“Skripsimu judulnya apa?” Bagi mahasiswa tingkat akhir, pertanyaan ini kadang lebih horor daripada ditanya kapan nikah. Memasuki semester akhir, ekspektasi idealis sering kali berbenturan dengan realita. Maunya sih bikin penelitian yang revolusioner, tapi pas disuruh nulis latar belakang langsung nge-blank.
Banyak mahasiswa yang terjebak di fase pencarian judul karena terlalu perfeksionis. Ujung-ujungnya, progres mandek dan jadwal wisuda terpaksa mundur. Padahal, rumus emas di dunia perkuliahan itu simpel, skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai! Biar kamu nggak buang-buang waktu scrolling repositori kampus tanpa arah, yuk terapkan 5 tips sat-set memilih topik skripsi yang menarik tapi tetap realistis ini!
- 6 Faktor Penyebab Skripsi Lambat Selesai
- Lagi Mengerjakan Skripsi? Ini 8 Tanda Kamu Butuh Istirahat Sejenak Demi Kesehatan Mental
5 Tips Memilih Topik Skripsi
1. Daur Ulang Mini-Research atau Tugas Lapangan Sebelumnya
Jangan langsung mikir kejauhan mencari topik baru. Coba bongkar lagi arsip tugas kuliah, project kelompok, atau laporan mini-research yang pernah kamu kerjakan di semester sebelumnya. Kalau kamu pernah turun langsung melakukan studi lapangan terkait penanaman tanaman obat, atau terlibat dalam observasi program pengorganisasian dan pemberdayaan masyarakat, kenapa nggak itu saja yang diperdalam? Selain kamu sudah menguasai basic isunya, data awalnya juga sudah ada di tanganmu.
2. Sesuaikan dengan Kondisi Dompet dan Waktu
Topik yang menarik itu percuma kalau bikin kamu bangkrut atau harus delay kelulusan. Sebelum mengajukan judul, hitung baik-baik biaya operasionalnya. Apakah kamu butuh biaya lab yang mahal? Apakah sampel yang harus diwawancarai mudah diakses? Kalau dana dan waktumu terbatas, pilihlah desain penelitian yang efisien, misalnya studi cross-sectional yang pengambilan datanya bisa diselesaikan dalam satu waktu.
3. ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) Jurnal Terakreditasi
Membaca jurnal terdahulu adalah jalan pintas terbaik. Cari artikel dari jurnal nasional yang terakreditasi (misalnya jurnal berstandar Sinta 5 atau 6) untuk melihat standar penelitian tingkat sarjana yang terbukti doable. Jangan memplagiasi, tapi gunakan teknik ATM. Lihat bagian “Saran” di bab kesimpulan jurnal tersebut, biasanya peneliti sebelumnya akan menuliskan kekurangan riset mereka yang bisa kamu jadikan celah untuk penelitian barumu.
4. Angkat Masalah Nyata yang Ada di Sekitarmu
Dosen sangat menyukai topik yang berangkat dari keresahan atau fenomena riil, bukan sekadar teori di awang-awang. Amati isu-isu yang sedang hangat di lingkungan terdekatmu. Misalnya, tren kebiasaan sedentary (kurang gerak) di kalangan anak kost, isu kesehatan lingkungan di area kampus, atau efektivitas kampanye promosi kesehatan di media sosial. Topik yang relatable dengan tren masa kini biasanya lebih gampang di-ACC.
5. Pastikan Referensi Melimpah untuk Menghindari Plagiasi
Mengambil topik yang sangat unik dan belum pernah diteliti orang lain memang keren, tapi risikonya kamu akan setengah mati mencari teori untuk Bab 2 (Tinjauan Pustaka). Pilihlah topik yang literatur pendukungnya sudah cukup kaya. Dengan banyaknya referensi, kamu jadi punya banyak ruang untuk menyusun parafrase kalimat yang baik, sehingga draf skripsimu aman dan persentasenya tetap rendah saat masuk ke tahap pengecekan similarity (seperti uji Turnitin) mendekati jadwal sidang nanti.
Mencari topik skripsi bukanlah ajang untuk memenangkan penghargaan Nobel. Ini adalah ajang pembuktian bahwa kamu bisa berpikir sistematis dan menyelesaikan tanggung jawab. Segera tentukan satu topik yang paling masuk akal, buat outline kerangkanya, dan langsung ajak dosen pembimbingmu berdiskusi.