Bekerja di lingkungan dengan rekan kerja dari berbagai latar belakang budaya dan agama (multikultural) adalah sebuah privilege. Suasananya dinamis dan penuh perspektif baru. Namun, saat bulan Ramadan tiba, dinamika ini butuh sedikit penyesuaian agar harmoni tetap terjaga.
Di satu sisi, pekerja yang berpuasa sedang menahan lapar, haus, dan emosi. Di sisi lain, pekerja yang tidak berpuasa (non-Muslim atau yang sedang berhalangan) tetap harus beraktivitas dan makan siang seperti biasa. Kalau tidak ada ground rules yang jelas, situasi ini rawan memicu drama atau rasa tidak enak hati di tempat kerja.
Toleransi itu selalu berjalan dua arah. Biar vibes kantor tetap asik, profesional, dan saling menghargai, yuk terapkan 5 etika bekerja saat puasa di kantor multikultural ini!
- 7 Tips Mengatasi Rasa Malas dan Ngantuk Pas Puasa di Tempat Kerja
- 5 Cara Menyambut Ramadan Pertama buat Kamu yang Baru Mulai Puasa
5 Etika Bekerja saat Puasa di Kantor yang Multikultural
1. Jangan Jadikan Puasa Sebagai Alasan Minta Privilege
Ini adalah aturan emas bagi kamu yang sedang berpuasa. Puasa adalah ibadah personal, bukan alasan untuk menurunkan standar profesionalisme. Jangan menuntut rekan kerja yang tidak puasa untuk menanggung sisa pekerjaanmu hanya karena kamu merasa lemas. Begitu juga soal mood. Menahan lapar bukan pembenaran untuk bersikap mudah marah atau jutek saat membalas email klien. Tetaplah bekerja sesuai porsi dan tanggung jawabmu.
2. Aturan Main Makan dan Minum di Area Terbuka
Bagi rekan kerja yang tidak berpuasa, bentuk toleransi paling sederhana adalah dengan tidak makan, minum, atau ngemil secara mencolok di meja kerja. Gunakanlah pantry, kantin, atau ruang istirahat khusus jika ingin makan siang. Sebaliknya, bagi yang berpuasa, jangan terlalu sensitif atau “baper”. Kalau ada rekan yang tidak sengaja minum air di depanmu karena refleks atau sedang sakit, maklumi saja. Kunci puasamu ada pada niat, bukan pada seberapa sepi kantormu dari orang makan.
3. Jaga Kebersihan Mulut (Personal Hygiene)
Saat berpuasa, produksi air liur berkurang drastis sehingga mulut menjadi kering dan rentan memicu bau napas yang kurang sedap. Ini sangat normal secara medis, tapi bisa mengganggu kenyamanan rekan kerja saat meeting tatap muka (offline). Etika profesionalnya: rajinlah menyikat gigi atau berkumur (tanpa menelan airnya) saat wudu, gunakan mouthwash saat sahur, dan berikan sedikit jarak saat harus berbicara dari jarak dekat dengan rekan kerjamu.
4. Hindari Pertanyaan “Kok Nggak Puasa?”
Di lingkungan multikultural, privasi adalah hal yang sangat dijunjung tinggi. Berhentilah menanyakan alasan kenapa seseorang makan di siang hari. Pertanyaan seperti “Lagi halangan (haid) ya kok nggak puasa?” atau “Loh, kamu kan Islam, kok makan?” bisa terdengar sangat invasif dan membuat tidak nyaman. Orang tersebut mungkin sedang sakit, mengonsumsi obat rutin, hamil, atau memang memiliki keyakinan yang berbeda. Hormati ruang privasi mereka.
5. Sesuaikan Ekspektasi Komunikasi dan Timeline
Bulan puasa biasanya diiringi dengan penyesuaian jam operasional kantor. Penting untuk mengomunikasikan perubahan ritme kerja ini dengan tim antardivisi, terutama jika ada anggota tim yang tidak berpuasa. Buatlah kesepakatan yang adil. Misalnya, “Tim yang puasa akan mengambil alih shift pagi agar lebih segar, sementara tim yang tidak puasa bisa handle follow-up klien di jam 3-5 sore.” Kolaborasi seperti ini memastikan tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
Etika bekerja di bulan puasa pada dasarnya hanya membutuhkan satu soft skill utama, empati. Saat pekerja yang berpuasa tetap menunjukkan kinerja terbaiknya tanpa mengeluh, dan pekerja yang tidak berpuasa menunjukkan dukungan serta toleransinya, kantor akan menjadi tempat yang nyaman dan produktif bagi siapa saja!