Seringkali masyarakat memandang penyandang disabilitas (difabel) sebagai objek amal (charity). Padahal, banyak dari mereka adalah inovator jenius yang lahir dari kebutuhan untuk bertahan hidup.
Ketika dunia tidak menyediakan fasilitas untuk mereka, mereka menciptakannya sendiri dan menjadikannya bisnis yang menguntungkan. Berikut adalah 5 figur luar biasa yang mengubah kekurangan menjadi kekuatan ekonomi dan sosial.
Baca Juga:
- 10 Tokoh Perempuan Indonesia yang Meneruskan Semangat Kartini
- 10 Film dan Buku Inspiratif tentang Perjuangan Menghadapi Trauma
5 Kisah Penyandang Disabilitas yang Sukses Membangun Bisnis dan Komunitas
1. Ralph Braun (BraunAbility)
Ralph Braun didiagnosis menderita distrofi otot sejak kecil dan dokter memvonisnya tidak akan berumur panjang. Namun, ia menolak menyerah. Karena lelah harus digendong, pada usia 15 tahun ia merancang skuter bermotor pertamanya di garasi rumah. Di usia 20 tahun, ia menciptakan lift kursi roda hidrolik pertama untuk mobil van. Ia mendirikan BraunAbility, perusahaan global pemimpin pasar dalam kendaraan yang dapat diakses kursi roda. Inovasinya memberikan kebebasan bergerak (mobility freedom) bagi jutaan pengguna kursi roda di seluruh dunia untuk bisa menyetir dan bepergian sendiri.
2. Angkie Yudistia (Thisable Enterprise)
Setelah lulus S2, Angkie melamar ke banyak perusahaan namun selalu ditolak karena kondisinya yang menderita tuli (tunarungu). Kekecewaan ini menjadi bahan bakar utamanya. Ia menyadari bahwa masalah utamanya bukan pada kemampuan kaum difabel, tapi pada ketidaktahuan perusahaan tentang cara bekerja dengan difabel. Ia mendirikan Thisable Enterprise, sebuah pusat pemberdayaan ekonomi kreatif. Perusahaannya tidak hanya melatih kaum disabilitas, tapi juga menyalurkan mereka bekerja di perusahaan besar. Angkie kini menjabat sebagai Staf Khusus Presiden RI, memperjuangkan kebijakan inklusif di level nasional.
3. Nick Vujicic (Life Without Limbs)
Sempat mencoba bunuh diri karena depresi, ia menderita Tetra-amelia, sebuah kelainan langka yang menyebabkannya hidup tanpa keempat anggota tubuh (lengan dan kaki). Nick bangkit menjadi salah satu motivator paling dicari. Ia mengubah kisah hidupnya menjadi merek global. Ia mendirikan Attitude is Altitude, sebuah perusahaan pelatihan dan motivasi bisnis. Ia menulis buku-buku best-seller internasional, menjadi pembicara berbayar di 60+ negara, dan memproduksi konten digital. Melalui organisasi nirlabanya, ia membangun komunitas anti-bullying dan memberikan harapan kepada jutaan orang yang merasa tidak berharga secara fisik.
4. Triyono (Difa Bike)
Di Yogyakarta, Triyono melihat masalah ganda, kaum difabel sulit mendapatkan pekerjaan, dan mereka juga sulit mendapatkan transportasi umum yang ramah kursi roda. Triyono menderita Polio (Daksa kaki). Ia mendirikan Difa Bike, layanan ojek online khusus difabel. Motornya dimodifikasi dengan bak samping agar bisa mengangkut kursi roda. Uniknya, driver-nya pun adalah penyandang disabilitas. Difa Bike menciptakan ekosistem di mana difabel melayani difabel dan umum, memberikan pendapatan yang bermartabat bagi para pengemudi yang sebelumnya sulit bekerja.
5. Tiffany Yu (Diversability)
Tiffany mengalami kecelakaan mobil saat kecil yang merenggut nyawa ayahnya dan melumpuhkan satu tangannya. Ia sering merasa terasing di dunia korporat yang serba cepat. Ia mendirikan Diversability, sebuah perusahaan sosial dan branding yang bertujuan untuk me-rebranding disabilitas melalui kekuatan komunitas. Diversability kini menjadi ekosistem global yang menghubungkan ribuan penyandang disabilitas untuk mendapatkan akses ke peluang karir, jejaring sosial, dan advokasi. Gerakannya berhasil membuat disabilitas menjadi topik penting di mata brand-brand besar dunia.
Kelima tokoh ini mengajarkan satu hal, keterbatasan fisik bukanlah keterbatasan visi. Bisnis mereka tidak sekadar mencari profit, tapi lahir dari empati mendalam untuk menyelesaikan masalah yang mereka alami sendiri. Mereka tidak menunggu dunia menjadi inklusif, mereka yang memaksa dunia untuk berubah.