Young On Top

10 Cara Bangun CV dari Nol Sejak Masih Mahasiswa

10 Cara Bangun CV dari Nol Sejak Masih Mahasiswa

Salah satu mimpi buruk mahasiswa tingkat akhir adalah saat membuka laptop, mau bikin CV, tapi bingung mau nulis apa selain “Nama”, “IPK”, dan “Alamat”. “Pengalaman kerja? Belum ada. Organisasi? Males ikut. Prestasi? Biasa aja.”

Waduh, kalau begini ceritanya, siap-siap kalah saing sama ribuan fresh graduate lain. Ingat, CV itu bukan dokumen yang bisa disulap dalam semalam (SKS). CV adalah rekam jejak yang harus dicicil sejak kamu masih berstatus mahasiswa baru (Maba).

Tenang, belum terlambat! Yuk, simak 10 cara mengisi CV dari nol biar pas lulus nanti CV kamu auto “daging”!

Baca Juga:

10 Cara Bangun CV dari Nol Sejak Masih Mahasiswa

1. Pertahankan IPK

Suka nggak suka, IPK itu masih dilihat. Anggap saja IPK adalah “tiket masuk” biar CV kamu dibaca. Nggak harus 4.00 sempurna, tapi usahakan di atas 3.00 atau 3.25. Ini menunjukkan tanggung jawab dasar kamu sebagai mahasiswa. Kalau IPK jeblok, HRD mungkin ragu sama komitmen kamu.

2. Aktif di Organisasi

BEM, Hima, atau UKM bukan cuma tempat nongkrong. Ini laboratorium soft skill. Tapi ingat, jangan cuma jadi anggota pasif yang datang pas rapat doang. Incar posisi strategis (Ketua Divisi, Sekretaris, Bendahara) atau minimal jadilah staf yang punya jobdesc jelas. Pengalaman memimpin rapat atau mengatur anggaran itu mahal harganya di mata rekruter.

3. Jajal Kepanitiaan Acara (Project Management)

Kalau nggak mau komitmen jangka panjang di organisasi, ikutlah kepanitiaan event kampus (Seminar, Pensi, Lomba). Di sini kamu belajar kerja di bawah tekanan, manajemen waktu, dan problem solving nyata. Tulis di CV: “Berhasil menggalang dana sponsorship sebesar Rp20 juta” atau “Mengatur logistik untuk 500 peserta”. Angka-angka ini bikin CV-mu menarik.

4. Tugas Kuliah Bisa Jadi Portofolio

Sering dapat tugas bikin makalah, desain poster, atau coding program? Jangan langsung dibuang ke Recycle Bin! Rapikan tugas-tugas terbaikmu, simpan di Google Drive atau buat website sederhana. Itu bisa jadi portofolio awal. Ini bukti konkret bahwa kamu nggak cuma paham teori, tapi bisa praktek.

5. Ikut Lomba

“Ah, takut kalah.” Buang mindset itu. Ikut lomba (Esai, Business Plan, Debat) menunjukkan kamu punya jiwa kompetitif dan inisiatif. Kalau menang, itu prestasi. Kalau kalah, kamu tetap dapat sertifikat partisipasi dan pengalaman riset yang bisa dicantumkan di LinkedIn.

6. Cari Sertifikasi/Kursus di Luar Kampus

Kurikulum kampus kadang ketinggalan zaman. Tutup celah itu dengan ikut kursus online (Coursera, Udemy, Skill Academy, Digital Talent Scholarship Kominfo). Pilih skill praktis yang dibutuhkan industri, misal: Digital Marketing, Copywriting, atau Public Speaking. Sertifikat dari lembaga kredibel membuktikan kamu adalah pembelajar mandiri.

7. Magang Mandiri (Internship)

Ini adalah “Kartu As” mahasiswa. Jangan cuma nunggu magang wajib dari kampus. Coba cari magang saat libur semester. Walaupun mungkin unpaid (tidak dibayar) atau di startup kecil, pengalaman merasakan dunia kerja asli itu nilainya 10x lipat dari teori di kelas.

8. Kerja Part-time atau Freelance

Pernah jadi barista, guru les privat, atau jualan online? Masukkan ke CV! Banyak mahasiswa malu mencantumkan ini karena dianggap “nggak nyambung” sama jurusan. Padahal, ini menunjukkan kamu punya etos kerja, bisa mengatur uang, dan punya kemampuan komunikasi (interpersonal skill) dengan pelanggan.

9. Jadi Asisten Dosen/Lab

Kalau kamu tipe akademis, cobalah melamar jadi Asisten Dosen (Asdos) atau Asisten Praktikum. Ini menunjukkan kamu menguasai materi lebih dalam dibanding teman seangkatan dan punya kemampuan mentoring atau mengajar. Nilai plus banget kalau kamu mau melamar kerja di bidang riset atau pendidikan.

10. Bangun Personal Branding di LinkedIn

Jangan nunggu wisuda baru bikin akun LinkedIn. Mulai dari sekarang, lengkapi profilmu, pasang foto yang profesional, dan mulai berkoneksi dengan alumni atau profesional di bidang yang kamu minati. Rajin-rajin share sertifikat atau insight kuliah. Ingat, rekruter zaman sekarang suka “mengintip” kandidat lewat LinkedIn.

Membangun CV itu kayak menabung. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Jangan merasa terbebani untuk melakukan ke-10 hal ini sekaligus. Pilih 2-3 poin yang paling memungkinkan buat kamu mulai semester ini. Ingat, CV terbaik bukan yang paling panjang, tapi yang paling relevan dan menggambarkan “siapa kamu” dan “apa yang bisa kamu lakukan”. Semangat mencicil!

Most Reading