Diet bukanlah soal siapa yang paling tahan lapar, melainkan siapa yang paling pintar mengatur nutrisi. Banyak orang terjebak dalam mitos diet kuno yang justru merusak metabolisme tubuh secara permanen. Jika berat badanmu stuck atau malah naik padahal sudah merasa diet ketat, coba cek apakah kamu melakukan satu dari sepuluh kesalahan berikut ini.
Baca Juga:
- Diet Gak Harus Menyiksa! Ini 5 Cara Diet Sehat yang Baik dan Benar
- 7 Alasan Kenapa Makan Pelan Bisa Bikin Kamu Lebih Kurus Tanpa Diet Ketat
10 Kesalahan Diet yang Justru Bikin Berat Badan Naik
1. Melewatkan Jam Makan
Banyak yang berpikir dengan skip sarapan atau makan malam, kalori akan berkurang drastis. Padahal, saat kamu membiarkan perut kosong terlalu lama, tubuh akan masuk ke mode kelaparan. Akibatnya, metabolisme melambat untuk menghemat energi. Parahnya lagi, saat jam makan berikutnya tiba, otakmu akan mengirim sinyal lapar yang ganas, membuatmu makan dua kali lipat lebih banyak tanpa sadar. Pola makan teratur justru menjaga api metabolisme tetap menyala.
2. Terlalu Sedikit Makan Kalori
Memangkas kalori secara ekstrem (misalnya di bawah 1.000 kalori) adalah bumerang. Tubuhmu pintar, jika asupan energi tiba-tiba anjlok, ia akan panik dan berpikir sedang ada bencana kelaparan. Respons biologisnya adalah mempertahankan setiap gram lemak di tubuhmu sekuat tenaga agar kamu tidak mati. Jadi, makanlah sesuai kebutuhan basal tubuhmu, jangan menyiksa diri sampai lemas.
3. Terjebak Label “Low Fat” atau “Diet Food“
Jangan mudah tertipu kemasan bertuliskan “Rendah Lemak”. Makanan olahan yang lemaknya dibuang biasanya rasanya hambar. Untuk menutupi rasa itu, pabrik seringkali menambahkan gula, tepung, atau pengental kimia dalam jumlah besar. Akibatnya, kamu mungkin makan sedikit lemak, tapi justru menimbun gula yang memicu lonjakan insulin dan penumpukan lemak perut.
4. Kurang Asupan Protein
Protein itu nutrisi untuk diet. Ia memberikan rasa kenyang paling lama dibanding karbohidrat atau lemak. Jika kamu hanya makan sayur dan buah tanpa protein yang cukup (telur, ikan, tempe), ototmu akan menyusut. Padahal, otot adalah mesin pembakar lemak. Semakin sedikit ototmu, semakin lambat metabolismemu, dan semakin mudah kamu gemuk kembali.
5. Minum Kalori Tanpa Sadar
Kamu sudah makan dada ayam rebus, tapi minumannya latte manis, boba, atau jus buah kemasan. Ingat, otak manusia tidak mendeteksi kalori cair sama baiknya dengan kalori padat. Kamu bisa minum 500 kalori dalam sekejap tanpa merasa kenyang sedikitpun. Ganti minuman manismu dengan air putih, teh tawar, atau kopi hitam agar usaha dietmu tidak sia-sia.
6. “Membayar” Olahraga dengan Makanan
Pola pikir “Ah, tadi kan sudah lari 5 km, boleh dong makan pizza sepotong” adalah jebakan klasik. Seringkali kita melebih-lebihkan jumlah kalori yang terbakar saat olahraga, dan meremehkan jumlah kalori dalam makanan hadiah tersebut. Olahraga 30 menit mungkin hanya membakar 200 kalori, sedangkan sepotong kue bisa mengandung 400 kalori. Hasilnya? Surplus kalori.
7. Kurang Tidur dan Stres Tinggi
Diet bukan cuma soal mulut, tapi juga soal hormon. Saat kamu kurang tidur atau stres, tubuh memproduksi hormon kortisol secara berlebihan. Hormon ini memicu nafsu makan terhadap makanan manis dan asin, serta memerintahkan tubuh untuk menimbun lemak, terutama di area perut. Tidur 7-8 jam berkualitas sama pentingnya dengan menjaga pola makan.
8. Menghindari Lemak Sehat Sepenuhnya
Tidak semua lemak itu jahat. Tubuhmu butuh lemak untuk menyerap vitamin dan memproduksi hormon. Jika kamu memangkas habis lemak (seperti alpukat, kacang-kacangan, minyak zaitun), kamu akan merasa cepat lapar dan kulitmu menjadi kusam. Lemak sehat justru membantumu merasa kenyang lebih lama dan menjauhkanmu dari keinginan mengemil biskuit.
9. Terpaku pada Angka Timbangan
Stres karena berat badan tidak turun-turun bisa memicu makan emosional (stress eating). Padahal, jika kamu rutin olahraga, bisa jadi lemakmu berkurang tapi massa ototmu bertambah. Otot lebih berat dan padat daripada lemak. Jadi, jangan hanya melihat timbangan. Lihatlah perubahan ukuran baju atau lingkar pinggang sebagai indikator yang lebih akurat.
10. Pola Pikir Segalanya atau Tidak Sama Sekali
Ini kesalahan mental terbesar. Misalkan kamu tidak sengaja makan satu potong kue saat diet. Orang dengan mentalitas ini akan berpikir, “Yah, diet hari ini sudah gagal, sekalian aja habisin satu toples!” Jangan biarkan satu kesalahan kecil merusak progres seminggu. Jika terpeleset sekali, langsung kembali ke jalur sehat di jam makan berikutnya. Konsistensi jangka panjang jauh lebih penting daripada kesempurnaan sesaat.