Mendapatkan IPK 3.80 atau bahkan 4.00 adalah pencapaian luar biasa. Itu bukti bahwa kamu disiplin, cerdas, dan mampu menyelesaikan tanggung jawab akademik dengan sempurna.
Namun, di lapangan seringkali ditemukan hal lain. Banyak mahasiswa dengan IPK tinggi justru bisa menjadi pengangguran dalam jangka waktu lama, atau terjebak dalam karir yang tidak mereka nikmati. Sementara itu, teman yang dulu nilainya pas-pasan (tapi aktif) malah melesat karirnya. Kenapa ironi ini bisa terjadi? Apakah sistem pendidikannya yang salah?
Bukan. Masalahnya seringkali terletak pada pola pikir (mindset) yang terbentuk selama mengejar angka tersebut. Berikut adalah 6 alasan logis kenapa IPK tinggi seringkali diikuti oleh kebingungan arah hidup.
Baca Juga:
6 Alasan Kenapa IPK Tinggi Tidak Menjamin Kesuksesan
1. Terjebak di Zona Nyaman Akademik
Kamu jago menjadi mahasiswa. Kamu tahu persis cara memuaskan dosen, cara menjawab soal ujian, dan cara menyusun makalah yang rapi. Sistem di kampus sangat terstruktur, ada silabus, ada kisi-kisi, dan ada jawaban benar/salah yang pasti. Dunia kerja itu chaos. Tidak ada silabus, tidak ada kisi-kisi, dan seringkali tidak ada satu jawaban yang benar. Mahasiswa pintar sering kaget karena skill menjawab soal ujian tidak terpakai saat harus memecahkan masalah bisnis yang abstrak dan penuh ketidakpastian.
2. Ketergantungan pada Validasi Eksternal
Selama belasan tahun sekolah, harga dirimu ditentukan oleh angka di atas kertas dan pujian guru atau dosen. Di dunia nyata, bos tidak akan memujimu setiap hari. Klien tidak peduli nilai matakuliahmu A atau B. Ketika asupan pujian itu hilang, kamu merasa kosong dan tidak berharga. Kebingungan muncul karena kamu tidak tahu siapa dirimu tanpa label “Si Pintar”.
3. Perfeksionisme yang Melumpuhkan
Karena terbiasa mendapatkan nilai A, kamu jadi takut setengah mati untuk melakukan kesalahan. Di dunia kerja dan bisnis, kesalahan adalah makanan sehari-hari untuk bertumbuh. Mahasiswa Cumlaude seringkali mengalami Analysis Paralysis, yang terlalu banyak mikir, takut ambil risiko, dan menunda melamar kerja karena merasa “belum siap 100%”. Akhirnya, mereka kalah cepat dari mereka yang berani mencoba dan berani gagal.
4. Pola Pikir Linier yang Kaku
Mahasiswa akademis cenderung berpikir lurus sesuai jalur jurusan. Padahal, realita industri sekarang sangat cair (agile). Banyak lulusan Teknik yang sukses di Perbankan, atau lulusan Pertanian yang jadi Data Analyst. Kekakuan berpikir ini menutup matamu dari ribuan peluang karir lain yang mungkin lebih cocok dengan bakat aslimu.
5. Minim Pengalaman Lapangan
Fokus mengejar IPK seringkali mengorbankan waktu untuk berorganisasi, magang, atau volunteer. Saat lulus, CV-mu penuh dengan daftar mata kuliah dengan nilai A, tapi kosong di kolom “Pengalaman Kerja”. HRD zaman sekarang lebih melirik portofolio nyata dan soft skill (kepemimpinan, negosiasi, kerjasama tim) daripada sekadar transkrip nilai.
6. Tidak Pernah Bertanya “Apa yang Saya Suka?”
Ini yang paling fatal. Kamu belajar keras bukan karena suka ilmunya, tapi karena tuntutan (orang tua, beasiswa, atau gengsi). Kamu begitu sibuk memenuhi ekspektasi orang lain sampai lupa bertanya pada diri sendiri tentang apa yang kamu sukai. Saat wisuda selesai dan tuntutan itu hilang, kamu bengong. Kamu punya ijazah, tapi tidak punya passion atau tujuan hidup sendiri.
IPK tinggi itu tiket masuk (entry ticket) yang bagus, tapi bukan jaminan tempat duduk VIP di masa depan. Jangan buang transkrip nilaimu, tapi mulailah melengkapinya. Turun ke jalan, cari pengalaman gagal, bangun jejaring, dan temukan apa yang benar-benar membuat matamu berbinar selain huruf “A” di kertas ujian.