Banyak pebisnis pemula yang terjebak dalam ilusi omzet sama dengan profit. Mereka melihat uang masuk banyak di rekening, lalu merasa kaya dan membelanjakannya sesuka hati. Padahal, omzet hanyalah angka kotor. Jika tidak dikelola dengan sistem yang benar, uang itu bisa menguap begitu saja untuk membayar vendor, operasional, dan utang, meninggalkan pemiliknya dengan tangan hampa atau bahkan minus.
Agar jerih payahmu tidak sia-sia, terapkan 4 pilar manajemen keuangan bisnis berikut ini mulai hari ini.
Baca Juga:
- 8 Ide Bisnis Simpel Buat Kamu yang Gak Suka Ribet
- 7 Tips Mengatur Keuangan untuk Pemula yang Baru Gajian
4 Cara Mengelola Keuangan Bisnis Agar Tidak Rugi
1. Pisahkan Rekening Pribadi & Bisnis
Ini adalah kesalahan terbesar UMKM, mencampur uang jajan anak, uang belanja dapur, dan uang modal belanja stok dalam satu dompet atau rekening. Akibatnya fatalnya kamu tidak akan pernah tahu apakah bisnismu untung atau buntung. Solusi yang dapat dilakukan yaitu, buka rekening bank khusus bisnis. Semua penjualan masuk ke sana, semua biaya operasional keluar dari sana. Gaji Dirimu Sendiri juga jangan ambil uang sesukanya. Tetapkan gaji bulanan untuk dirimu sebagai owner (misal: Rp3 juta/bulan). Jika butuh uang pribadi, ambil dari gajimu, bukan ambil dari kas bisnis.
2. Catat Arus Kas (Cash Flow), Bukan Cuma Laba Rugi
Banyak bisnis mati bukan karena tidak untung, tapi karena kehabisan uang tunai (cash). Kamu mungkin punya profit di atas kertas (piutang pelanggan), tapi jika uang fisiknya belum masuk, kamu tidak bisa bayar gaji karyawan. Catat setiap rupiah yang keluar dan masuk. Jangan remehkan uang parkir 2.000 perak atau beli air mineral galon. Kamu juga bisa gunakan aplikasi, lupakan buku tulis. Gunakan aplikasi pencatatan keuangan gratis buatan anak bangsa seperti BukuWarung, BukuKas, atau Moodah. Aplikasi ini otomatis merekap laporan dan bahkan bisa menagih utang pelanggan via WhatsApp.
3. Terapkan Rumus Alokasi (Budgeting)
Jangan belanjakan semua uang yang ada di rekening. Buat pos-pos alokasi yang jelas agar uangmu tidak bocor. Kamu bisa adaptasi aturan 50-30-20 untuk bisnis:
- 50% Biaya Operasional: Untuk beli bahan baku, bayar listrik, sewa tempat, dan gaji karyawan.
- 30% Pengembangan Bisnis (Reinvest): Uang ini diputar balik untuk marketing (iklan), perbaikan alat, atau stok barang baru.
- 20% Laba Ditahan & Pajak: Masukkan ke tabungan terpisah sebagai cadangan modal dan persiapan bayar pajak tahunan.
4. Siapkan Dana Darurat Bisnis
Pandemi mengajarkan kita bahwa bisnis bisa berhenti total dalam semalam. Jika kamu tidak punya tabungan, bisnismu akan gulung tikar saat krisis datang. Penting untuk miliki dana tunai (cash reserve) setara minimal 3 bulan biaya operasional. Contoh, jika pengeluaran rutin bisnismu (gaji + sewa + listrik) adalah Rp10 juta/bulan, maka kamu wajib punya tabungan menganggur sebesar Rp30 juta. Dana ini hanya boleh disentuh saat kondisi genting (bencana alam, kerusakan alat vital, atau penurunan omzet drastis).
Mengelola keuangan bisnis memang terdengar membosankan dan kaku. Tapi, ketertiban inilah yang membedakan “pedagang” dengan “pebisnis”. Pedagang hanya fokus mencari uang hari ini. Pebisnis fokus menjaga agar uang hari ini bisa beranak-pinak untuk masa depan. Mulailah dari langkah termudah, bikin rekening terpisah besok pagi.