penelitian mendadak bangkrut/tutup. Hambatan teknis lapangan seperti ini murni force majeure. Bukan karena kamu nggak bisa nulis, tapi “bahan”-nya yang emang langka.
Artikel ini bukan pembenaran buat kamu bermalas-malasan, ya! Tapi sebagai pengingat bahwa kamu tidak berjuang sendirian melawan kemalasanmu. Kadang lawannya adalah sistem, keadaan, atau orang lain.
Kalau masalahnya ada di faktor eksternal, solusinya bukan dengan menghukum diri sendiri, tapi dengan Strategi Komunikasi (misal: ganti judul, nego sama dosen, atau cari tempat nulis yang tenang). Tarik napas, maafkan keadaan, dan mulai ketik satu paragraf lagi hari ini. Semangat pejuang toga!