Young On Top

5 Mitos soal MSG yang Masih Banyak Dipercaya

5 Mitos soal MSG yang Masih Banyak Dipercaya

Kamu perlu tahu kalau MSG (Monosodium Glutamat) adalah salah satu bahan tambahan pangan yang paling banyak disalahpahami. Padahal, secara fungsional, MSG adalah cara efisien untuk meningkatkan rasa gurih (umami) tanpa harus menambahkan terlalu banyak garam dapur. Berikut adalah 5 mitos soal MSG yang masih sering dianggap fakta.

Baca Juga:

5 Mitos soal MSG yang Masih Banyak Dipercaya

 1. MSG Adalah Bahan Kimia Berbahaya

Banyak yang mengira MSG adalah zat sintetik yang dibuat murni di laboratorium. Faktanya, MSG adalah garam natrium dari asam glutamat, salah satu asam amino yang paling banyak ditemukan di alam. Tubuh kita bahkan memproduksi glutamat sendiri, dan zat ini ada secara alami dalam tomat, keju, jamur, hingga ASI. MSG komersial saat ini umumnya dibuat melalui proses fermentasi tebu atau singkong, mirip dengan cara pembuatan tempe atau cuka.

 2. MSG Menyebabkan “Chinese Restaurant Syndrome

Mitos ini bermula dari surat seorang dokter di tahun 1968 yang mengeluh pusing setelah makan di restoran China. Namun, penelitian ilmiah skala besar selama puluhan tahun gagal membuktikan adanya hubungan langsung antara MSG dan gejala seperti pusing, mual, atau sesak napas pada populasi umum. Banyak ahli kesehatan masyarakat sekarang menganggap fenomena ini lebih ke arah reaksi psikosomatis atau sensitivitas individu tertentu terhadap natrium tinggi, bukan karena MSG-nya itu sendiri.

 3. MSG Bikin Bodoh atau “Generasi Micin”

Istilah “generasi micin” sering digunakan untuk mengejek penurunan kognitif. Namun, secara sains, glutamat dalam MSG sulit menembus sawar darah otak dalam jumlah yang signifikan melalui konsumsi makanan normal. Tidak ada bukti riset yang valid yang menyatakan bahwa konsumsi micin dalam batas wajar dapat merusak sel otak atau menurunkan kecerdasan mahasiswa. Selama kamu tetap belajar dan riset dengan giat, micin di bakso langgananmu tidak akan menghambat skripsimu.

4. MSG Mengandung Bahan Tidak Halal

Dulu sempat ada isu mengenai penggunaan enzim babi dalam proses produksi merek tertentu. Namun, saat ini produsen MSG besar di Indonesia sudah menggunakan media fermentasi nabati dan memiliki sertifikasi Halal yang sangat ketat dari MUI. Jadi, kekhawatiran soal kandungan bahan haram pada micin bermerek yang beredar resmi di pasar saat ini sudah tidak relevan lagi.

5. MSG Adalah Penyebab Utama Hipertensi

Faktanya, MSG mengandung natrium yang lebih rendah dibandingkan garam dapur (NaCl) yang mengandung sekitar 39 persen natrium. Mengganti sebagian garam dengan sedikit MSG justru bisa membantu mengurangi asupan natrium total dalam masakan tanpa mengorbankan rasa. Jadi, yang lebih berbahaya bagi tekanan darah sebenarnya adalah penggunaan garam dapur yang berlebihan, bukan micinnya.

Segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, namun menaruh ketakutan berlebih pada MSG tanpa dasar riset yang kuat juga tidak bijak bagi kita yang bergerak di bidang kesehatan.

Share the Post:

Most Reading