Kesalahan terbesar pebisnis pemula adalah berpikir produknya “bisa dipakai semua orang”. Mungkin benar semua orang bisa pakai, tapi tidak semua orang mau beli. Contoh, air mineral memang untuk semua orang. Tapi Equil membidik pasar restoran mewah, sedangkan Aqua membidik pasar ritel harian. Keduanya air, tapi segmen dan cara komunikasinya beda total.
Agar promosi bisnismu tajam seperti laser (bukan menyebar seperti lampu taman), lakukan 5 langkah segmentasi berikut.
Baca Juga:
- 7 Tanda Target Pasarmu Perlu Dirombak Ulang Sekarang Juga
- 7 Kreasi Makanan Street Food dari Singkong yang Selalu Laris di Pasaran
5 Cara Menentukan Segmentasi Pasar yang Tepat untuk Produkmu
1. Mulai dari Demografis
Ini adalah lapisan paling dasar. Kelompokkan calon pembelimu berdasarkan data fakta yang terukur.
- Usia: Apakah produkmu untuk Gen Z (18-25) atau Profesional Matang (35-45)? Bahasa iklannya pasti beda.
- Gender: Laki-laki, perempuan, atau uniseks?
- Pekerjaan: Mahasiswa, karyawan kantoran, atau ibu rumah tangga?
- Pendapatan: Apakah produkmu premium (butuh gaji tinggi) atau ekonomis (ramah kantong pelajar)?
- Contoh: Jasa cek plagiasi skripsi jelas segmen demografisnya adalah Mahasiswa tingkat akhir. Menawarkan ini ke anak SMA atau karyawan pabrik adalah buang waktu.
2. Tentukan Geografis (Lokasi & Lingkungan)
Di mana target pasarmu tinggal? Ini penting bukan cuma soal ongkir, tapi soal kebutuhan.
- Wilayah: Kota besar (Metropolitan) vs Kota kecil.
- Iklim: Menjual jaket tebal di Puncak (dingin) akan laku keras, tapi menjualnya di Surabaya atau Medan (panas terik) mungkin kurang diminati kecuali untuk fashion khusus.
- Kepadatan: Apakah mereka tinggal di apartemen sempit (butuh perabot lipat) atau rumah luas?
3. Selami Psikografis (Minat & Gaya Hidup)
Ini adalah “jiwa” dari segmentasi. Dua orang bisa sama-sama umur 20 tahun dan mahasiswa, tapi yang satu suka party, yang satu suka baca buku di kamar.
- Hobi: Suka game, suka masak, atau suka olahraga?
- Nilai (Values): Apakah mereka peduli lingkungan (eco-friendly)? Apakah mereka mementingkan gengsi (luxury)?
- Kepribadian: Introvert atau Ekstrovert?
- Contoh: Jika kamu menjual skincare penghilang bekas jerawat, target psikografismu adalah orang yang peduli penampilan tapi sedang merasa insecure. Sentuh emosi mereka di situ.
4. Analisis Perilaku
Lihat bagaimana kebiasaan mereka saat membeli atau menggunakan produk.
- Momen Pembelian: Apakah mereka beli hanya saat gajian? Saat ada diskon? Atau saat mendesak?
- Loyalitas: Apakah mereka tipe setia pada satu brand atau suka gonta-ganti?
- Manfaat yang Dicari: Apakah mereka cari Kualitas (awet) atau cari Kecepatan (instan)?
- Tips: Pelanggan yang butuh “cepat” biasanya tidak terlalu sensitif harga. Pelanggan yang butuh “murah” biasanya rela menunggu lama. Tentukan kamu mau melayani yang mana.
5. Intip Kompetitor & Cari Celah
Jangan cuma ikut-ikutan. Lihat siapa yang dilayani oleh kompetitormu, lalu cari siapa yang diabaikan.
- Jika kompetitor besar melayani semua mahasiswa, kamu bisa spesifik melayani “Mahasiswa Kedokteran yang butuh jurnal internasional”.
- Semakin spesifik segmenmu, semakin kamu dianggap ahli dan bisa mematok harga lebih tinggi.
- Action: Cek kolom komentar Instagram atau TikTok kompetitor. Lihat apa keluhan pelanggan mereka. “Kak kok pengirimannya lama?” -> Jadikan Kecepatan sebagai nilai jual utamamu untuk segmen yang tidak sabaran.
Segmentasi pasar bukanlah membatasi omzet, melainkan memfokuskan energimu. Lebih baik menjadi “Ikan besar di kolam kecil” daripada menjadi “Ikan teri di lautan luas”. Mulailah dengan membuat Satu Persona Pembeli yang sangat spesifik (misal: “Budi, 21 tahun, mahasiswa teknik, suka begadang, butuh kopi kuat yang murah”). Jika kamu bisa memuaskan Budi, orang-orang seperti Budi lainnya akan datang dengan sendirinya.