Udah sebar puluhan sampai ratusan CV lewat portal lowongan kerja atau email, tapi kok nggak ada satu pun panggilan interview yang nyangkut? Jangan keburu insecure dan merasa skill kamu kurang. Bisa jadi, CV-mu bahkan belum pernah dibaca oleh mata manusia (HRD) sama sekali!
Saat ini, sebagian besar perusahaan besar menggunakan Applicant Tracking System (ATS), sebuah software penyaring kandidat. Tugas ATS adalah memindai ribuan CV dalam hitungan detik dan membuang CV yang formatnya tidak terbaca atau tidak sesuai kriteria. Secemerlang apa pun pengalamanmu, kalau CV-mu gagal “berkomunikasi” dengan robot ini, kamu bakal otomatis gugur di tahap administrasi.
Biar kerja kerasmu melamar kerja nggak berakhir sia-sia, pastikan kamu menghindari 10 kesalahan fatal pembuatan CV ATS ini!
10 Kesalahan dalam Membuat CV yang Bikin Langsung Ditolak Sistem ATS
1. Desain Terlalu Mencolok dan Kolom Ganda
Bikin CV estetik pakai template Canva dengan dua kolom (kiri untuk profil, kanan untuk pengalaman) memang memanjakan mata. Sayangnya, robot ATS membaca teks dari kiri ke kanan, lalu dari atas ke bawah. Format dua kolom akan membuat sistem membaca informasimu secara acak dan acak-acakan. Gunakan format satu kolom lurus dari atas ke bawah (single-column layout).
2. Memakai Progress Bar atau Grafik untuk Skill
Ini kesalahan desain yang paling sering dilakukan first-jobber. Saat mencantumkan keahlian, jangan pernah menggunakan grafik bulat, bintang, atau progress bar (misalnya: Copywriting 80%, Bahasa Mandarin 4/5 bintang). Sistem ATS tidak bisa membaca elemen visual. Cukup tuliskan nama skill-nya secara langsung dalam bentuk teks (bullet points).
3. Menyertakan Foto dan Elemen Ikon
Kecuali kamu melamar di industri hospitality atau posisi yang sangat perlu penampilan fisik, foto profil terkadang tidak dibutuhkan di CV ATS. Begitu juga dengan penggunaan ikon telepon atau ikon amplop untuk mengganti kata “Nomor HP” dan “Email”. Elemen grafis ini sering kali menjadi blank space (ruang kosong) saat diurai oleh sistem.
4. Salah Format File
Selalu kirimkan CV dalam format PDF standar yang teksnya bisa di-block atau di-copy. Jangan pernah mengirim CV dalam format JPG, PNG, atau PDF hasil scan dokumen cetak. Jika teksnya tidak bisa diblok menggunakan mouse, ATS menganggap kertasmu kosong melompong.
5. Penggunaan Font yang Tidak Standar
Niatnya mau terlihat kreatif dengan menggunakan font yang meliuk-liuk atau font bergaya retro. Sayangnya, ATS hanya diprogram untuk mengenali font standar universal. Main aman saja: gunakan Arial, Calibri, Times New Roman, atau Helvetica dengan ukuran 10-12 pt.
6. Melupakan Kata Kunci (Keywords) dari Lowongan
ATS menyaring kandidat berdasarkan kata kunci. Kalau lowongannya mencari kandidat dengan latar belakang “Kesehatan Masyarakat”, “Promosi Kesehatan”, atau “Epidemiology”, pastikan kata-kata presisi tersebut ada di dalam CV-mu. Jangan menggunakan istilah yang terlalu puitis atau generik yang tidak relevan dengan bahasa industri.
7. Terlalu Banyak Singkatan yang Tidak Umum
Sistem ATS mungkin tidak paham dengan singkatan lokal atau istilah kampus. Misalnya, daripada hanya menuliskan “Juara I Lomba KTI”, jabarkan menjadi “Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah”. Semakin jelas pengejaannya, semakin besar kemungkinan algoritma menangkap prestasimu.
8. Typo dan Kesalahan Ejaan
Di mata ATS, typo berarti kehilangan kesempatan. Jika perusahaan mencari skill “Microsoft Excel” tapi kamu mengetiknya “Ms. Exccel”, sistem akan menganggap kamu tidak memiliki skill tersebut karena tidak ada kecocokan karakter (0% match).
9. Format Pengalaman dan Publikasi yang Berantakan
Robot ATS mengenali pola hirarki teks. Tuliskan pengalamanmu dengan urutan kronologis terbalik (yang paling baru di atas). Gunakan format tebal (bold) secara konsisten untuk Nama Posisi, Nama Instansi/Perusahaan, dan Rentang Waktu (Bulan Tahun). Hal ini juga berlaku saat kamu mencantumkan pencapaian akademis tingkat tinggi, misalnya ketika kamu menjadi Penulis Pertama (First Author) untuk artikel jurnal atau menjadi kontributor dalam buku. Susun daftar publikasi tersebut dengan struktur yang rapi agar robot mudah mendeteksinya.
10. Penamaan File yang Sembarangan
Hal kecil yang sering dilupakan! Jangan mengirim dokumen bernama “CV_Update_Final_Banget.pdf” atau sekadar “Untitled_Document.pdf”. Mudahkan hidup HRD (ketika CV-mu berhasil lolos ATS) dengan format penamaan yang profesional, misalnya: “CV_Nama Lengkap_Posisi Yang Dilamar.pdf”.
Membuat CV ramah ATS (ATS-friendly) intinya adalah kembali ke basic, sederhana, bersih, dan berfokus pada kekuatan kata. Simpan CV estetikmu untuk portofolio atau saat interview tatap muka langsung. Di tahap administrasi, biarkan kata kuncimu yang bekerja menembus algoritma!